jangan usir aku

806 Kata
setelah makan riko masih betah berdiam diri didalam kamar ku, ia seperti tak memiliki gairah hidup. aku pun sama dengannya tapi tak sedikitpun aku berusaha mendekatinya untuk sekedar menghibur, aku menjauh mencari kesibukan yang bisa mengalihkan perasaanku yang sampai saat ini masih saja belum bisa menerima kalau kisah ku dan riko harus berakhir. kring kring kring nada panggilan diponsel ku berbunyi nama tante marini tertera disana. aku segera mengangkatnya dan sempat terlibat obrolan dengannya sebentar. "bell" "ya tante, ada apa ya?" tanya ku hati hati. "riko masih disana? apa dia sudah makan?" "iya tante, riko masih disini. dia baru aja makan, sekarang balik kekamar ku. tapi ga tau dia tidur atau ngapain, soalnya aku diteras samping" "owh, boleh tante minta tolong bell?" "ya tante apa?" "tolong suruh riko pulang, soalnya tante telpon ga diangkat dari tadi. ini neneknya riko ngamuk semua barang dibanting, dia mau riko pulang" "iya tante, aku kekamar dulu ya" "makasih ya bella, maafin tante" "sama sama tante" tut tut tut ceklek, ku buka pintu kamar dimana riko saat ini sedang duduk bersandar di tengah ranjang. "sayang" panggil riko saat melihat ku mendekat. "sini aku mau peluk" riko merentangkan kedua tangannya agar aku masuk kedalam pelukannya yang selalu menjadi kesukaan ku. aku berjalan mendekat kearah ranjang dimana riko berada sekarang, pandangan ku tak lepas menata wajahnya entah kenapa seperti setelah ini aku tak akan pernah bisa lagi menatap wajah pria yang sudah empat tahun ini bersama ku. "jangan suruh aku pulang ya, aku mau disini sama kamu" riko memeluk ku erat. "tapi kamu harus pulang rik, tante marini bilang nenekmu mengamuk semua barang dibanting dia mau kamu pulang" aku mencoba menjelaskan pada riko tapi ia hanya menggeleng tetap tak mau pulang. "sayang, pulang dulu ya. kalau sekarang kamu ga pulang yang ada aku kena masalah. kamu harus pikirin semuanya, aku pun ga mau kita pisah tapi semuanya harus terjadi. kuat rik, aku sama sakitnya dengan kamu" "aku mau nikah dulu bell, aku mau kamu bukan maya" "sayang" "aku ga akan pulang, titik." akhirnya ku biarkan riko tetap dirumah, saat ia sudah terlelap aku berusaha lepas dari dekapannya dan menelpon tante marini. "halo tante" "ya bell gimana?" "aku udah bujuk riko tan, tapi dia nolak buat pulang. aku ga berani maksa" "ya sudah biar tante dan om yang kesana bell" "maafin bella tante" "kamu ga salah sayang" akhirnya setelah hampir setengah jam kedua orang tua riko sampai dirumah ku, sekarang sudah jam delapan malam. saat kami sedang mengobrol diruang tamu riko keluar dari dalam kamar ku nampaknya ia baru bangun dari tidurnya. "mama sama papa ngapain disini?" "pulang dulu yuk kak, nenek mu ngamuk dari pagi. tadi mau tenang karena disuntik obat penenang sama dokter" jelas tante marini, wajahnya nampak sedih ia merasa serba salah dengan kondisi ini. "mama sama papa juga mau pisahin aku sama bella?" ku lihat wajah riko berubah merah riko mulai marah. "rik duduk dulu yuk, kita ngobrol" aku menarik tangan riko untuk duduk. "rik, papa sama mama sudah bicara dengan bella. dan dia mau kamu tetap menikahi maya" riko menatap ku tajam, ia meremas tangan ku dengan sangat kuat sampai membuat jari jari tangan ku seperti remuk. "rik sakit" lihir ku. "kamu mau nyerahin aku gitu aja ke orang lain? kenapa kamu tega bell?" "rik, aku ga mau sampai nenek kenapa napa karena kita tetep maksa untuk bertahan sama hubungan kita. tante sama om udah cerita kalau sebenarnya nenek ga lagi baik baik aja kesehatannya, anggap aja ini sebagai permintaan terakhirnya" aku menunduk air mataku mulai banjir. "jangan usir kau bella, aku mau disini sama kamu. aku ga mungkin nikahin maya sementara kita sudah sejauh ini bella" riko terlihat frustasi saat ini. "jangan pikirin aku rik, nenek mu lebih penting" aku berusaha tegar didepan riko walau hatiku sangat terluka. "pulang rik" kembali aku bersuara. riko terus menggeleng, ia menolak ia terus menggenggam tangan ku. "kenapa mama sama paa setega ini sama aku? kalian tau gimana aku sayang bella, aku ga mungkin hidup tanpa bella" "kak, nenek mu drop kalau emosinya seperti tadi pagi lagi bisa saja ......." tante marini tak melanjutkan ucapannya. "mama mau kamu sama bella tapi mama ga punya kuasa kak" "pulang dulu rik, seenggaknya sampai nenek mu tenang. papa akan cari cara lagi untuk hubungan mu dan bella" "nikahkan aku dengan bella pa" "rik" aku dan tante marini sama terkejut dengan permintaan riko. "nikahkan aku dengan bella dulu pa, baru aku mau menuruti permintaan nenek. aku mau berkorban tapi nenek pun harus mau menuruti keinginan ku" "dan satu lagi aku ga mau nikah siri, aku mau nikah secara sah sama bella" "kita bicarakan dirumah rik, papa lelah biarkan juga bella istirahat dulu" pembicaraan yang sangat alot akhirnya membuat riko mau pulang malam ini namun ia banyak memberi larangan pada ku sampai ke hal yang sepele. aku hanya mengangguk supaya riko tak lagi mengurungkan niatnya untuk pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN