aku dan riko duduk di balkon, kami duduk saling berhadapan. riko menggenggam tangan ku erat kami masih menangis mulut ku terkunci rapat hanya air mata saja yang terus keluar.
"sayang"
aku mendongak sambil mengusap kebasahan di pipi lembut kekasih hatiku. sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan namun sesak didada menahan suara ku untuk keluar.
"aku cinta kamu, aku mau nikah sama kamu. tapi nenek mengancam akan berhenti untuk berobat dan bila itu dilakukan maka nenek akan ....." sebelum riko melanjutkan ucapannya aku menarik riko kedalam pelukan. aku memeluk tubuh yang sebentar lagi bukan hak ku lagi.
"menikahlah dan kita berakhir. aku tak mau sampai nenek berbuat nekat, besok subuh subuh aku pulang sekarang sudah terlalu malam" aku berkata seolah olah aku baik baik saja padahal hati ku serasa dihujam ribuan panah.
"sayang"
"rik, aku cinta kamu. sangat cinta, tapi kita tak boleh egois dengan bertahan tapi nenek mu yang harus berbuat nekat"
"aku ngantuk, yuk istirahat" aku menarik riko kedalam karena sejak tadi aku tau maya berdiri di balkon kamar sofie dia menguping pembicaraan ku dengan riko.
sofie sudah tidur karena ia besok harus sekolah. aku mengambil posisi ditengah ranjang dan riko berbaring disebelah ku. tubuhku langsung direngkuh dan riko memeluk ku begitu erat, tak banyak kata yang kami ucapkan tapi bahasa tubuh kami sudah mengisyaratkan betapa kami terluka kami saling mencintai namun harus berpisah.
sudah pukul 4pagi aku harus segera pulang, tapi ingin memasak sarapan terlebih dahulu karena aku memang biasa memasak untuk riko dan keluarganya bila menginap disini. hari ini aku membuat capcay bakso ayam goreng dan nasi goreng karena itu menu sarapan kesukaan riko. aku sering membuatkannya untuk riko bila ia sedang main dirumah ku. aku ingin masak untuk yang terakhir kalinya aku ingin riko kenyang dengan masakan ku.
tepat jam 6pagi aku selesai di dapur dan aku sudah membereskan semuanya lalu saat aku akan pergi tampak bi asih art dirumah riko masuk ke dapur bersih tempat ku memasak tadi.
"non bella" panggilnya
"bibi, bella sudah masak. bibi tinggal buat minuman dan menyiapkan semuanya dimeja makan saja. bella mau pamit ya bi, mungkin setelah ini bella ga akan ketemu bibi lagi" ujar ku sendu.
"non, non bella yang tabah ya" terdengar tulus perkataan bi asih.
"makasih ya bi, bella pamit"
aku bergegas pergi dan menunggu taksi pesanan ku di luar pagar rumah besar milik mantan kekasih ku. selamat tinggal rik, terimakasih 4tahun ini kamu sangat baik padaku aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun sampai aku mati.
"atas nama bella safitri?" tiba tiba sudah ada taksi yang berhenti di depan ku.
"iya pak saya" aku langsung masuk dan duduk didalam taksi.
"alamat sesuai aplikasi ya mba?"
"iya pak"
*****
aku bangun tak menemukan bella disamping ku, kemana dia pikir ku. sudah jam 7pagi pasti bella dibawah. aku bergegas bangun dan turun keruang makan disana sudah berkumpul semua tapi tak ada bella.
"yang masak bella bi?" tanyaku pada bi asih saat dia sedang membawa s**u untuk sofie.
"iya den, semuanya non bella yang masak saya cuma nyiapin dan buat minum saja" jelas bi asih.
"sekarang bella kemana ma?" aku balik bertanya pada mama.
"sudah pulang, pas mama keluar kamar bella sudah ga ada" mama terlihat sedih.
"ayo makan dulu"
aku hanya mengangguk, aku tak mau menyianyiakan masakan bella yang selalu membuatku suka. sambil menangis aku memakan semua yang bella buat, kenapa sepertinya ini adalah masakan tanda perpisahan yang bella buat untuk ku. d**a ku bergemuruh dengan lelehan air mata aku mengunyah semuanya sampai tak tersisa.
"den, ini ada puding. sepertinya non bella yang buat ada 5loyang yang 3 saya bawa keatas ya den?" suara bi asih mengalihkan ku dari pising kosong. belum aku menjawab suara sofie sudah mendahului.
"bi, yang punya sofie taruh di kamar kak riko aja ya? makasih bibi" ucap sofie.
"yang 1 bawa kebelakang dibagi sama yang lain ya bi" kata ku sambil beranjak dari meja makan menuju kamar ku untuk bersiap entah akan kemana aku hari ini tak ada jam kuliah dan tak juga berani untuk menemui bella.
"kakak anter kamu sekolah sof" ucap ku dari pertengahan tangga.
"oke kak, aku tunggu"
tak ada yang menganggap keberadaan maya dirumah pagi itu, apalagi aku karena dia aku harus mengalami patah hati yang sedemikian menyiksa. aku sangat mencintai bella cinta pertama dan tak mungkin menjadi yang terakhir.