Aku hanya tersenyum, sebagai tanda pertama kali kita berjumpa. Tak ada sedikit pun niatan membuatmu jatuh cinta.
...
Archer menegakkan tubuhnya, lalu menaikkan tudung hodie-nya. Ia mengacak anak rambutnya agar menutupi matanya.
"Apa kau berlagak menjadi cowok yang keren?" tanya Diah dengan nada mengejek.
Archer mendengus kesal. "Aku hanya tak mau mencuri banyak perhatian, aku tak suka keramaian," aku Archer, setidaknya saat ia sekolah dulu ia masih punya teman pendamping, tapi sekarang ia benar-benar sendirian.
Diah mendecih, "Percuma saja, kursi jabatan OSIS yang dikosongkan juga sudah membuat kegemparan, dan kabar kedatanganmu hari ini juga sudah tersebar. Jika kamu tidak suka keramaian, abaikan saja.."
Archer mengernyit, "Bukankah itu terlalu jahat?" tanya Archer ragu.
Diah menyentil jidat Archer, "Bukankah kau jahat?" tanya Diah mengejek, ia mengingatkan Archer tentang jati dirinya yang sebenarnya sebagai pembunuh.
Archer terkekeh sinis, ia tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menyanggahnya. Padahal ia tahu jelas, ia bukan jahat yang tak punya hati.
Archer melirik seorang lelaki yang menyeret kopernya dengan datar, lapangan futsal dan lapangan basket ditambah lapangan voli serta lapangan atletik juga beberapa lapangan lainnya membuat Archer mendengus. Ia ingin sekali mengeluarkan jurus lari cepatnya agar segera sampai, ia tak suka cahaya matahari.
Sorakan riuh terdengar dari seisi gedung, Archer menganggap hal itu normal karena anak labil seusia mereka amat suka kegaduhan. Namun, Archer berubah pikiran ketika ia mengangkat pandangannya. Ia mendapati seluruh balkon di setiap lantai berjajar banyak murid yang bersorak riuh.
Sorakan itu semakin ramai ketika angin kencang meniup rambut acak-acakan Archer dan menampakkan seluruh mukanya. Archer mendengus dan kembali menundukkan wajahnya.
Archer menatap keseluruhan gedung asrama yang amat megah, karpet hitam beludru yang melapisi tangga membuat suasana asrama itu seperti kastil megah. Archer tersenyum dalam hati, tampaknya ia akan menikmati kehidupan barunya di sini.
Archer menaiki tangga dengan tenang, berusaha mengabaikan para gadis yang jejeritan di sekelilingnya. Diah tersenyum tipis sembari sesekali melirik Archer dan mengagumi bagaimana cara muridnya bersikap setenang itu.
Ia memandu Archer ke lantai tiga dan berjalan menuju lantai yang dinamakan benua Asia, berbelok ke komplek Turki dan berjalan ke kamar keempat.
Archer berhenti sejenak di depan pintu kamar, dan melirik ke arah Diah yang masih diam. "Aku ingin berbicara beberapa hal padamu," tutur Archer.
Diah mengangguk menyanggupi, lalu meraih kenop pintu dan membukanya. Beberapa lelaki langsung menatap ke arah pintu yang dibuka Diah.
"Miss Diah? What do you need?" Seorang lelaki yang sedang duduk menghadap meja belajar bertanya.
Diah tersenyum canggung, "Akan ada anggota baru di kamar ini, aku perlu berbicara empat mata dengannya. Can you give me a place?"
Tiga murid laki-laki lainnya langsung bangkit, lalu keluar kamar. Tertinggal seorang gadis yang jongkok dan menghadap laci, tampak seperti mencari barang yang hilang.
"Zevanya? Kamu masuk kamar cowok?" peringat Diah dalam tanyanya.
Zevanya yang mungkin terlalu fokus tersentak kaget, lalu menatap Diah takut.
"Miss? Youre here? I was looking for the Oxford dictionary that Dion kept,"jawab Zevanya.
Diah menghela nafas, "You already know the consequences, harusnya kamu membawa salah satu temanmu," dengus Diah.
Zevanya bangkit dan menundukkan tubuhnya, "This is the last time Miss, I won't do it again," sesal Zevanya.
Diah mengangguk.
"Aku pergi dulu, assalamu'alaikum," pamit Zevanya.
Diah menjawab salam Zevanya dan menepikan tubuhnya. Namun Archer tetap bergeming di tempatnya, membuat Zevanya mendongakkan pandangannya.
"Kamu ketua OSIS yang baru ya?" tanya Zevanya.
Archer mengangguk.
"Aku Zevanya, salam kenal," ucap Zevanya tersenyum lebar hingga gigi gingsulnya tampak.
Archer mengangguk, "Aku Archer," balas Archer tersenyum tulus. Senyum yang membuat Zevanya terpaku di tempatnya berdiri.
Zevanya bukannya tak pernah melihat wajah lelaki tampan sebelum ini, dan Archer bukan satu-satunya lelaki tampan yang tersenyum padanya. Namun, senyum yang ia dapat dari Archer membuat hati Zevanya yang sedang dilanda angin musim panas karena kehilangan kamus Oxford-nya, menjadi sesejuk musim salju dengan beberapa bunga snowdrop yang baru saja tumbuh.
Suara dehaman Diah terdengar jelas, membuat Zevanya mengerjap dan membuyarkan lamunan sesaatnya. Zevanya segera menunduk santun dan mundur perlahan dengan rasa malu.
Diah menghela nafas lalu menutup pintu serta menguncinya. Ia berjalan ke arah balkon dan mengabaikan Archer yang masih membisu.
"Davina Illona Ozora menempati kamar keenam komplek Luxemburg, sama-sama lantai tiga, tapi beda gedung,," ucap Diah mulai membuka topik.
"Apakah jauh?" tanya Archer.
Diah menggeleng, "Masih satu lantai, Ar. Tapi memang agak jauh, aku tak tahu apa yang diinginkan Aiden sebenarnya, tapi kurasa kau tak perlu terlalu serius. Lindungi saja dari bahaya," jawab Diah enteng.
Archer mengangguk, "Iya, melindunginya, aku faham itu. Tapi, apakah di asrama ini ada bahaya untuknya?" tanya Archer bingung. Saat di pesawat tadi, ia membuka beberapa berkas dan file yang menuliskan tentang Davio, dari situ Archer ragu bahwa Davio sudah dilatih beberapa jurus beladiri, jika memang sudah terlatih, kenapa sang bos bersikeras mengirimnya kemari?
Diah menggeleng ragu, "Aku tidak yakin. Tapi selama aku di sini, aku tak pernah tahu gadis itu terkena bahaya apapun. Ia.. hanya terlalu sering terkena hukuman," jelas Diah.
"Hukuman? Karena apa?" tanya Archer ingin tahu.
Diah mengangkat bahunya, "Bukan pelanggaran besar kok, dan kurasa tak terlalu serius juga. Aku menyuruhmu menikmati tugas ini, karena di sini seperti liburan untukmu. Kau bisa bergaul dengan anak yang lebih muda darimu, dan kau akan mendapat banyak pujian karena parasmu yang lumayan," celoteh Diah.
Archer mendengus kesal ketika mendengar kalimat terakhir, "Aku tak peduli pada diriku, tugasku adalah yang paling utama."
Diah menghela nafas, "Mungkin Aiden hanya memintamu untuk mengawasinya, tak lebih, tolong jangan terlalu serius, kau akan sulit merasa bebas dan bahagia jika begini caramu menjalani hidup," saran Diah.
Archer diam dan tenggelam dalam pikirannya, hingga Diah menepuk pundaknya dan pamit.
Sepeninggal Diah, pintu kembali terbuka, 3 anak laki-laki masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ketua OSIS ya?" tanya salah satu di antara mereka yang paling tinggi.
Archer mengangguk tanpa suara.
"Aku Arnius, ini Dimitri dan dia Valiant," ucap Arnius sembari menunjuk kedua teman yang berdiri di sampingnya.
Archer mengangguk, "Aku Archer."
Mendengar nama Archer, Arnius bersorak heboh, "Wow! Kita bisa menjadi dua AR!"
Archer terkekeh ketika mendengarnya, lalu menatap Dimitri yang menatapnya lekat. "Ada apa?" tanya Archer.
Dimitri menggeleng pelan lalu berdecak kagum, "Aku kira kau keturunan dewa!"
"Itu pujian?" tanya Archer menebak dengan nada bicara yang membuat Valiant terpingkal.
"Aku malah mengiranya melakukan operasi plastik," imbuh Valiant di sela-sela tawanya.
"Hoi!" sorak anak laki-laki yang berdiri di ambang pintu.
Valiant menoleh, "apa Ris?" tanya Valiant.
Yang dipanggil 'Ris' itu mendengus, "Apa ada yang namanya Archer di sini?" tanya Faris mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Jari jempol Dimitri spontan menunjuk ke arah Archer.
Faris maju ke arah Archer dan mengamati Archer dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu mengangguk. "Lumayan, ga heran Zevanya suka," gumam Faris.
"Hah? Aku ga salah dengar kan?!" pekik Arnius kaget.
Faris nyengir lalu menggeleng, "Dari markas tadi aku liat Zevanya jingkrak-jingkrak di atas kasur, waktu kutanya kenapa, dia jawab kalo dia kena pelet," cerocos Faris.
"Pelet?" Archer tak mengerti.
Sedangkan Arnius menatap Archer dengan sorot kaum atau bangga yang entah kenapa tak bisa Archer artikan.