Saat raka pikir tika semakin terbuai dengan sentuhannya tiba tiba tika mendorong raka dan tika segera bangkit dari pangkuan raka.
Tika bergegas memunguti baju dan branya yang tadi sudah di lepas oleh raka tanpa tika sadari.
Tika segera memakai bajunya dan duduk di pinggiran ranjang memunggungi raka.
"Kenapa?" tanya raka heran melihat tika yang tiba tiba mendorongnya.
"Maaf mas, aku belum siap untuk melakukan itu."
Tika masih terbayang dan terngiang suara desahan raka dan ana waktu itu di kamar tamu.
Dan tika merutuki dirinya sendiri yang mudah sekali terbuai oleh sentuhan raka suaminya.
"Baiklah." ucap raka sendu.
Raka seketika lemas dan tak berdaya.
Ketika baru saja on dan merasa berkobar kobar nyatanya tika membuat semuanya beku.
"Tidurlah. Aku tidak akan menyentuhmu." lanjut raka yang menatap punggung istrinya.
Tika berniat tidur di sofa yang ada di kamar raka.
Saat tika akan mengambil bantal dan bersiap melangkah ke sofa tiba tiba raka menarik bantal itu.
"Tidurlah di ranjang. Aku sudah bilang aku tidak akan menyentuhmu malam ini."
"Janji?"
"Emh."
Setelah mereka berdua berbaring raka mematikan lampu utama menyisakan lampu tidur di atas nakas.
"Tika."
"Ya."
"Kenapa aku tidak boleh menyentuh mu?"
"Maaf."
"Sudah aku maafkan. Tapi jelaskan padaku kenapa kau tiba tiba menghindar dan kenapa aku tidak boleh menyentuhmu?"
"Aku hanya belum siap mas. Dan aku tidak bilang kau tidak boleh menyentuhku. Hanya saja untuk melakukan itu aku belum siap."
"Tidurlah." raka beranjak hendak ke kamar mandi.
"Mau kemana?"
"Mau ke kamar madi menidurkan raka kecil."
"Maaf."
Tika tau apa yang di maksud raka kecil.
Tika merasa bersalah.
Namun tika juga tidak bisa melakukan itu sekarang.
Suara desahan ana dan raka benar benar terngiang ngiang di benaknya.
Belum lagi tika tau seperti apa petualangan sang suami sebelum menikahinya.
Bukan tika sok suci.
Tika juga bukan wanita yang taat agama.
Hanya saja hidup tika selama ini lurus lurus saja dan tidak pernah bermain ranjang dengan laki laki manapun.
Jangankan pacaran, tertarik dengan lawan jenis saja tika seperti belum pernah merasakan hal semacam itu.
Tika mencoba tidur dan tak memperdulikan yang sedang raka lakukan di dalam kamar mandi.
Pagi pagi sekali tika terbangun karna ingin sekali buang air kecil.
Namun tika merasa susah bergerak.
Seperti ada yang mengikat di bagian perut.
Tika mengintip ada apa di bagian perutnya.
Tika melihat ada tangan kekar yang tengan melilit tubuhnya dengan erat.
Tika melihat ke belakang punggungnya dan melihat rambut tebal suaminya.
Tika tidak bisa melihat wajah suaminya karna raka menyembunyikan wajah nya di punggung tika.
Perlahan tika melepas kan lilitan tangan raka dari perutnya.
"Mau kemana?" suara khas bangun tidur raka.
"Aku mau pipis mas."
Bukannya melepaskan pelukan di tubuh tika, raka justru semakin erat memeluk tika.
Dan raka menarik lengan tika untuk berbalik menghadapnya.
Kini raka memeluk erat tika dari depan.
Raka senyusupkan wajahnya di d**a empuk tika.
Sebenarnya raka merasa sangat kesal karena malam pertama bersama istrinya gagal.
Namun raka mencoba mengerti keadaan tika yang belum siap.
Tika merasa sangat tidak nyaman dengan tingkah suaminya di pagi buta seperti ini.
Tika sudah sangat ingin buang air kencing tapi malah suaminya menahannya dan memeluk erat seperti enggan melepaskan pelukannya.
Tika merasa geli karna raka terus menyusupkan wajahnya di d**a tika.
"Mas jangan seperti ini. Geli."
"Ini nyaman sekali. Rasanya pagi ternyaman yang pernah aku rasakan. Aku belum pernah bangun di pagi buta dengan perasaan nyaman seperti ini."
"Ya tapi stop jangan gerak gerak terus."
"Aku sedang mencari posisi yang lebih nyaman."
"Mas jangan lakukan itu."
Cegah tika saat raka mencoba membuka kancing baju tika.
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan itu. Aku hanya mencari kenyamanan pada istriku sendiri. Apa kau mau aku mencari kenyamanan di luar sana?"
Tika terdiam. Meskipun saat ini tika masih belum menerima pernikahan ini sepenuhnya. Tapi tika juga tidak ingin raka mencari kenyamanan di luar sana.
Tika tidak ingin mendengar suaminya mencari ke puasan ranjang di luar sana.
Karna bagaimanapun Mereka saat ini sudah sah sebagai suami istri.
"Diamlah, aku tidak akan melakukan itu sekarang. Aku hanya ingin menyentuhmu di sini."
Ucap raka sambil terus membuka kancing baju tika di bagian atas.
Setelah beberapa kancing baju terbuka, raka bisa melihat dua buah melon milik istrinya.
Ternyata tika tidur tanpa bra.
Sebenarnya tika memang sudah biasa tidur tanpa bra. Alasan kesehatan.
Dan semalam tika juga buru buru memakai bajunya saat akan tidur.
Raka dengan gemas meremas dua buah melon yang di miliki sang istri.
Semalam raka ingin sekali melihat secara dekat dua buah melon yang di miliki sang istri namun tidak sempat karna tika sudah buru buru menyudahi kegiatannya.
Dengan seketika raka sudah ada di atas tubuh tika.
Raka terus meremas dua buah melon yang di miliki sang istri.
"Emh." lenguh tika saat raka tiba tiba menjilat dan melumat pucuk buah melon itu.
"Mmm maasss cuukuuupphh." tika mencoba mendorong d**a raka saat raka tengah asik menyedot pucuk buah melon yang di miliki tika.