Hari pertama kerja, membuat pagi ini Adiva begitu sibuk bersiap. Berbeda dengan setiap harinya yang bisa datang dengan santai.
Namun kali ini, dia ingin menggapai tujuannya. Dia memilih baju yang sekiranya membuat Farraz kurang nyaman. Dengan begitu, dia bisa membangun interaksi agar dirinya bisa masuk dalam sisi dingin lelaki berwajah tampan itu.
"Siapkan mobil yang biasa saja untuk aku beranglat kerja ya!"
"Saya antar saja, Nona."
"Kamu kan juga repot ngurus perusahaan, Kalvian, aku berangkat sendiri saja."
"Tapi, Nona—"
"Aku berangkat sendiri saja. Yang penting, kendaraan yang akan aku pakai, jangan yang mahal!"
"Baik, Nona!"
Kalvian segera pergi menyiapkan kendaraan untuk Adiva. Wanita cantik itu sudah siap dengan pakaian kerja yang sedikit seksi.
"Hati-hati, Nona!"
"Jangan khawatir, Kalvian."
Adiva langsung mengendarai kendaraannya, menuju perusahaan milik Farraz. Sampai di perusahaan, semua mata hampir tertuju pada Adiva yang melangkah pelan menuju lift.
Rambut panjang hitam lurus tergerai menutupi punggungnya. Riasan sederhana namun membuat wajahnya bersinar cantik, membuat aura memikat itu sangat pekat.
Senyum tipis dari bibir Adiva semakin membuat wajahnya terlihat cantik sempurna. Bunyi dentingan lift melenyapkan tubuh rampingnya. Mengantarkan ke lantai di mana ruang kerjanya berada.
Semua mata tertuju pada Adiva, saat suara lembutnya menyapa sesama rekan kerja.
"Selamat pagi!"
"Pagi, Adiva, selamat datang, dan selamat bergabung," sambut karyawan lain yang berada di satu ruangan itu.
"Terima kasih."
Adiva duduk di kursinya. Menunggu jam kerja dimulai, dia melihat riasannya lagi. Tidak ada yang boleh merusak penampilannya di hari pertama ia bekerja di perusahaan Farraz.
Satu jam berlalu, asisten Farraz datang ke meja kerja Adiva. Lelaki tinggi tegap itu memberikan beberapa map yang harus dikerjakan oleh Adiva.
"Adiva, selesaikan semuanya hari ini!"
"Baik, aku akan menyerahkannya sebelum waktu pulang nanti."
Nando tersenyum kemudian kembali ke meja kerjanya. Adiva membuka satu per satu map yang berisi beberapa laporan keuangan mingguan bahkan bulanan itu.
Setelah itu, dia mulai menyelesaikannya dengan teliti, agar mendapat pujian dari bos besar perusahaan. Lelaki yang akan membukakan jalan menuju rencana balas dendam kepada Maula Qirani.
Sebelum makan siang, Adiva meregangkan otot yang terasa pegal di beberapa bagian tubuhnya. Dia membawa berkas yang sudah selesai ia kerjakan menuju ruangan asiten pribadi Farraz.
Namun tak disangka, keduanya dipertemukam di depan ruangan Adiva, saat Farraz akan pergi keluar. Karena tak memperhatikan jalan di depannya, Adiva hampir saja jatuh saat tubuh rampingnya bertabrakan denga badan kekar Farraz.
"Ah, maafkan saya pak!" Adiva melirik sekilas ke arah Farraz yang menatapnya dengan tatapan intimidasi.
"Sebagai sekertarisku seharusnya kau tidak sembrono!"
Adiva yang sedang membereskan semua kertas berserakan itu mendongak, sehingga tatapan keduanya beradu. Namun ada perasaan aneh yang hinggap di hati Farraz kala sepasang mata itu bertemu.
"Saya tidak sembrono, Pak. Saya sedang mengecek semua berkas itu sebelum saya sampai di ruangan asisten anda."
Farraz mengambil berkas itu dengan kasar dari tangan Adiva. "Aku akan lihat bagaimana pekerjaanmu. Jika tugas enteng saja tidak becus, siang ini juga kau harus pergi dari perusahaan!"
"Lalu bagaimana jika aku mampu menyelesaikannya dengan benar, Pak Farraz?" tanya Adiva dengan tatapan lembut bahkan diiringi senyum manis.
'Baru kali ini ada wanita yang tidak takut saat berhadapan denganku,' monolog Farraz dalam hati dengan tatapan masih tertuju pada wajah Adiva yang tak terasa asing.
"Jika kau berhasil, kau akan tetap di sini sampai waktu tidak ditentukan," jawab Farraz dengan nada pelan namun tidak terdengar marah.
Farraz membuka dokumen itu dan meneliti semuanya tanpa terkecuali. Dia menatap sekilas ke arah Adiva dengan tatapan sulit diartikan. Bahkan membuat semua karyawan yang melihat ikut was was dengan hasilnya.
"Kau sungguh berbakat, aku salah terlalu meremehkan dirimu Adiva!"
Adiva tersenyum lebar, dia mengambil dokumen dari tangan bos tampannya itu. Sengaja dia menyentuh tangan bosnya membuat Farraz merasa salah tingkah.
Bagaimana tidak, di depannya adalah wanita cantik dengan tampilan indah. Lelaki manapun akan terpesona jika menatap sekertarisnya.
Farraz meraih pergelangan tangan kanan Adiva, tatapan keduanya beradu. Sehingga membuat wanita seksi itu merasa was was.
"Besok jangan ke kantor dengan pakaian seperti ini!"
Adiva memberontak sehingga tangannya terlepas dari genggaman Farraz. Dia menuju Kalvian memberikan dokumen yang ia bawa.
"Ini baru beberapa yang selesai, aku pastikan sore ini semua beres," ucap Adiva kemudian pergi menuju kantin perusahaan.
Farraz diam-diam tersenyum dengan tatapan tertuku pada bayangan Adiva yang sudah jauh dari hadapannya.
___
"Si alan, kemana perginya Wisnu. Sudah dua hari ini tidak terlihat. Ponselnya pun tidak aktif."
Maula merasa aneh karena orang kepercayaanya tidak bisa dihubungi. Meski begitu, dia tidak ada keinginan untuk mencari tahu lebih lanjut.
"Hari ini buatkan bekal makan siang yang enak untuk Farraz! Siang nanti, aku yang akan mengantarkannya ke kantor."
"Baik, Nona!"
Enam tahun hidup sebagai nyonya Farraz, membuat Maula benar-benar menjadi ratu. Siapa yang tak kenal dengan suaminya? Lelaki yang paling disegani di dunia bisnis.
Dua jam berlalu, Maula bersiap-siap menuju kantor suaminya. Dia memakai dres warna putih polos tanpa lengan, dengan bagian hampir terbuka sempurna. Rambut lurusnya ia buat ikal dan dia memakai tas branded keluaran terbaru.
Mobil mewah berhenti di depan gedung tinggi itu. Semua hormat saat wanita itu turun dari kendaraan kemudian berjalan masuk menuju perusahaan. Maula membawa tas wadah makan siang menuju ruangan suaminya.
Setelah sampai di lantai 22, dia akan masuk ke ruangan Farraz, namun dihentikan oleh salah satu karyawan.
"Maaf nyonya, Pak Farraz masih rapat."
"Oke, aku akan menunggu di ruangannya."
Tiga puluh menit berlalu, Farraz dan Adiva selesai rapat. Keduanya menuju ruangan lelaki itu karena ada berkas yang harus diambil.
"Aku percayakan tugas membuat kontrak dengan PT. Angkasa ke kamu, Adiva."
"Dengan senang hati, Pak. Saya akan membuat PT. Angkasa menandatangi kontrak tersebut."
Saat pintu ruangan dibuka, Farraz sedikit kaget karena ada Maula di sana. Adiva pun tersenyum tipis menatap istri bosnya itu.
"Ada perlu apa sehingga kau datang ke kantor, Maula?" tanya Farraz sambil duduk di kursinya.
"Sudah lama aku tidak ke sini. Jadi, aku sengaja datang membawakan makan siang untukmu."
"Kenapa kau menyibukkan diri dengan hal yang tidak penting?" tanya Farraz dengan tatapan tak suka kepada Maula.
"Memasak dan memberikan makanan kepada suami itu penting, Sayang," jawab Maula.
"Adiva kemarilah!"
Adiva sedikit tersentak karena suara Farraz yang terdengar keras. Keduaya membahas dokumen kontrak untuk PT. Angkasa. Keduanya tak menyadari jika tubuh mereka sangat dekat.
Maula yang melihatnya menarik nafas dalam kemudian dia berdiri dari tempat duduknya. Sekali tarik, tubuh Adiva terasa melayang. Namun dengan cekatan, Farraz meraih pinggang Adiva agar wanita itu tidak jatuh.
"Baru kerja beberapa hari saja, kau sudah berani menggoda bosmu?" tatapan Maula begitu menusuk ke mata Adiva.
"Nyonya, anda salah paham. Kami sedang membicarkan kontrak kerja sama," jelas Adiva.
"Jika kau hanya akan membuat masalah, lebih baik kau pergi saja, Maula!" titah Farraz dengan nada dingin.
"Biar aku yang pergi, Pak. Saya bisa mengerjakan proyek ini sendiri!"
Saat langkah kakinya sampai di dekat Maula, Adiva berhenti.
"Bukankah anda dan Pak Farraz saling mencintai, kenapa takut dengan kehadiran saya?"
"Dasar wanita ini!" Maula hanya bisa menahan kekesalan karena Adiva melenggang pergi keluar dari ruangan bosnya.
"Jika kau mangajakku makan siang, bawa saja semua itu, karena aku masih kenyang!" Farraz meninggalkan Maula di ruangannya.
"Farraz, aku mau kita makan siang bersama!" Maula berlari mengejar langkah suaminya.
Namun akhirnya dia hanya bisa diam dengan kekesalan yang tidak ada obatnya. Selama enam tahun ini, dia hanya mendapat pengakuan istri di publik.
Sedangkan di hati Farraz dia belum bisa mendapatkannya. Jika tidak ada putrinya, mungkin sampai sekarang pun, dia tidak akan pernah berada si sisi Farraz.
Maula akhirnya membawa kembali bekal makan siang itu ke rumah. Dia enggan berlama-lama di kantor suaminya, takut Farraz semakin marah padanya. Sedangkan Farraz yang ingin keluar, melihat seseorang dan malah mengikutinya.