"Maaf, saya belum terbiasa dengan keadaan sekarang. Saya juga tidak tau harus memanggil anda apa."
"Maka dari itu, biasa kan mulai sekarang. Aku suamimu bukan majikanmu. Panggil lah aku selayak nya aku suamimu."
"Anda ingin saya panggil seprti apa?" Tanya tika yang bingung dengan nama panggilan apa yang cocok untuk mantan majikannya.
"Terserah kau saja, yang penting jangan panggil aku Tuan, karna aku bukan majikanmu."
"Bagaimana kalau MAS saja?"
Raka diam sejenak menimbang nimbang apakah MAS bagus untuk nya?
"Baiklah, MAS lebih baik dari pada kau memanggilku dengan sebutan Tuan. Dan sekarang coba kau panggil aku MAS aku ingin mendengarnya."
Raka tersenyum jail sengaja menggoda tika yang masih malu malu berada di satu ruangan yang sama dalam kondisi yang sudah berbeda.
Mereka sering berada di dalam kamar raka hanya berdua namun saat itu status mereka masih antara majikan dan asisten rumah tangganya.
Keadaan sekarang sudah berubah. Mereka duduk di ranjang yang sama dengan status baru.
"Baik M M MAS." Jawab tika sedikit gugup.
"Tidak perlu gugup. Mendekatlah." Raka menyuruh tika untuk mendekat.
Namu tika mematung tak menggeser bokongnya sedikit pun.
Dan itu membuat raka gemas menatap sang istri yang masih duduk dengan kepala menunduk.
"Kenapa kau tidak mendekat? Aku menyuruh mu duduk mendekat tika."
"Baiklah, biar aku saja yang geser."
Raka sudah tidak sabar dengan sikap tika yang sepertinya sangat gugup.
"Tuan mau apa?" Ucap tika saat tiba tiba raka merangkul pundaknya.
"Apa kau bilang? Coba ulangi. Kau panggil aku apa tadi?"
"Emh. Maksud saya mm mas mau apa?"
"Tidak usah terlalu kaku padaku tika. Dan perlu aku ingatkan, jika kau memanggilku tuan lagi maka aku akan memberikan kamu hukuman."
"Hukuman?" Tika melotot menatap suaminya.
Terdengar sangat kejam bagi tika, hanya karna salah menyebut nama panggilan saja harus menerima hukuman?
"Ya hukuman. Apa kau mau tau hukuman seperti apa yang akan aku berikan pada mu?"
"Ya. Apa hukuman itu sakit? Apa kau akan memukulku?" Tanya tika yang mencoba untuk tidak berbicara terlalu kaku lagi pada raka. Tika takut akan ada hukuman tambahan jika dia salah berbicara dan tidak menuruti keinginan suaminya
"Pintar, cara bicara mu sudah tak terlalu kaku padaku. Apa kau takut ada hukuman tambahan? Tapi kau baru saja melakukan satu kesalahan dan aku harus tetap meng hukummu."
Dengan cepat raka menyentuh dagu tika dan membawa gadis itu duduk di pangkuannya.
Tika seketika terkesiap dengan perlakuan suaminya yang tiba tiba mengangkat tubuhnya untuk duduk di pangkuannya. Dan itu membuat tika semakin gugup dan bertanya tanya hukuman apa yang akan suaminya berikan.
Dengan perlahan raka menarik tengkuk tika dan satu tangannya menangkup rahang tika.
Secara perlahan dan lembut raka menempelkan bibirnya pada bibir tika.
Cup.
Ciuman sekilas itu mampu membuat tubuh tika kaku seperti patung batu.
Ciuman kedua tika. Dan masih dengan orang yang sama. Bedanya, saat ini status mereka adalah suami istri, jadi tidak ada alasan untuk tika menolak itu.
Melihat tika yang hanya diam dan tak merespon apa pun, membuat raka ingin melumat bibir manis di hadapannya.
Raka kembali mencium bibir lembut tika, awalnya hanya menempel.
Namun raka yang sudah lihai dalam urusan ranjang apa lagi hanya sekedar ciuman raka melumat lembut bibir istri nya dan raka memberikan lumatan lembut di bibir tika.
Raka tidak mau tergesa gesa karna tau ini adalah pengalaman pertama tika.
Raka terus melumat bibir tika dengan lembut. Dan saat tika membuka sedikit mulut nya raka segera mengambil kesempatan untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut tika untuk menjelajah setiap rongga yang ada di dalam mulut tika.
Tika yang belum pernah berciuman hanya diam kaku menikmati apa yang di lakukan suaminya.
Raka menghisap bibir tika dengan lembut.
Menarik dan mencecap lidah tika dengan lihai.
Tika terlihat menikmati apa yang raka lakukan pada bibir dan lidahnya.
Dan saat raka melumat bibir tika sedikit kasar tiba tiba tika mengeluar kan suara seksinya.
"Emh." erang tika yang tercekat di tenggorokan.
Raka merasa mendapat lampu hijau untuk melakukan lebih.
Tangan kanan raka turun ke pundak membelai dari rahang hingga turun ke leher dan pundak tika.
Raka meremas lembut pundak tika sambil terus mencecap bibir istrinya
Dan lagi lagi tika melenguh saat raka meremas lembut pundaknya.
"Emh." lenguh tika.
Tangan raka turun meremasi buah melon, yang dulu raka pikir hanya sebesar telur puyuh seperti milik anak SMP.
Namun nyatanya saat ini dia baru tau bahwa tangannya tak cukup besar untuk mencakup salah satu buah melon yang di miliki istrinya.
"Engh." lagi lagi tika mengeluarkan suara seksinya saat raka meremas lembut ke dua buah melon miliknya.
Merasa bahwa tika menikmati sentuhannya. Akhirnya raka meremas kedua buah melon milik tika secara ber samaan sambil terus melumat lembut bibir mungil milik istrinya.
Di sela sela remasan itu raka membuka satu persatu kancing baju tika.
Raka semakin penasaran dengan bentuk buah melon milik istrinya yang sepertinya sangat menantang.
Setelah berhasil membuka seluruh kancing baju istrinya, raka mencoba mencari pengait bra di belakang punggung tika.
Perlahan sambil terus mencumbui bibir istrinya raka melepas kan baju dan bra milik tika.
Dan sepertinya tika tidak sadar bahwa baju dan bra miliknya sudah lepas dari tubuhnya.
Tika yang sangat menikmati cumbuan dan sentuhan raka sampai sampai tika tidak tau bahwa kini ia sudah dalam kondisi half naked.
Raka tersenyum di sela ciumannya.
Raka merasa semakin gemas meremas ke dua buah melon milik istrinya yang sudah tak berpenghalang.
Raka terus meremas dua buah melon kembar yang di miliki sang istri dan raka mulai turun menciumi leher tika.
Raka melakukan dengan sangat lembut.
Raka sengaja ingin membuat istrinya terbuai dengan sentuhannya.
"Aakhhh." desah tika saat raka menjilati lehernya dan meremas buah melon miliknya.
"Eeemmh."