Keceplosan

982 Kata
"Ta-tante... numpang... ke... kamar mandi... bisa?" suara mencicit Farel setengah mengiba pada si Tante. Tante menoleh, mendapati Farel merah padam. Kebelet boker, nih pasti... demikian asumsi Tante. "Iya, boleh... itu... di dekat ruang TV, ada kamar mandi tamu sekaligus WC. Pakai aja setuntasnya," ucap Tante. Farel makin malu. Apa si Tante ini paham penderitaannya? Kok bilangnya 'setuntasnya'? Bodo ah! Yang penting dilegakan dulu si dedek ini yang udah meraung-raung. Maka, sambil jalan aneh, Farel mencapai kamar mandi tamu, menyalakan kran air agar suaranya bisa diredam bunyi air. Kasian.... ''Pfftt...HAHAHAHAHA!!'' Faza tergelak seketika. Ia bahkan tak perduli dengan tatapan aneh Mamanya melihat sang putri sampai jadi seaneh ini. Habisnya... ini bukan kebiasaan Sarah kalau tertawa. Si cantik itu punya cara elegan tersendiri jika tertawa. ''Farel, Farel...'' ''Ada apa dengan Farel, sayang?'' Eh, gak ada apa-apa, Ma. Tadi Farel jalan aneh gitu, lucu aja.'' "Sarah, udah ah, jangan bicarain jelek-jelek tentang Farel, dong," nasehat Beliau sambil tepuk ringan paha putrinya. ''Kebelet boker kayaknya, ya Ma.'' Faza mengusap airmata yang keluar karena mati-mati'an menahan tawanya, apalagi tahu jika Farel akan melakukan 'solo karir' di kamar mandi sana. Ia tak menyangka jika sukses besar membuat pria itu terangsang tiba-tiba. Hingga ide gila hinggap seketika. Faza berdiri dan berjalan santai ke arah kamar mandi tamu. Ia bawa satu kursi dari kamarnya untuk tempat berpijak. 'Beres!' Faza naik ke atas kursi dan mengintip aktifitas Farel dari ruang kecil di atas pintu, terkikik sadis. ''Waow!! Farel! Batang lo lumayan juga. Hati-hati lecet kalau kelamaan dikocok.'' Faza ngakak seketika usai mengatakan hal nista tadi. Sumpah! Melihat Farel menderita itu menyenangkan sekali. Lihat saja bagaimana pria itu syok karena tak menyangka bakalan kena intip gadis impiannya. Apalagi dalam posisi senderan pada dinding kamar mandi sambil mainkan batangnya. Usai menertawakan Farel, Faza loncat dari kursinya. Ia sangat puas, seperti tengah memberi pelajaran pada si playboy tersebut. WHAT THE HELL!! Farel sampai kaget mendapati penampakan Sarah pada kaca tembus pandang di atas pintu kamar mandi. Cairan yang tadi akan meluncur keluar, malah kembali mundur dibarengi susutnya si dedek. Lunglai seketika. Farel mengelap keringat yang segede jengkol. Nafasnya memburu, bajunya basah, tapi tak sukses me-launching hasratnya. Damn! Menelan ludah beberapa kali, iapun belagak mengguyur WC seolah benar-benar memakainya. Lamat-lamat ia mendengar suara Tante yang mengomel panjang lebar pada anak puterinya. "Kamu ini apa-apaan, sih Sarah?! Mama nggak pernah ngajarin kamu jadi perempuan kurang ajar gitu! Bisa-bisanya kamu ngintipin lelaki di kamar mandi! Mo dia lagi apapun, gak pantes kamu berbuat gitu, Sar! Kamu tuh bener-bener malu-maluin Mama! Kayak Mama nggak pernah didik kamu aja!" Farel keluar dari kamar mandi. Ia bimbang, harus duduk lagi ngobrol atau.... "Tante, saya pulang dulu..." ... pamit pulang? Farel meraih bantal yang udah diniatin jadi hak milik dia mulai detik ini. "Bye, Sarah..." Farel canggung, kikuk... lalu menunduk jalan keluar. "Nak Farel," kejar Tante. "Maafin anak Tante, yah! Mungkin dia lagi bingung adiknya masih koma di rumah sakit." Farel menoleh ke belakang, "Iya, Tante... nggak apa, kok. Saya ngerti. Permisi, Tante..." Dan ia pun naik ke motornya, melaju ke rumah... sambil membawa bantal. Faza bungkam seketika. Apa tadi ia sudah keterlaluan mempermalukan Farel sampai segitunya? Tapi kan biasanya juga tak begini. Faza bahkan sering mencoba berbuat jahil pada Farel, tapi pria itu bahkan tak terlihat menyesal apalagi kikuk seperti tadi. ''Besok... kamu harus minta maaf ke Farel, Sar,'' tegas Mama, menatap serius anak sulungnya, dan diangguki gadis tersebut. Faza tak habis pikir, kenapa Mamanya sampai membela si playboy sialan itu, coba? Tak tahukah kalau ia berusaha melindungi Sarah dari kemesuman Farel? 'Come on, Mama! Masa tadi gak lihat Farel m***m gitu ke kak Sarah?!' bathin Faza super gemas. ''Sarah?'' ''Iya! Iya! Tar Fa-Sarah bakalan minta maaf deh,'' ucapnya hampir keceplosan penyebutan nama. Mama hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah aneh putrinya. Kemarin rasanya baik-baik saja, bahkan Sarah sempat bercerita mengenai kuliahnya sehabis menjenguk sang adik. Tapi sekarang... Di kamar kakak perempuannya, Faza menatap jengah berbagai warna dalaman yang ada dalam laci lemari Sarah. Apa ia harus memakai benda begini? Belum lagi bra. ''Kepaksa deh gue.'' Di ruang makan, Mama kembali heran dengan cara makan Sarah. Sebagai wanita yang biasanya terkenal feminim, Sarah tak akan pernah makan dengan nasi memenuhi piring, paha ayam dua potong ditambah tahu tempe gorengnya. Itu sambelnya juga. ''Katanya kamu diet, Nak.'' ''Kwapawn?'' ''Telan dulu, Sarah.'' Duh, Gusti. Mama jadi bingung. Apa benar Sarah-nya sedikit... stress karena Faza koma di RS? Bahkan ke Farel juga. ''Farel itu playboy, Ma! Makanya Faza gak suka dia.'' ''Faza?'' Ups! Keceplosan lagi. Faza lekas membenarkan ucapannya. ''Maksudnya... Dek Faza gak suka, makanya Sarah juga gak suka. Faza kan selalu benar, Ma. Pas dia bilang Farel suka main cewek, ya Sarah percaya aja.'' Faza ngakak nista dalam hati. Ada gunanya juga ternyata dalam kondisi begini. Apa ia diberi kesempatan semacam ini untuk membuka semua kedok kebrengsekan pria itu, ya? Faza suka ini. ''Awawawaaaa... pedes, Ma! Pedes!'' . . . . "Aduduuh! Sshhh... bangke, dah! Bisa-bisanya kegigit ampe gini?" Farel yang lagi makan juga langsung berhenti waktu bibirnya kegigit sendiri. "Sshhh... mana berdarah pula!" Ia pun menjeda acara makannya untuk mengambil tisu, mengelap darah yang muncul. "Kenapa, Rel? Kegigit?" tanya si Mama yang ikut duduk. "Ada yang gosipin kamu, tuh," celetuk Mama seraya suapkan sop buntut ke mulut. "Masa sih, Ma?" Farel mengernyit. Memangnya siapa kira-kira yang sedang bergosip akan dirinya? Gosipnya gila-gilaan tuh pasti, ampe darahnya segini banyak. Sarah kah? "Halah, itu cuma takhayul aja, Rel. Mamamu ini suka melebih-lebihkan," suara bass Papa berkumandang. "Issh... Papa gak percaya..." Mama pun mencubit lengan suaminya. Papa cuma tergelak. Malamnya, Farel pandangi langit-langit kamarnya. Sebongkah es batu kecil ia tempelkan sejak tadi di bibir. Pikirannya menerawang ke Sarah. Tubuh aduhai gebetannya... mulus... sintal... cantik... udah, deh... pokoknya sempurna! Mulai sekarang... Farel cuma mau Sarah aja. Bomat ama cewek lain! Harus Sarah aja! "Owhh... Sarah... rasanya pasti amazing kalo nindih kamu... apalagi kamu merintih di bawahku... eemhh..." Dan malam itu, diakhiri dengan kegiatan ''solo karir'' Farel sambil ciumi bantal milik Sarah. -0-0-0-0- Di kamar Faza, pagi hari pukul 07:35. ''Sar! Sarah! Kok tidur di kamar adik kamu, sih?'' ''Mmhhh...'' ''Ayo bangun. Kamu kuliah kan, sayang?'' ''Kuliah apanya, Ma? Faza kan masih kelas 3 SMA...'' Mama melongo dan langsung periksa dahi putrinya. Tak panas, gumam Mama heran. ''Apa'an sih, Ma?! Faza gak sakiiittt,'' rengek Faza sambil singkirin tangan Mama dari dahinya. Sumpah ya, mamanya ini terlalu menganggap hal sepele saja sampai segitunya. -SRAK!-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN