"Kamu mau kemana?" tanya Farraz setelah berhasil mengejar langkah Adiva saat masuk ke lift.
"Makan siang, Pak di kantin," jawab Adiva dengan senyum tipis.
"Baiklah, aku ikut!" Farraz berjalan lebih dulu setelah pintu lift terbuka.
Adiva merasa aneh dengan sikap bosnya yang kadang dingin juga terkadang ramah.
'Padahal, dia tadi dikirim oleh istrinya. Kenapa malah milih ke kantin bersamaku?' tanya Adiva dalam hati.
Semua orang yang ada di kantin langsung ketakutan karena tak biasanya petinggi perusahaan mau makan di kantin. Meski ada sidak dadakan pun, Farraz tak pernah nampak.
"Awas saja jika menunya tidak sesuai standar yang diajukan, aku akan habisi Nando!" Farraz berucap lirih dengan tatapan menyebar ke seluruh isi kantin.
Sedangkan Adiva, mesih mendengar gerutuan bosnya itu. Sebelum keduanya ikut mengantri, penanggung jawab kantin menghampiri Farraz dengan wajah was-was.
"Pak Farraz, adakah yang bisa saya bantu?"
"Tidak ada, Pak. Sesekali hanya ingin makan siang di kantin.
Nando yang sudah mendapatkan makan siangnya pun menatap tak percaya ke arah depan, di mana bosnya itu berdiri.
"Anda makan di sini, Pak?" tanya Nando dengan tatapan tak percaya.
Farraz melirik asisten pribadinya itu, "Memangnya apa yang kalian sembunyikan dariku?"
Farraz menatap bergantian ke arah Nando dan juga pengurus kantin. Keduanya lantas menggeleng sebagai isyarat sanggahan.
"Kalau begitu silakan duduk, Pak!" Pengurus kantin itu mempersilakan ke ruangan yang khusus untuk pejabat perusahaan.
"Di sana saja!" Farraz menunjuk meja kosong diantara karyawan yang sedang menatap takut ke arahnya.
Adiva tidak menunggu bosnya itu berdebat, dia melanjutkan langkah menuju antrian mengambil jatah makan siang. Namun Farraz menarik lengan wanita cantik itu, sehingga keduanya bertatapan.
"Aroma ini terus keluar dari dirimu, Adiva?"
"Lalu, apakah anda terganggu?"
'Apakah ada wanita yang punya ciri khas aroma yang sama?' tanya Farraz dengan terus menatap wajah cantik namun tidak asing dalam pikirannya.
"Kau mengingatkanku pada seseorang," jawab Farraz pada akhirnya.
"Ikut aku saja agar kau tak lama mengantri!"
Adiva tersenyum tipis, dengan ingatan melayang ke malam itu. Di mana Farraz terus mengendus dan menciumi lehernya dengan brutal. Seolah lelaki itu enggan melepaskan mangsa di depannya.
Keduanya dalam keadaan setengah sadar, namun anehnya, Farraz seolah menolak mengingat semua hal itu.
'Apakah sampai sekarang dia tidak tahu siapa wanita yang ia t*d*ri di malam itu?' tanya Adiva menatap serius ke arah bosnya.
Makan siang yang langka terjadi di kantin perusahaan ternama milik lelaki yang terkenal dingin dan arogan. Adiva menjadi wanita satu-satunya yang bisa makan bersama dengan pemilik perusahaan.
___
"Buatkan aku kopi, dan bawa ke ruanganku!"
Sebuah perintah yang terhubung lewat panggilan telpon. Adiva hanya mendengarkan tanpa menjawab. Setelah panggilan selesai, wanita cantik itu menuju pantry untuk membuatkan pesanan bosnya.
Tak lama, dia mengetuk pintu, kemudian masuk ke ruangan Farraz dengan wajah tegang namun terbalut tekad dan senyum manis.
"Ini kopi Anda, Pak!"
"Jangan pergi dulu, aku belum mencobanya, kalau tidak enak, kau harus membuatnya lagi!"
Adiva mengangguk, meletakkan nampan di depan dadanya. Menunggu respon dari bosnya. Sedangkan Farraz, mencicipi kopi buatan wanita yang mulai mengganggu pikirannya.
"Apakah saya harus membuatnya lagi?" tanya Adiva saat bosnya meletakkan kopi di meja kerjanya.
"Tidak. Kau sudah pintar membuatnya."
"Kalau begitu saya permisi!"
Farraz menatap tanpa kedip saat tubuh semampai Adiva keluar dari ruangannya.
"Sebenarnya dia itu siapa?" tanya Farraz dengan wajah bingung.
Tak lama pintu kembali diketuk, Nando datang dengan sebuah berkas di tangannya.
Dokumen ini dari bagian pemasaran, Pak. Mereka ingin minta tanda tangan anda."
Farraz menerima dokumen dan memberikan tand tangan. Setelah selesai, dia menatap asiatennya agak lama, sehingga membuat Nando bertanya.
"Apakah ada lagi yang perlu saya bantu, Pak?"
"Cari informasi tentang Adiva Ariswarya segera!"
"Apa anda sedang mencari seseorang?" Nando memberanikan diri bertanya karena penasaran.
"Hanya memastikan jika dia adalah seseorang yang aku cari," jawab Farraz datar.
Nando mengangguk kemudian pamit kembali bekerja.
Beberapa jam berlalu, saat Adiva ingin ke toilet, ada dua wanita yang menghadangnya. Hal itu membuat wanita cantik itu sedikit waspada. Namun dirinya juga tidak akan melakukan hal yang merugikan, sebelum berhasil mendapatkan perhatian juga hati bosnya.
"Kamu bisa diterima menjadi sekertaris Pak Farraz, apakah menj*al tubuhmu yang seksi ini!" salah satu wanita itu menunjuk bagian dad* Adiva.
"Banyak sekali wanita yang melamar kerja menjadi sekertaris, tetapi, hanya kamu yang diterima, dan sisanya termasuk kita masuk ke bagian lain."
Farraz yang akan pergi mendengar keributan itu. Dia melihat dari jauh saja. Hingga kejadian tak terduga di alami Adiva.
"Kau cantik juga seksi, meski tidak bekerja di sini pun, kau bisa mendapatkan banyak uang," ucap salah satu wanita itu.
"Kau hanya iri karena aku lebih dekat dengan Pak Farraz. Jadi, jangan terus membuat masalah denganku," jawab Adiva menatap remeh ke dua wanita di depannya.
Merasa tak terima akan ucapan Adiva, keduanya mendorong bahu sekertaris Farraz hingga terjatuh. Bahkan, membuat rok mini yang dia kenakan sobek saking kerasnya dorongan keduanya.
"Kenapa kalian main kekarasan di sini?" suara bariton itu langsung membuat kedua wanita itu bungkam dengan badan gemetar.
Sedangkan diam-diam, Adiva tersenyum juga menahan punggungnya yang terbentur tembok. Dia juga merasa malu, karena roknya harus sobek dan memperlihatkan bagian dalam pahanya ke bosnya.
"Kalian berdua, datang ke ruanganku sekarang!" titah Farraz dengan nada marah.
"Ta—pi, Pak—"
"Aku melihat semua yang kau lakukan kepada sekertarisku. Tunggu hukuman yang harus kalian terima!"
Kedua wanita itu langsung pergi, dia harus segera berada di ruangan Farraz. Sedangkan lelaki tampan itu, melepas jasnya lalu membantu memakaikan di tubuh Adiva.
Aroma manis bercampur wangi yang tak bisa dijelaskan itu menguar kembali menusuk penciuman Farraz.
"Dari mana asal aroma manis ini?" tanya Farraz semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Adiva.
"Aroma manis bisa menjadi racun sekaligus obat untuk yang membutuhkan," jawab Adiva dengan tatapan polos dibalut senyum tipis.
Sehingga semakin membuat pandangan Farraz tertuju padanya.
"Kau tidak memberikan jawaban dari pertanyaanku!"
Adiva menatap bosnya dengan senyum lebar. Karena dirinya memang tidak ingin menjelaskan mengenai parfum yang ia gunakan.
"Ayo ke ruanganku!" Farraz seolah tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepada dua wanita yang sudah bertindak arogan kepada Adiva.
Hanya butuh waktu singkat Farraz sampai di ruangannya. Nando yang tidak paham akan situasinya juga bingung karena bosnya tidak jadi pergi.
"Nando, kamu juga ikut masuk!"
Tak lama dua wanita yang dipanggil datang. Farraz menatap penuh amarah kepada dua karyawannya itu. Dia belum pernah mendapati ada karyawan yang menind@s teman lainnya.
"Kalian berdua merasa tidak terima karena Adiva yang terpilih menjadi sekertarisku kan?"
"Kalian juga pengen tahu, apa yang membuat perusahaan ini menerimanya?" tanya Farraz dengan nada tinggi karena amarah yang tidak tertahan.
Jelaskan pada mereka kenapa perusahaan menerima Adiva sebagai sekertaris, Nando! Karena mereka, Adiva di buly di kantor," ucap Farraz.
"Baik, Pak!"
"Nona Adiva diterima karena punya nilai yang bagus saat wawancara. Dia juga satu-satunya wanita yang punya niat bekerja, tidak seperti pelamar lain yang hanya tertarik dengan yang punya perusahaan."
Farraz menatap dua orang karyawannya itu dengan tatapan marah. "Kalian dengar ...?"
Keduanya hanya mengangguk dan menundukkan wajahnya karena takut. Bahkan mereka juga belum tahu apa yang akan menjadi hukuman atas kejadian ini.
"Hukuman untuk kalian, selama satu minggu menjadi OB di lantai ini. Kalian bersihkan semua tanpa ada yang terlewat!"
"Ba—baik, Pak!" keduanya serempak menjawab dan langsung pergi tanpa menunggu di perintah oleh Farraz.
Farraz menatap Nando, "Kamu juga keluar!"
"Kau ikut aku!"
Adiva mengeryit merasa bingung karena tidak ada jadwal keluar bertemu klien.
"Kau mau kerja dengan rok sobek begitu?"
"Saya juga enggak bawa pakaian cadangan di mobil," jawab Adiva menundukkan wajahnya.
Tanpa menunggu lama, Farraz menarik pergelangan tangan sekertarisnya. Adiva mengikuti kemana bosnya akan membawanya pergi. Dia enggan berdebat karena akan menambah kemarahan Farraz.
Tak lama, mobil mewah Farraz berhenti di sebuah butik.
"Ayo turun!"
Adiva turun dan ikut masuk. Semua pelayan toko menyambut dengan ramah, karena ada tamu penting.
"Carikan setelan kerja untuk dia!" titah Farraz.
"Baik, Tuan!"
Adiva memilih pakaian yang pas untuk dia kenakan. Lagi dan lagi, dia memilih pakaian yang sedikit menantang dan pastinya akan dilarang oleh Farraz.
"Aku sudah memilih, Pak. Bagaimana dengan ini?" tanya Adiva polos.
Tatapan terkejut itu hanya sesaat terlihat, Farraz dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya.
"Kenapa kau selalu memakai pakaian yang terbuka?" tanya Farraz karena merasa kesal kepada sekertarisnya.
Bagaimanapun juga, dia adalah pria normal, dan Adiva seolah wanita yang mungkin sama dalam kejadian enam tahun silam. Dengan sekuat tenaga dia meredam gejolak yang tidak pernah ia rasakan jika bersama Maula.
"Pak Farraz tidak bisa melarangku menggunakan apa, di perusahaan bapak tidak ada aturan berpakaian. Dan anda juga bukan kekasih saya."
Farraz menarik tangan Adiva sehingga tubuh mereka berdekatan. Tatapan keduanya beradu, jelas terlihat kemarahan di wajah Farraz.
Sebuah pertanyaan dari Adiva membuat lelaki itu semakin tak berkutik.