Bab. 3. Adiva Ariswarya.

1074 Kata
"A-apa yang harus aku lakukan, Pak?" tanya Kieran dengan wajah was-was. "Aku tidak punya anak. Setelah bercerai dengan istriku, aku tidak menikah lagi. Jika kau ingin balas dendam, maukah kau menjadi CEO di perusahaanku?" Pertanyaan dan keinginan dari Wira membuat Kieran merasa tak percaya. "Tapi, bagaimana bisa aku—" "Jangan khawatir, akan ada yang mengajarimu. Dengan begitu, aku punya pewaris untuk meneruskan perusahaan yang aku bangun dari nol." "Jika kau setuju, aku akan menghibahkan hartaku agar menjadi atas namamu. Kelak, tidak ada yang bisa menggugatmu dan mempersulit hidupmu." Kieran masih bingung mau menjawab apa. Di sisi lain, inilah kesempatan untuk dirinya maju dan merebut miliknya. "Baiklah, aku setuju. Tapi ada satu syarat yang harus aku ajukan," ucap Kieran. "Katakanlah. InsyaAllah, aku bisa memenuhi," jawab Wira dengan tenang. "Agar maksimal dalam misi balas dendamku, aku ingin merubah sedikit wajahku. Jika aku masih menggunakan wajah juga identitas yang sekarang, wanita itu tidak akan membiarkan aku hidup." "Terlebih, dia punya kekuasaan yang pastinya, akan membuat semua gerakku terbatas," ucap Kieran. "Baiklah, ini hal mudah untuk diriku, Kieran. Aku akan mencarikan kau dokter yang bagus. Tapi, kau harus pulih dulu baru bisa menjalankan operasi wajah." ___ Dua bulan berlalu, hari ini menjadi hari baru untuk Kieran. Dirinya baru saja menjalani operasi wajahnya, dirinya seolah terlahir kembali setelah perjalanan panjang yang mengerikan. Saat perban wajahnya dibuka, hanya ada dokter dan Wira yang menemani. Lelaki paruh baya itu, sudah membuat surat kuasa untuk semua hartanya. Dan hari ini, dia sudah menepati janji untuk membantu Kieran mengubah hidupnya. "Apa kau puas dengan hasilnya?" tanya Dokter yang menangani. Kieran tersenyum, dia menatap Wira dengan wajah bahagia. "Sangat bahagia. Terima kasih karena berkat kalian, aku serasa terlahir kembali." Wira mendekat, dia menepuk pelan pucuk kepala Kieran. "Kau juga harus bersiap mengubah identitasmu. Mulai hari ini, kau akan menjadi putri angkatku!" Wira memberikan keputusan yang membuat Kieran terharu. Mata indah Kieran berkaca, menahan rasa haru yang bersemayam dalam dadanya. "Namamu juga harus diganti. Adiva Ariswarya adalah nama yang aku berikan untukmu. Semoga suatu saat nanti kau menjadi wanita yang selalu beruntung," ucap Wira. "Terima kasih, Pa! Mulai hari ini, aku juga tidak akan memanggilmu dengan sebutan Om atau Pak," ucap Kieran. Wira tertawa, lelaki paruh baya itu berterima kasih kepada dokter yang sudah membantu Kieran. "Dok, terima kasih untuk semua bantuannya." "Saya yang seharusnya berterima kasih." Wira dan Kieran yang sudah mengganti nama dengan Adiva Ariswarya akhirnya kembali ke rumah. Adiva tidak akan gegabah untuk melwan kakak angkatnya itu. Dia harus punya strategi yang matang agar semuanya berjalan dengan semestinya. Wanita yang terlihat semakin cantik itu berdiri di depan kaca. Melihat wajahnya yang berbeda, dia tersenyum puas. "Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu, Maula." Adiva meraba wajahnya dengan senyum tipis. Tatapan kebencian juga terlihat jelas. Rasa pedih karena pengkhianatan oleh orang yang sudah anggap sauadara, membuat wanita lemah itu berubah menakutkan. "Ayah, ibu, aku juga akan membalas kematian kalian." Adiva menahan tangis. Dia bahkan tidak sempat bertemu dan berbincang lama di hari orang tuanya di eksekusi. Sore harinya, Adiva mulai belajar semua hal tentang bisnis dengan Wira. Tak perlu waktu lama untuk memahami semua trik dalam bekerja. Karena dia sudah pernah belajar dengan ayahnya. Sebagai pewaris satu-satunya, sejak kecil, Adiva sudah mengenal dunia bisnis. Dan hari ini, dia mengulang kembali bersama orang tua angkatnya. "Besok aku akan membawa kamu ke kantor. Siangnya, akan ada rapat semua pemegang saham dan aku akan mengenalkan kamu kepada mereka." "Kau tak usah khawatir mengenai tanggapan mereka, karena kau sekarang pemegang saham tertinggi di perusahaan. Aku yakin, kau akan mengembangkan bisnis dengan pesat." Wira benar-benar menyakinkan kalau Adiva akan bisa menjalankan bisnis dengan baik. "Aku masih perlu bimbinganmu, Pa. Jadi, aku mohon, jangan lepas aku begitu saja," jawab Adiva dengan tatapan khawatir. Wira tersenyum, "Jangan takut. Buang semua rasa ketidak percayaan diri itu, Adiva! Kau wanita pintar dan hebat." ___ Setelah sarapan bersama, Adiva bersama Wira menuju perusahaan. Perjalanan yang ditempuh sekitar dua puluh menit. Wanita cantik dengan rambut panjang lurus itu berjalan pelan bersama papa angkatnya. Membuat semua pandangan tertuju padanya. Asisten Wira pun siap melayani. Semua yang ada di loby menunduk hormat. "Selamat pagi, aku membawa putriku yang baru datang dari luar negeri. Mulai hari ini, dia yang akan mengisi ruangan CEO perusahaan ini," ucap Wira menatap dengan tenang ke arah semua karyawan. "Selamat pagi dan selamat datang, Nona." "Terima kasih. Perkenalkan namaku Adiva Ariswarya. Panggil saja Adiva." Setelah sesi perkenalan singkat, Adiva dan Wira kembali melanjutkan langkah. Hanya beberapa detik saja sampai ke ruangan Direktur. "Ruanganmu berada di sebelah kiriku, Adiva." Adiva mengangguk, "Terima kasih, Pa." "Dia asistenku, yang juga akan menjadi orangmu juga. Namanya Kaivan!" "Senang bertemu dengan anda, Nona." Kaivan menunduk hormat. Adiva mengangguk dengan senyum tipis. Sebelum rapat di mulai, Wira dan asistennya itu juga memberitahu beberapa hal penting perusahaan, agar Adiva tidak bingung. Hingga siang pun, Adiva masih berada di ruangan Wira. Mencoba mengerjakan beberapa pekerjaan yang diberikan oleh papa angkatnya. "Kau cepat sekali belajar, Adiva. Semua kau pahami dengan cepat," puji Wira. "Tapi aku takut kalau papa enggak puas sama kerjaanku," ucap Adiva. "Jangan mulai berpikir buruk, kau pasti bisa menajalankan bisnis ini dengan baik. Papa yakin itu." Siangnya, seperti yang telah dibicarakan oleh Wira, bahwa rapat dengan pemegang saham pun tiba. Jantung Adiva berdetak dengan kencang. Dia begitu takut, jika kehadirannya akan membawa polemik baru untuk orang yang sudah menolongnya. "Kau siap?" tanya Wira dengan tatapan lembut. "InsyaAllah, Pa." Wira menepuk pelan pundak sebelah kanan Adiva, "Jangan tegang!" Mereka menuju lantai tiga. Di mana ruang rapat berada. Kaivan membukakan pintu dan Wira berjalan masuk diikuti Adiva. Lelaki paruh baya itu tersenyum, seolah semua setuju dan menerima kehadiran Adiva. "Wah, kalian sudah datang semua. Apa yang membuat kalian tak sabar dengan rapat kali ini?" Wira bertanya seolah terdengar halus, namun yang sebenarnya, dia sedang menyindir yang lain. "Alasannya, kami begitu ingin segera bertemu dengan nona CEO kita. Dan ternyata, dia memang cantik, berkelas, dan tentu pintar. "Senang bertemu kalian, selamat siang perkenalkan namaku Adiva Ariswarya." "Nona sangat cantik, selamat bergabung di perusahan ini." Adiva mengangguk dengan senyum tipis. Dia kemudian duduk di dekat Wira. "Baiklah, seperti yang aku bicarakan kemarin, bahwa aku memberikan saham ini kepada putriku. Mulai hari ini, dia akan menempati ruangan CEO yang kosong." "Jika ada yang tidak setuju, silakan ungkapkan sekarang saja," ucap Wira menatap ke arah pemegang saham lainnya. Sedangkan Adiva merasa dejavu, karena takut ditolak oleh pemegang saham lainnya. Dan semua langsung tatap menatap dengan pancaran penuh isyarat satu dengan yang lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN