Hari hari berlalu.
Namun tak ada kejelasan yang raka dapatkan dari penantiannya menunggu istrinya.
Raka juga merasa malu terlalu lama tinggal di rumah mertuanya.
Meski raka tak berpangku tangan, namun tetap saja raka tak enak hati.
Setelah berfikir lama. Akhirnya raka memutuskan untuk pergi dan mengakhiri penantiannya.
Raka memilih membiarkan tika memilih keputusannya.
"Bu, Raka pamit ya." ucap raka pada sang ibu mertua.
Entah apa status raka dan tika sekarang, raka tidak tau. Tapi raka tetap menganggap ratih seperti ibunya sendiri.
"Kamu yakin tidak mau menunggu tika lagi?" ratih melihat raka kasihan.
Raka yang dulu selalu terlihat rapih dan wangi.
Kini nampak kumal. Meski aura ketampannan itu masih ada. Tapi tetap saja, jauh dari raka yang dulu.
"Biarlah bu. Biar raka jalani hidup raka dengan penyesalan yang raka buat sendiri. Dan biarkan tika bahagia dengan pilihannya."
Raka mengambil tas yang berisi pakaiannya.
Raka melangkah meninggalkan rumah mertuanya.
Ratih menatap punggung sang menantu dengan tatapan nanar.
Tapi ratih juga tidak bisa melakukan apapun.
****
Beberapa bulan kemudian.
Tika pulang ke desa tanpa memberi tau ibunya.
Tika ingin memberi kejutan untuk sang ibu.
"Asalamualaikum." ucap tika saat sudah sampai di depan pintu rumahnya.
"Wa'alaikum salam. Ya allah nduk. Kamu ngagetin ibu. Kamu kok pulang gak bilang bilang sama ibu." ratih yang kaget kini tengah memukul mukul kecil lengan tika.
"Kan kejutan bu. He he he." jawab tika cengengesan.
"Kalau ibu jantungan gimana?"
"Ya jangan donk." tika segera memeluk ibunya.
Tika sangat merindukan ibunya.
Sudah hampir satu tahun tika tak bertemu dengan ibunya.
Ya. Pernikahan tika dan raka pun hampir satu tahun.
Tapi entah apa setatus mereka sekarang.
Dan entah di mana raka sekarang pun tak ada yang tau.
Ratih pun tak pernah mendapat kabar dari raka.
Padahal ratih sudah berpesan pada raka untuk mengabarinya saat ia sudah sampai di tujuannya.
"Bu. Itu kambing siapa?" tanya tika yang melihat ada beberapa ekor kambing di samping rumahnya.
"Itu kambing ibu. Ini ibu tadinya mau bawa kambing itu ke ladang sambil cari rumput juga."
"Ibu kok gak pernah cerita kalo ibu miara kambing. Jadi selama ini ibu selain ke ladang ibu juga piara kambing?"
Tika tak menyangka ibunya ada banyak mengerjakan ini dan itu. Mengingat usianya yang tak lagi muda. Tika khawatir ibunya kecapekan. Apa lagi kambing itu bukan hanya satu. Tapi ada lima ekor kambing.
Belum lagi ada ladang dan juga sawah.
"Ibu kalo ibu kecapekan gimana? Itu kambing banyak lo. Suruh orang lain aja yang miara kambing ibu."
"Beberapa bulan yang lalu ada yang bantu ibu buat merawat kambing ibu. Tapi sekarang orang itu pergi entah kemana."
"Ya sudah, nanti cari orang lain aja buat jaga itu kambing. Tika gak mau ibu terlalu capek. Ibu udah tua. Ingat umur bu." dengus tika kesal.
Setelah perdebatan tentang kambing itu berakhir. Tika dan ratih memutuskan untuk mencari rumput bersama.
Setelah di rasa cukup mereka pun bergegas pulang.
Malam harinya setelah tika selesai mandi. Tika berniat menata baju bajunya di lemari.
Karna dari tadi belum sempat merapikan baju bajunya dari dalam koper.
Tika berniat tinggal di desa agak lama sebelum kembali ke kota.
Karna kebetulan cafe tempatnya bekerja kini tengah di renovasi.
"Loh. Ini baju siapa? Kok ada baju laki laki di sini?" gumam tika saat menemukan beberapa pakaian laki laki di dalam lemari yang ada di kamarnya.
Tika mengeluarkan pakaian itu.
Tika melihat satu persatu pakaian itu.
Tika nampak tak asing dengan baju yang saat ini ada di tangannya.
Jantungnya berdebar.
Matanya memanas.
"bu. Ibu." teriak tika memanggil ibunya.
"Ada apa nduk?" ratih tergopoh lari dari arah dapur.
Saat ratih sampai di dalam kamar tika ratih pun berdiri kaku menatap pakaian sang menantu.
Dengan nada bergetar, tika bertanya pada ibunya.
"Apa selama ini mas raka bersembunyi di sini bu?"
Ratih hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa ibu gak pernah kasih tau tika bu?"
"Apa kamu pernah bicara tentang raka pada ibu saat kamu menghubungi ibu?
Apa kamu jujur pada ibu?
Apa pernah kamu berbagi masalah kamu dan raka pada ibu? Kalau kamu saja tidak pernah menanyakan tentang raka pada ibu, bagaimana ibu bisa memberi tau raka ada di sini pada kamu tika?"
"Kalian sama sama keras kepala. Raka pun sama tak mau ibu memberi tau keberadaannya di sini. Sudah berulang kali ibu menyuruhnya pulang ke kota. Tapi dia menolak. Karna dia ingin menunggu kamu di sini. Kalau pun dia kembali ke kota pun dia tidak bisa mrnemukan kamu. Jadi dia memutus kan untuk menunggu kamu di sini." jelas ratih pada tika yang kini tengah menangis memegang erat baju raka.
"Di mana Mas Raka sekarang bu?" tika mendongak menatap sang ibu.
"Setelah sekian lama penantiannya tak membuahkan hasil. Akhirnya raka menyerah untuk menunggu kamu. Entah kemana raka sekarang. Ibu sudah berpesan padanya untuk menghubungi ibu. Tapi tak sekali pun raka menghubungi ibu. Dia sudah tak punya apapun. Entah apa yang ia kerjakan sekarang. Selama di sini raka makan dengan lahap. Entah sekarang raka sudah makan atau belum. Ibu tidak tau." ratih tak bisa menahan tangisnya yang merasa bersalah karna membiarkan raka pergi. Padahal ratih tau, raka tak punya apapun sekarang.