"Hallo Bu. Ibu apa kabar?" sapa tika pada ibunya melalui ponsel.
"Baik Ndok. Kamu sendiri apa kabar?"
"Tika baik bu. Apa ibu betah tinggal di desa bu?"
"Kamu ini. Ibu sudah tinggal di desa beberapa bulan lamanya ndok. Kalo ibu gak betah pasti ibu sudah cari kerjaan di kota lagi. Ibu senang ndok setiap hari bisa ngobrol dengan warga desa. Ibu juga sudah lama gak ke ladang. Ibu betah ndok. Kamu gak perlu khawatir."
"Maaf ya bu. Tika belum bisa pulang jengukin ibu."
"Iya gak apa apa ndok. Gimana kabar suami kamu ndok?" ratih sengaja menyinggung tika dengan menanyakan keadaan suaminya. Karna sampai saat ini tika belum juga mau jujur pada ibunya tentang keadaan rumah tangganya.
Ratih juga tidak memberi tau tika jika raka ada di rumahnya sekarang.
Ratih menunggu tika yang mengatakan masalahnya terlebih dulu.
Tika terdiam mendengar pertanyaan dari sang ibu.
Karna nyatanya tika tidak tau di mana keberadaan raka sampai saat ini.
"Mas raka baik bu. Semua baik." bohong tika pada sang ibu.
Raka yang saat itu duduk di samping ratih pun hanya menunduk diam mendengar suara istrinya lewat ponsel ibu mertuanya.
"Ya sudah ndok, ini ibu mau ke kota sebentar. Mau beli benih kacang buat di tanam di ladang." ratih tak tega melihat raka yang terus menundukkan wajahnya.
Ratih juga tak tega mendengar suara bergetar anaknya di sebrang sana.
Ratih memilih segera mengakhiri obrolan dengan anaknya.
"aya sudah bu. Ibu hati hati. Ibu pergi ke kota dengan siapa?"
"Ibu pergi ke kota dengan laki laki tampan." ucap ratih cengengesan.
Ratih sengaja berkata seperti itu untuk sedikit menghibur anak dan menantunya.
Dan benar saja. Raka menatap ratih dengan senyuman saat mendengar kata tampan. Karna raka tau yang di maksud ratih adalah dirinya. Karna ratih akan pergi ke kota dengan raka.
Tapi tika justru mencak mencak mendengar ibunya mengatakan laki laki tampan. Tika berfikir ibunya sedang kasmaran.
"Ibu aku gak mau punya ayah baru ya bu. Ibu ini ada ada saja." sewot tika.
"Memangnya kenapa? Ibu juga pengen gendong anak kecil lagi. Kamu dan suami kamu kan belum kasih ibu cucu jadi ibu bikin sendiri saja." gurau ratih lagi.
Lalu ratih memutuskan panggilan itu.
*****
Sidang demi sidang sudah tika lalui tanpa hadirnya raka.
Raka benar benar menghilang menurut tika.
Alan pun semakin kelimpungan mencari ke mana raka bersembunyi.
Hanya menunggu satu tanda tangan dari raka saja. Maka semua selesai.
Namun entah ke mana laki laki itu menghilang.
"Mas alan masih belum menemukan tanda tanda di mana mas raka?" tanya tika saat Alan berkunjung ke cafe di mana tika bekerja.
Saat ini tika bekerja di cafe milik sepupu alan.
"Belum. Entah ke mana perginya pria bodoh itu. Apa mungkin dia sudah mati bunuh diri ya?" alan menerka nerka ke beradaan raka yang tak juga di temukan.
"Mas Alan itu kalo ngomong suka ngawur." sewot tika tak suka.
Bagaimana pun tika tidak mungkin siap jika benar raka bunuh diri karna masalah rumah tangga mereka.
Tika tidak mau di cap wanita paling tega atau kejam.
"Ya bisa aja kan tik. Gak biasanya seorang raka menghilang begini. Aku udah tanya ke semua temen teman kita. Dan mereka gak ada yang tau. Mungkin raka sudah gantung diri di bawah pohon toge." ucap alan dengan sedikit tertawa.
"Tau akh Mas Alan lama lama ngeselin. Mau bagaimana pun kan sekarang mas raka masih suami aku. Kalo dia gantung diri aku juga yang di cap jadi istri kejam Mas." ucap tika lagi.
"Kamu mencintai Raka Tika?" tanya alan serius.
Tika menunduk mendapat pertanyaan seperti itu.
Tika memang mencintai raka, tapi tika tidak bisa menerima sikap raka yang selalu saja berganti perempuan dan ingkar janji.
Tika tak menjawab pertanyaan alan.
Tika pergi ke dalam cafe meninggalkan alan yang duduk di kursi depan cafe dengan di temani secangkir kopi.
****
"Raka itu bantuin Pak Rt bawa karung bibitnya." perintah ratih yang hari ini akan mulai menanam benih kacang di ladangnya.
Di bantu oleh raka dan pak rt untuk membawa benih kacang itu ke ladang.
"Iya Bu tunggu raka pake sunblock dulu." meski kulitnya sudah berubah coklat karna selalu terpapar matahari namun raka tetap mencoba memakai sunblock untuk sedikit mencegah kulitnya semakin menghitam.
Ratih me nggleleng kan kepala melihat raka yang rutin memakai lotion dan lain lain.
Ratih sudah beberapa kali menyuruh raka kembali ke kota. Namun raka enggan kembali. Raka bertekad menunggu tika datang ke desa dan pulang ke kota bersama tika.
Sesampai nya di ladang mata raka melotot tak suka.
Di sana ada nining. Perempuan centil yang gemar menggoda raka.
"bu. Kok ada manusia jadi jadian sih di sini?" tanya raka pada ratih.
Raka sangat tak suka ada nining di ladang ibu mertua nya
"sudah biar kan saja. Kamu pulang saja. Nanti kamu cari rumput buat pakan kambing. Sekalian bawa kambing nya jadi kambing ny juga bisa makan di luar. Biar ibu yang nanam kacang sama oak rt dan bu menur. Nanti juga ada bi kasih yang bantu ibu." ratih tau raka tak menyukai nining. Tapi nining memang keras kepala juga tidak bisa di bilangin.
Raka pulang ke rumah. Mengambil karung dan sabit.
Lalu membawa kambing kambing nya ke ladang untuk mencari rumput.
"kapan kamu datang tika." gumam raka saat ia duduk dan memandangi kambing nya yang tengah lahap memakan rumput.