setelah kepergian riko bersama orang tuanya aku termenung di kursi ruang tamu. sampai tengah malam aku masih berdiam diri disana, pikiranku dipenuhi oleh riko. jiwa serta ragaku tak ingin berpisah dengannya begitu juga hatiku, kami sudah bersatu melebur bersama. entah apakah aku akan sanggup melihat dia menikah dengan wanita lain, membayangkannya saja aku sudah ingin mati rasanya.
aku kembali kekamar dan berbalas pesan dengan riko lalu memutuskan untuk tidur. ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang sungguh terasa begitu lelah. dalam sekejap pertahanan diri ku runtuh, hari kemarin masih berjalan normal dan aku begitu bahagia bersama riko namun kenyataan seketika berubah riko harus menikah dengan wanita yang sudah dijodohkan oleh neneknya.
lelah berfikir aku tertidur entah jam berapa sampai jam 9pagi aku baru terbangun, aku menggeliat dan langsung menuju dapur untuk sekedar membuat roti dan teh hangat. perut ku terasa sakit pagi ini, mungkin saja aku masuk angin karena sejak kemarin aku tak teratur makan.
hari ini aku bertekad akan memulai hari, dan membuat diriku terbiasa tanpa kehadiran riko. aku harus belajar karena sebentar lagi riko mutlak bukan milikku lagi. kembali terasa nyeri didada saat membayangkan hal paling menyakitkan dalam hidup ku.
.
.
"kenapa pucat bell?" tanya anggi teman dekat ku di kampus.
"masuk angin kayaknya, dua hari kemarin makan ku ga teratur nggi" perut ku terasa kian melilit aku terus mengusap perut sejak samapi di kampus.
"ini ada minyak kayu putih, ayo balurin diperut sama leher. aku minta sinta buat beliin teh hangat dia lagi di kantin"
"makasih ya"
"iya"
saat aku menyangga kepala diatas meja sinta datang dengan segelas teh hangat dan roti. mereka berdua, anggi dan sinta adalah teman yang dekat dengan ku semenjak kami sama sama baru mendaftar di sini.
"makasih ya sin"
"iya, sekalian roti ya dimakan. biar ga makin mual"
aku meminum teh hangat dan roti yang sinta bawakan dan untungnya keadaan perutku lekas membaik. akhirnya selama 4jam mengikuti materi dan praktek aku bisa bernapas lega karena hari ini terlewati. saat keluar kelas ternyata riko sudah menunggu ku di bangku yang persis menghadap kelas ku. ia tersenyum dan langsung melambai pada ku.
"kenapa kesini?" pertanyaan konyol dan pasti akan membuat riko kesal tapi entah kenapa pertanyaan itu yang keluar dari mulut ku.
"ga seneng aku jemput kamu? kamu sakit bell? wajah mu pucat banget" riko langsung khawatir dengan keadaan ku.
aku menggeleng "cuma masuk angin"
"ayo, kita cari bubur dan teh hangat" riko langsung menarik tangan ku.
.
.
"ayo makan dulu, aku buatin air hangat untuk mandi"
"ga usah rik, kamu pulang aja"
"kenapa kamu ngusir aku?" nada suara riko meninggi memang sejak tadi aku terus menyuruhnya untuk segera pulang.
"aku mau terbiasa tanpa kamu, aku mau belajar. jadi kita jangan sering ketemu aku takut nanti pas kamu sudah nikah aku belum bisa tanpa kamu"
"kami ga perlu belajar tanpa aku, karena aku akan terus sama kamu. kita akan terus sama sama"
riko pergi ke dapur dan ku dengar ia menyalakan kran dan kompor, sepertinya ia jadi membuatkan air panas untuk ku mandi. kalau sikap riko terus seperti ini aku yakin aku tak akan pernah bisa lepas dari pesonanya dan aku akan semakin terluka dengan keadaan ini.
"aku sudah mandi sekarang kamu pulang, ini juga sudah mau jam makan malam" kembali aku berusaha meminta riko untuk pulang.
"aku nanti baru pulang kalau kamu udah tidur" katanya datar sambil fokus pada layar ponsel.
aku sudah malas, percuma saja bicara dengan riko yang keras kepala. aku memutuskan untuk kembali kekamar dan tidur.
sekitar jam 2pagi aku terbangun karena haus dan betapa terkejutnya aku mendapati riko tidur dengan sangat nyenyak sambil memeluk pinggang ku. memang dasar anak ini ga bisa dikasih tau pikir ku. ku hembuskan nafas kasar karena merasa kesal pada riko kenapa ia tak mau memberi celah untuk kami sama sama belajar menerima keadaan.
"hmm, kenapa bangun sayang?" suara serak riko terdengar.
"haus" jawab ku datar.
"tunggu disi aku ambilkan" selalu saja memperlakukan aku seperti putri raja, kalau begini aku semakin tak bisa jauh darinya. setetes air mata mulai jatuh di pipi, aku kembali menangis.
"sayang, loh kenapa nangis hmm?"
aku menggeleng, tak tau harus menjawab apa.
"aku disini jangan nangis" aku langsung merasakan hangatnya dekapan riko.
"aku ga bisa tanpa kamu rik, aku ga bisa" akhirnya runtuh sudah pertahanan ku selama beberapa hari ini. aku meraung menangis sampai sesenggukan.
"ssstt" riko mengangkat wajah ku dan memberi kecupan di seluruh wajah ku. mulai dari kening pipi mata sampai ke bibir.
"kita ga akan pisah, kamu nurut sama aku seperti biasanya dan semua akan baik baik saja"
aku mengangguk, selalu begini cara riko menenangkan ku. aku akan percaya padanya 100% dan riko akan membereskan semuanya. karena selama ini riko tak pernah membiarkan aku ikut mengalami kesusahan.