riko keras

761 Kata
suasana hening, riko langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua. disana ia melihat adik perempuannya sedang mengerjakan sesuatu sambil tengkurap dikarpet bulu yang berada dibawah ranjangnya. "kak" panggil sofie. "lagi apa?" "ngerjain tugas sekolah, aku tidur disini aja ya? males dikamar" adu sofie. "iya kamu disini aja, temenin kakak takutnya nanti kakak bunuh diri" seloroh riko sambil tersenyum kecut. "jangan dong kak, nanti kasihan mba bella sedih" cicit sofie. "kamu ga sedih emangnya?" "sedih banget, tapi aku lebih kasihan sama mba bell. pengen nemenin mba bell tapi kalau kakak disini ga ada aku malah nanti si maya gangguin kakak" "kenapa kamu ngomong gitu?" "hmm" sofie tampak berfikir apakah ia akan melanjutkan perkataannya atau tidak. tapi ia merasa harus memberi tau riko tentang suatu hal. "sebenernya tadi pas papa sama mama jemput kakak, aku sempet denger maya ngobrol ditelpon dan dia kayak yang menyembunyikan sesuatu gitu. aku cuma denger sepenggal sepenggal aja karena takut ketauan" "kamu denger apa?" tanya riko penasaran. "sekilas aku denger dia ngomong pasti bakal bikin kakak untuk mau nikah sama dia karena kakak tu lebih dari kak angga. terus juga katanya rencananya pasti berhasil, cuma aku ga tau rencana apa. aku buru buru keluar takut ketauan" "pasti ada sesuatu" gumam riko. "yaudah kamu lanjutin bikin tugasnya kakak mau mandi dulu" "kakak udah lihat nenek?" "belum besok aja, kakak masih males" "hmm" riko masuk kekamar mandi, ia tak langsung membersihkan diri melainkan mengirim pesan pada bella menanyakan sedang apa kekasihnya itu. menunggu hampir 10menit tak kunjung mendapat balasan riko memutuskan untuk membersihkan dirinya dengan air hangat. saat mandi riko masih terus memikirkan cerita yang sofie sampaikan padanya sampai ia memutuskan untuk melakukan sesuatu agar bisa mengetahui adakah hal yang maya sembunyikan atau saja memiliki niat buruk. hampir setengah jam mandi akhirnya riko keluar dan ia sudah mendapati ibunya ada disana ikut duduk dikarpet bersama sofie. "makan dulu yuk kak?" ajak marini. "aku udah makan tadi dirumah bella ma" "itukan tadi sore kak, malamnya kamu belum makan" "nenek gimana?" riko menanyakan keadaanya neneknya. "masih tidur ada perawat yang menjaga." "aku masih dengan keputusan ku ma, tolong jangan halangi aku. aku akan memenuhi permintaan nenek tapi tak akan meninggalkan bella" "kak, akan semakin rumit nantinya" "ya sudah kalau ga setuju aku juga ga akan menikah dengan maya, siapa nenek dia yang ga pernah anggap kita sekarang datang semena-mena mau atur hidup ku" "kak, kita bahas besok lagi ya. mama pusing kak, mama sedih mama ga tega sama bella dia yang paling terluka disini" "makanya biarin aku nikah sama bella ma" riko mendekat pada ibunya ia bersimpuh didepan sang ibu demi mendapat ijin untuk menikahi bella. karena menurut riko hanya jalan ini pilihan satu satunya bagi ia dan bella, riko pun yakin bella tak akan menolak segala usulan yang riko ajukan. ia tau bagaimana cinta bella untuk dirinya apalagi mereka "kalau kamu nikah sama bella terus nanti nikah juga sama maya apa bella ga tambah sakit kak?" lihir marini, sejak riko meminta untuk menikah dengan bella hal itulah yang membuatnya pusing. "yang penting mama papa setuju, bella urusan ku" "kak, mama ga tau pilihanmu akan berhasil atau ga. papa dan mama ingin kamu sama bella tapi keadaan yang membuat kami tak bisa berbuat banyak. mama pun tak tau maya gadis yang seperti apa" kembali marini menunduk, air matanya sudah menggenang dipelupuk mata. riko tetap bersikeras dengan keinginannya, ia yang selalu menurut pada ayahnya kali ini ingin berontak karena ia tau kedua orangtuanya pun setuju hanya saja semua orang sedang memikirkan kesehatan nenek. ting pesan masuk di diponsel riko ia langsung memeriksa apakah bella yang membalas. "aku tadi ada telpon, orang pesen baju buat acara jadi baru balas. kamu sudah sampai rumah?" balas bella. "sudah, aku juga sudah mandi. aku kangen kamu sayang, besok siang pulang kuliah aku mampir. kamu mau aku bawakan apa?" "aku ga pengen apa apa, kamu ga usah kerumah dulu rik. urus nenek dulu aja, kasihan" "aku akan tetap datang sayang, kamu ga bisa larang aku" riko yang keras kepala memang tak bisa dibantah jadi bella tak lagi membalas karena hanya akan terjadi perdebatan saja. masa bersama dengan riko yang lumayan lama membuat keduanya mengerti karakter satu sama lain. "miss you baby, aku selalu rindu kamu. semoga saja kerja keras ku kemarin seharian membuahkan bayi ya" riko kembali mengirim pesan pada bella. diseberang sana bella yang mendapat pesan dari riko seketika tubuhnya menegang bagaimana ia tak sadar kalau kemarin mereka bermain tanpa pengaman bahkan riko selalu menyirami rahimnya dengan s****a kental milik riko. mati aku, kalau sampai hamil pasti akan semakin rumit ceritanya gumam bella sambil mendekap perutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN