Bab. 5. Enam Tahun Silam.

1244 Kata
Pagi itu, cuaca begitu cerah memancar di langit kota Jakarta. Adiva menarik nafas dalam memasuki lobi perusahaan ternama yang sudah lama ia impikan. "Semoga saja aku lolos menjadi sekertarisnya. Dengan begitu, ada banyak kesempatan untuk dekat dengan suami dari seseorang yang aku cari," gumam Adiva dengan helaan nafas panjang. Tatapan tajam ke depan, seolah tidak akan takut dengan siapa saja yang akan ia temui. Dia langsung bertemu dengan target pertama. Orang yang menyerang dari awal kejadian malam panjang enam tahun silam. "Cepat kau masuk, kenapa baru datang?" Orang itu menatap datar ke arah Adiva yang baru sampai di lantai tiga, di mana semua orang menunggu untuk wawancara. 'Kau orang pertama yang akan aku eksekusi,' ucap Adiva dalam hati dengan nada datar penuh kebencian. Beberapa wanita yang akan mengajukan lamaran memandang ke arah Adiva dengan berbagai tatapan. Namun wanita itu tak memperdulikan, karena dia yakin dirinyalah yang diterima. "Wanita itu seperti wanita terpandang, dari penampilannya memang sederhana. Tetapi, dia terlihat begitu berbeda." "Siapa tahu memang hanya ingin dekat dengan CEO nya saja. Kita semua tahu, kalau petinggi perusahaan ini lelaki tampan dan tidak sembarangan," ucap salah satu wanita lainnya. Adiva hanya tersenyum tipis. Mendengarkan semua ocehan para wanita yang akan melamar kerja itu. Menunggu beberapa saat, dia sudah menemui beberapa wanita yang sudah ditolak oleh CEO. "Semua wanita tidak ada yang diterima jadi sekertarisnya. Malah ditempatkan di bagian lain. Padahal sudah lebih dari sepuluh orang sejak pagi tadi," ucap wanita yang baru saja keluar dari ruangan CEO. "Aku adalah wanita terakhir yang mengantri. Semoga saja, semua hal yang menjadi pengalamanku, bisa diterima oleh CEO itu," gumam Adiva dengan wajah datar. 'Jika lelaki yang menjadi kaki tangan Maula ada di sini, apakah wanita juga sedang berad di sini?' tanya Maula menatap punggung lelaki yang baru saja keluar dari ruangan yang digunakan untuk interview. "Jika dia di sini mungkin akan lebih bagus. Sekalian dia masih mengenaliku apa tidak," gumam Adiva dengan senyum misterius. "Adiva Ariswarya silakan masuk." "Semoga kau beruntung. Posisi sekertaris belum ada yang memenangkan," ucap wanita yang baru saja keluar dari ruang interview. Adiva menatap wanita itu dengan senyum lebar. Dia menghela nafas panjang sebelum mendorong pintu kayu ber cat hitam itu. Suara hels yang dia kenakan menghentak halus namun terdengar indah. Hingga tatapan semua orang yang ada di ruangan itu langsung tertuju padanya. Jantung Adiva berdetak kencang, apalagi saat tatapannya tertuju pada mata Farraz Ekawira. Agar tidak menimbulkan masalah, dia menunduk hormat kepada semuanya. 'Wanita ini, sepertinya, aku mengenalnya. Tapi di mana?' tanya Farraz dengan tatapan masih tertuju pada Adiva. Benar dugaan Adiva, jika Maula juga berada di ruangan yang sama. 'Bagus. Dia selalu menempel seperti parasit di sisi Farraz. Biarkan di tahu dan mendengar keputusan suaminya saat aku terpilih menjadi sekertarisnya,' ucap Adiva dalam hati. Farraz membuka CV yang diberikan Adiva. Lelaki itu belum bicara. Hanya saja tatapan tak biasa itu membuat Maula salah tingkah. Wanita itu membungkuk, mendekatkan bibirnya pada telinga suaminya. "Kau akan memilihnya?" "Dia berpotensi untuk pekerjaan ini. Aku akan mencoba bertanya dulu. Dan menunggu keputusan yang lain." Maula langsung duduk diam, dia tak berani membantah lagi apa yang sudah diputuskan oleh suaminya. Sesi wawancara dilakukan oleh Farraz juga bagian HRD kepada Adiva. Wanita cantik itu menjawab dengan tenang juga penuh kecerdasan. Tidak seperti wanita lainnya yang hanya ingin bekerja tanpa tujuan yang jelas. Setelah sesi tanya jawab selesai, tatapan Farraz tertuju pada asistennya. Nando seolah paham apa keinginan bosnya hanya melihat dari tatapan mata. Nando berunding dengan bagian HRD, kemudian dia membisikkan sesuatu kepada Farraz, hingga anggukan kecil pun diberikan lelaki dingin nan tampan itu. "Nona Adiva Ariswarya, selamat anda diterima bekerja sebagai sekertaris Tuan Farraz. Besok anda bisa langsung datang dan bekerja. Silakan datang ke lantai 20 gedung ini, karena ruangan Tuan Farraz berada di sana!" Nando menyatakan keputusan dengan suara jelas. Secara reflek, Adiva berdiri dari duduknya, dia mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar dan wajah riang. Farraz masih menatap penuh makna ke arahnya. Membuat Maula memendam kekesalan karena dia tidak dianggap. Setelah Adiva pergi, Maula melakukan protes. "Kenapa dari sekian banyak wanita yang melamar menjadi sekertarismu, dia yang kau pilih?" Farraz menoleh dengan tatapan datar, "Kau buta ya? Dari sekian banyak yang aku wawancarai, hanya dia yang datang dengan otaknya, bukan dengan pikiran kotor juga keinginan dekat denganku." Setelah mengatakan itu, Farraz berdiri dari duduknya. Dia menuju ruangannya. Entah mengapa, jika terlalu lama di dekat istrinya, dia langsung naik darah. "Siapkan ruangan untuk Adiva, Nando!" "Baik, Tuan!" "Setelah jam makan siang, jadwalnya apa lagi?" "Ada pertemuan di luar bersama PT. Angkasa, Tuan." "Baiklah!" ___ "Kalvian, bilang pada Ayah, kalau aku diterima sebagai sekertaris Farraz." "Nona, kau harus berhati-hati." "Kau jangan khawatir, aku masih bisa mengatasi semuanya sendiri." "Aku baru saja mengirim foto seseorang, kirimkan orang untuk membawanya ke tempat kita. Aku akan mengurusnya nanti!" "Baik, Nona!" Panggilan langsung terputus, kemudian Adiva mengendarai kendaraannya menuju restoran terdekat untuk makan siang. "Kau lihat Maula, maut sudah ada di depan matamu. Tetapi, aku tidak akan langsung mengambil nyawamu." ___ "Nona, orang itu sudah kami bawa ke gudang bawah tanah. Kami tinggal menunggu perintah," ucap Kalvian setelah Adiva pulang. "Biarkan saja dulu. Aku ingin istirahat sebentar!" Adiva masuk ke kamarnya. Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya, kenangan pahit itu sudah enam tahun lamanya. Namun dia belum bisa melupakan. Yang ada dendam yang terus menumpuk. Adiva mengingat wajah Farraz yang baru beberapa waktu dia temui setelah sekian lama. "Kau tidak mengenalku?" Senyum tipis penuh kebencian itu langsung terpampang nyata. "Tenang saja, dengan perlahan, aku akan mengenalmu lebih dalam. Bahkan kebencian itu akan berubah cinta yang tak bisa kau kendalikan Farraz Ekawira." Adiva keluar dari kamarnya, dia mencari Kalvian menuju ruang bawah tanah rumah mewah yang ia tempati. "Apakah dia sudah sadar?" tanya Adiva. "Sudah, Nona." "Bagus!" Langkah pelan Adiva menuju ruangan di mana seseorang sudah si sekap beberapa jam lalu. Hentakan hells nya membuat mata seseorang itu waspada akan siapa dalang dibalik dirinya diculik. "Kamu si-siapa?" tanya seseorang itu dengan wajah cemas. Namun setelah wajah Adiva berada tepat di bawah lampu, seseorang itu terbelalak kaget. "Bu-bukankah kau wanita yang siang tadi datang ke kantor untuk melamar kerja?" "Apa yang kau mau dariku?" Adiva tidak menjawab, dia hanya tersenyum sinis kemudian menunduk menatap tajam ke seseorang yang duduk dengan tali melingkar di tubuhnya. "Kau lupa siapa aku? Dasar baj*ng@n!" Adiva menaikkan nada suaranya. Satu tamparan keras mendarat di pipi orang itu. "Akan aku buat kau ingat, siapa diriku yang sebenarnya!" Pisau lipat kecil keluar dari kantong dres yang dikenakan Adiva. Dengan sekali tarikan kilaunya memancar membuat orang itu merinding ketakutan. Sayatan kecil mulai diberikan di bagian wajah orang itu. Merintih mengaduh, bersamaan dengan darah yang mulai keluar. Adiva mencekik leher orang itu, tatapan penuh kebencian diberikan. "Mulai hari ini, kau tidak akan bisa melindungi wanita iblis itu. Sebagai gantinya, aku yang akan menjaganya." Orang itu hampir kehabisan nafas, dia terbatuk pelan karena tenggorokannya terasa kering juga sakit. "Sebelum kau m@ti, akan aku beritahu siapa diriku. Dengarkan baik-baik!" Adiva diam sejenak, tatapannya masih tertuju pada orang yang dia sekap. "Aku adalah wanita yang kau jebak enam tahun lalu. Kemudian kau tembak dan kau buang secara mengenaskan di hutan belantara." Tatapan Adiva juga langsung tertuju pada anak buahnya. "Singkirkan dia tanpa jejak, bahkan jangan sampai wanita si alan itu tahu kalau orangnya sudah tiada." "Ki-kieran, aku minta maaf, aku rela menjadi budakmu asal jangan memb*n*hku!" Adiva berlalu tanpa mau mendengar semua kalimat yang terlontar dari bibir orang kepercayaan Maula. Hingga akhirnya hanya kem@tian yang dia dapatkan akibat kejahatan yang telah dilakukan enam tahun silam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN