"Kami setuju Nona Adiva menjadi CEO." Salah satu pemegang saham membuat keputusan berdasarkan hasil pembicaraan bersama, sebelum Adiva dan Wira datang ke ruang rapat.
"Terima kasih untuk dukungan kalian. Aku akan memimpin perusahaan ini dengan baik. Agar perusahaan bisa berkembang dengan pesat," ucap Adiva dengan senyum mengembang menatap satu per satu pemegang saham yang ada di ruang rapat.
Rapat akhirnya selesai, Adiva diantarkan ke ruangannya. Ruangan yang di desain dengan elegan.
"Adiva, aku ada urusan pekerjaan selama satu minggu di Singapura. Aku percayakan semua urusan di sini kepamu. Jika terjadi sesuatu, kamu bisa teloon aku kapan saja. Dan Kalvian akan membantumu di sini," ucap Wira.
Wira masih menjadi direktur utama, tetapi dia akan melihat kemampuan Adiva dulu, sebelum semuanya dipercayakan pada wanita yang ia temukan beberapa waktu lalu itu.
"Terima kasih, Pa. Aku akan menjalankan perusahaan dengan baik. Jaga kesehatan selama di Singapura," jawab Adiva menatap hormat kepada Wira.
Wira akhirnya pergi dari perusahaan, sedangkan Adiva mulai membuka beberapa berkas yang menumpuk di mejanya.
Jam terus bergulir, Kalvian mengetuk pintu ruangan bos barunya. Setelah itu, dia masuk untuk mengingatkan jam makan siang sudah tiba.
"Nona, waktunya istirahat!"
Adiva melihat ke arloji mahal di tangan kirinya.
"Ah, iya. Aku sampai tidak ingat waktu."
"Mau dipesankan makanan, atau pergi ke restoran, Nona?"
Adiva menatap Kalvian dengan kening mengkerut. Hingga dia akhirnya memutuskan.
"Emm, biarkan aku makan siang sendiri."
"Tapi, Nona—?"
"Aku harus melatih diriku agar tidak takut dan was-was jika berada di tempat umum, Kalvian. Kalau aku merasa takut secara berkepanjangan, bagaimana diriku bisa segera membalas orang-orang itu?"
"Izinkan saya melihat anda dari jauh, Nona. Bagaimana kalau Tuan marah karena saya lalai?"
Adiva menatap lurus ke arah asistennya itu. 'Bagaimanapun, dia juga bertugas menjagaku.'
"Baiklah!" pada akhirnya Adiva setuju dengan keinginan asistennya.
Keduanya berangkat ke restoran menggunakan kendaraan pribadi sendiri-sendiri. Kalvian terus memantau dari jauh.
Hingga akhirnya mereka sampai di restoran, Adiva memesan makan siang, begitu juga Kalvian. Hanya saja lelaki bertubuh tinggi tegap itu berda sedikit jauh dari tempat duduk nonanya.
Adiva sesekali menatap sekelilingnya. Dia masih saja belum bisa percaya dengan keadaan sekitar. Meski dirinya berada di kota lain, nyatanya masih ada ketakutan yang belum bisa ia atasi.
"Ini tidak boleh terjadi terlalu lama di hidupku. Bagaiamanapun, aku harus menyiapkan mentalku demi merebut kembali semua yang seharusnya menjadi milikku."
Selesai dengan makan siang, Adiva mulai memberikan kode kepada Kalvian agar segera berdiri. Wanita cantik itu berjalan anggun ke kasir dan menyelesaikan pembayaran.
Sampai di perusahaan, dia meminta Kalvian masuk ke ruangannya.
"Tolong kembalikan ke ruangan administrasi. Mereka membuat laporan keuangan dengan tidak benar. Kalau besok belum benar juga, aku yang akan datang ke sana."
Kalvian menerima dokumen itu dan memeriksanya.
'Ternyata Nona Adiva begitu jeli. Hari ini keraguan juga kekhawatiranku mengenai kerja keras Tuan Wira terbantahkan,' gumam Kalvian dalam hati.
"Saya akan memberitahu kesalahan mereka, Nona."
Adiva mengangguk, dia memutar arah kursinya, menatap jauh ke arah luar jendela dari ruangannya. Cuaca siang ini begitu panas. Pikiran Adiva terlempar di kejadian malam panas bersama pria yang disukai kakaknya.
"Apakah kau sama sekali tidak ingat aku? Sehingga kau buta dengan segala tipu muslihat yang dilakukan Maula?"
Air mata tak terasa menetes di pipi mulus Adiva. Dia langsung mengusap, kemudian menarik nafas dalam.
"Aku sudah melakukan banyak hal, agar terlahir kembali dan menjadi malaikat pencabut nyawamu, Maula."
Tatapan kebencian benar-benar terpancar dari mata indah Adiva. Kedua telapak tangannya terkepal erat, menandakan kemarahan yang memuncak.
"Tunggu sebentar lagi. Aku akan membiarkan kau bersenang-senang dulu, Maula."
Adiva mengambil ponsel, dia menelpon Kalvian.
"Datang ke ruanganku!"
Tak lama, suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk!" suara datar Adiva mempersilakan masuk Kalvian.
"Ada apa, Nona?"
"Tolong bantu aku cari tahu informasi apa pun dari Farraz Ekawira."
"Baik, Nona!"
"Terima kasih. Kembalilah ke ruanganmu!"
Satu jam kemudian, Kalvian kembali dengan informasi yang berhasil ia kumpulkan.
"Ini semua data dari Tuan Farraz Ekawira, Nona!"
Adiva menerima tablet yang diberikan asistennya. Dia membaca semua hal tentang lelaki yang sejak dulu dekat dengan keluarganya. Hanya saja, dirinya tidak pernah bertemu, karena memilih meneruskan sekolaj di luar negeri.
Tidak seperti Maula yang ingin tetap di kota, dan berhasil dekat dengan pria, yang katanya akan dijodohkan dengannya.
"Cari tahu kelamahan dari perusahaan yang ia dirikan. Besok saja laporannya berikan keadaku. Sekarang sudah sore. Aku akan membawa dokumen yang belum selesai."
"Sisanya yang sudah aku tangani kamu yang urus!"
"Baik, Nona!"
Adiva mulai bersiap pulang, nanti setelah sampai rumah, dia akan menelpon papanya. Dia akan memint persetujuan untuk produk baru yang akan diluncurkan.
Jika Wira setuju, dia akan menangani semuanya, dan membuktikan kepada semu orang. Bahwa wanita yang terlihat biasa saja, ternyata mempunyai kemampuan yang luar biasa.
___
"Ah, rasanya melelahkan!" Adiva mengeluh setelah sampai rumah.
Kepala pelayan mendekat, untuk menawarkan sesuatu.
"Apakah anda ingin kopi, Nona?"
"Emm, boleh, Bu. Tapi es kopi ya!"
"Baik, Nona. Tunggu sebentar."
Sambil menunggu kopinya siap, dia menelpon Wira.
"Halo, Pa."
"Ada apa, Adiva? Apakah kau mengalami kesulitan?"
"Tidak, Pa. Aku hanya ingin tahu, apakah papa baik-baik saja?"
Wira tertawa, merasa senang karena diperhatikan oleh putri angkatny.
"Aku baik-baik saja, Adiva. Istirahatlah. Aku dengar, hari ini kau bekerja keras."
"Tidak juga, Pa. Tapi, apakah aku bisa mengajukan sesuatu?"
Wira terkekeh, "Jangan sungkan anakku."
"Akan ada rencana untuk produk baru, bolehkah aku yang mengerjakannya, Pa?"
"Tentu saja, kenapa kau harus izin? Kau sudah msmenjadi CEO, tidak seharusnya kau izin padaku. Aku percaya, kau pasti mengelola perusahaan dengan benar."
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pa."
"Jangan sungkan. Sekarang, istirahatlah, dan jangan lupa makan!"
"Emm." Adiva menjawab dengan gumaman, kemudian panggilan terputus.
"Hidup di kota Jogja hampir satu bulan, ternyata sangat membawa keberuntungan untukku," gumam Adiva, sambil membuka gorden kamarnya.
Malam sudah tiba, hawa dingin mulai menusuk kulit. Berbeda dengan di ibu kota yang panas dan membosankan. Adiva mulai membersihkan diri, jam makan malam sebentar lagi akan tiba.
Untuk pertama kali setelah dia tiba di rumah Wira, malam ini, dia akan menikmati makan malam seorang diri. Papa angkatnya sedang melakukan perjalanan bisnis di luar negeri.
Setelah beberapa saat, Adiva sudah rapi dengan dres warna navy sebatas lutut. Wajahnya sengaja tanpa makeup, karena dia memang tidak akan ke mana-mana.
"Kenapa anda diam saja tidak segera makan, nona? Apakah menu malam ini tidak anda sukai?"
"Bukan begitu, bu. Hanya saja, aku tidak biasa makan sendiri. Papa sedang sibuk di luar negeri ada yang berbeda saja suasananya."
"Tuan hanya satu minggu pergi, biasanya sampai satu bulan baru kembali."
Adiva mengangguk dengan senyum tipis. "Aku pasti akan terbiasa dengan semua hal baru ini, Bu. Terima kasih sudah membantu."
Kepala pelayan itu meninggalkan Adiva, menikmati makan malam sendiri. Entah mengapa, air mata wanita yang sudah berganti identitas itu meluncur bebas membasahi pipi.
Rasa sakit atas pengkhianatan itu membuat Adiva selalu merasa trauma di setiap saat.
"Aku akan bersabar menunggu waktu itu tiba, Maula. Kau akan menanggung semua perbuatan jahatmu itu."
Tangan halus wanita cantik menghalau air mata yang jatuh dengan tatapan mata penuh kebencian membayangkan wajah kakak tirinya.