Kebingungan

1066 Kata
''AAAAAAAAAA!!!'' Faza meraba-raba dadanya. Menonjol. Empuk. Namun bukan artinya Faza bangga akan hal itu. Memang, setiap wanita pasti bangga mempunyai tubuh tinggi semampai, body yang seksi dengan d**a empuk,p******a yang menggiurkan serta wajah yang cantik. Namun tidak dengan Faza. Ia bingung. Kalut. Ada hal yang super duper ultra aneh di sini. Dengan terburu-buru, Faza turun dari kasur dan bercermin. Ia menjerit, mengacak rambut panjangnya yang kusut karena baru bangun, kemudian berlari ke arah kamar mandi. ''Moga cuma halusinasi, halusinasi. HALUSINASI!! AAARRGGHHH!!!'' Teriakan kedua terdengar kala Faza berhasil menurunkan kain segitiga berwarna merah muda ngejreng. Faza terduduk, lututnya terasa goyah dan ia sesenggukan frustasi. Tak ada penampakan batang. Tak ada dua bola unyu, hanya ada...ugh... Sebenarnya dirinya mimpi apa sih, sampai-sampai menjelma jadi kakak perempuannya?! -0-0-0-0-0- Farel, pria muda yang masih berstatus mahasiswa salah satu universitas, mengambil ponselnya dari saku celana. Sambil senyum, ia men-dial sebuah nomer, lantas membayangkan sesosok manis yang ia puja semenjak SMA. Orang itu yang tengah dia telepon saat ini. Nada sambung terdengar. Farel menunggu dengan khidmat, sekaligus berdebar. Yang sedang dia telepon ini gebetan paling ciamik yang pernah dia punya. Yah dia memang lumayan playboy, sih. Tapi dia bersumpah nggak akan playboy selamanya kalau gebetannya ini menerima cinta Farel. Demikian ikrar hebat di otaknya. "Halo? Sarah?" sapanya riang setelah panggilan diangkat. "Gimana kondisimu hari ini? Aku ke situ, ya? Sekalian mo bawain anggur titipan dari Mama," ujar Farel disertai senyum lebar, meski Sarah takkan bisa melihat dari sana.    ''Gak!! Awas lo kalau kemari!'' Nada judes khas suara wanita melengking tajam. Faza menjerit kesal, membanting hp, kemudian berteriak sekeras mungkin. Sialan! Suara Faza benar-benar tak badass lagi meskipun melengking, tapi itu hanyalah suara jeritan ala perempuan. Faza sama sekali tak terbiasa dengan body-nya sekarang, bahkan untuk mandi saja ia merasa sangat sungkan. Kakak perempuannya, Sarah, memang terbilang tipe idaman para lelaki. Sarah itu cantik, putih, seksi, dan kalau kata teman-teman cowoknya sih... dadanya membuat lelaki merindukan masa kecil mereka sebagai bayi! Sialan para lelaki itu! Oh, satu hal yang patut diingat. Sarah itu baik, lemah lembut dan sopan. Faza ogah membayangkan reaksi Farel saat mendengar Sarah membentak dengan kalimat kasar, apalagi memakai kata anak muda zaman sekarang. Patut diingat dan catat saja kalau perlu. Faza itu tak suka Farel. Apalagi kala pria itu terus saja mengejar-ngejar kakaknya dengan alasan 'cinta mati'. Faza sangat tahu siapa Farel sebenarnya. Playboy. Suka main perempuan. Sebagai adik yang baik meski suka bandel, Faza tak rela kakaknya jatuh pada pria sesat seperti Farel. Camkan itu! Sampai kapanpun tak akan ada restu darinya!  Sementara itu, di tempat seberang nan di sana.... "Huh?" Farel mengernyit sambil tatap heran layar ponselnya. "Dimatiin?" Super heran juga dia. Baru kali ini Sarah bertingkah begitu. Ada apa, sih? Apa Sarah melihat dia tadi siang boncengin Dinar? Tapi kan Sarah lagi bedrest di rumah untuk memulihkan kondisinya sejak kecelakaan bersama adiknya. Itu terjadi beberapa belas hari silam. Sarah tengah diboncengkan adiknya, Faza, dan mereka mengalami kecelakaan di jalan yang mengakibatkan Sarah harus bedrest di rumah setelah pulang dari rumah sakit. Untung saja dia tidak terluka berat, atau para penggemarnya bisa patah hati, termasuk Farel. Sedangkan adiknya, Faza, dalam keadaan koma masih berada di rumah sakit hingga kini. "Hakh!" Farel tercekat. Jangan-jangan Sarah mengalami gegar otak? Farel buruan ambil motornya dan melesat ke rumah pujaannya. Tak lupa anggur titipan Mamanya juga ia bawa. Kebetulan Mama mereka teman arisan. Entah arisan apa. Berondong, mungkin?! Farel jadi deg-degan. Bagaimana bila Sarah beneran gegar otak lalu jadi idiot... aarrghh! Gak boleh! Cewek idamannya gak boleh jadi i***t! Ting tong.... Farel membetulkan sisiran rambutnya. Maklumlah... tadi kan kena helm. Pintu dibuka, dan muncul sosok.... "Ohoho... Nak Farel!" ...Mamanya Sarah. "Kirain tukang siomai." "Hah? Kok tukang siomai, Tante?" Farel malah bingung. Ini Mamanya Sarah lagi nyindir apa becanda, sih? "Hiss! Bukan gitu!" Beliau menabok lengan berotot Farel. "Tante lagi beli siomai. Biasanya penjualnya pencet pintu kalo udah kelar racik pesenan Tante. Gitu!" Sekali lagi Beliau menabok lengan Farel. "Oh... kirain aku mirip tukang siomai. Hahah..." Farel senyum ala-kadarnya. "Ya enggak, dong! Bocah ganteng gini masa sih jadi bakul siomai? Pantesnya ya jadi artis ato model! Atau jadi menantu Tante? Hihihi!" puji Tante. "Hehe... Tante pinter banget mujinya," Farel pun tersipu. "Oh, mo jenguk Sarah?" tanya Beliau. Farel mengangguk. "Tuh dia ada di kamarnya. Tapi jangan ditutup loh pintunya. Hihi... belum boleh, yah," goda Tante. "Iya, Tante. Aku tau, kok. Nanti nunggu Sarah kalo dah mau aku kasi cincin. Doakan, ya Te," Farel memang sudah akrab dengan Mamanya Sarah. Farel kan jago ngambil hati siapa saja. Cuma Faza—adiknya Sarah—doang yang susah dia taklukkan. Gak tau napa. Farel menyambangi kamar Sarah. Ini kali kedua ia bisa ke kamar Sarah. Pertama saat setelah kecelakaan, Sarah dijenguk rame-rame teman kuliahnya, dan Farel ngikut. Sebenarnya semua orang juga paham kalo Farel naksir berat ke Sarah. Tapi karena Sarah jinak-jinak merpati, sampai sekarang tidak juga mereka jadian. Itu yang bikin Farel frustasi dan demen gonta-ganti cewek, bukan pacar. Cuma sekedar TTM doang. "Sarah?" Farel memasuki area kamar Sarah yang bersih dan wangi khas kamar cewek. -BUGH!- ''KELUAR LO!!'' Sumpah! Ini bukan kayak Sarah biasanya lho. Kalau orang-orang tahu paling bilangnya 'ah, paling Sarah lagi kena PMS' Eh tapi kalau cewek satu ini sedang kena begituan, mood-nya hanya gampang berubah, tak segarang dan beringas sekarang, sih. Tuh tadi wajah ganteng Farel langsung kena cium bantal yang tiba-tiba terbang ke arahnya. Sarah, atau sebut saja Faza, tengah berdiri di atas kasur, berkacak pinggang dengan kaki terbuka khas bocah badung. Matanya menatap nyalang ke Farel yang berada di ambang pintu, mendesis tajam saat pria itu hendak melangkahkan kakinya masuk. Serius, Faza bena-benar tak suka dengan Farel entah kenapa. Mungkin sudah tahap benci. Tentu saja, itu karena Farel itu banyak ceweknya, dan Faza tahu itu. Bahkan saking sialannya Farel, kakaknya Faza pun juga dijadikan target. Namun karena ia masih berdiri, bernafas dan hidup, selama itulah Faza akan melindungi Sarah dari kebejatan playboy sialan macam Farel. 'Jadi selama gue koma di rumah sakit, setan playboy ini deketin kakak gue, gitu? No! Awas aja lo, Farel!' Faza membathin kesal, mengepalkan tangannya erat. Kenapa ia bisa tahu jika dirinya koma? Tentu saja, tadi Faza sempat bertanya pada Mama dengan gaya Sarah meski susah sekali. Bersikap sopan itu bukan gayanya sama sekali. Untungnya, sang Mama tak curiga sama sekali. Beliau hanya menganjurkan dirinya untuk istirahat, itu saja. ''KELUARRR!! Gue mau mandi!'' ketus Faza, meloncat ke lantai dan mendorong Farel untuk keluar lalu mengunci pintunya dari dalam.  Lagi-lagi Farel melongo, persis seperti tadi sehabis dia menelepon Sarah. Sambil memeluk bantal yang sempat mem-bully wajah gantengnya, Farel termangu di depan pintu yang sudah ditutup empunya. Farel super bingung. Kenapa Sarah yang biasanya lembut bagai satin, kini tingkahnya ala preman? Apa Sarah kesambet?! Kesurupan?! Kerasukan?!  PASTI! Pasti itu! Harus lekas dicarikan dukun atau sekelas orang pinter gitu, lah!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN