Tika

846 Kata
Tika masih mencoba berontak dengan mendorong raka menjauh dari tubunya. Namun raka seperti bayi yang kelaparan. Tika diam dan mencoba mengatur nafas. Perlakuan raka di atas buah melonnya membuat tika blingsatan. Susah sekali untuk menahan gejolak yang muncul di dalam tubuhnya saat raka terus menjilat dan melumat pucuk buah melonnya. Rasa yang tak pernah di rasa kan sebelumnya. Dan pada akhirnya tika diam dan tak lagi berontak. Tika menikmati perlakuan raka di atas buah melonnya. "Mash." lenguh tika yang terus di hujani kecupan, jilatan dan lumatan di pucuk buah melon miliknya. "Kenapa sayang?" raka melirik wajah istrinya yang tengah memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. "Emh." lenguh tika lagi. Raka berniat mengerjai tika. Dengan usilnya, tiba tiba raka bangun dan berjalan ke arah kamar mandi di saat tika tengah terpejam dan menikmati kenikmatan yang raka beri. "Aku mau mandi." ucap raka tanpa menoleh pada tika. "Huuuuffffhhh." tika menghembuskan nafasnya kasar. Tika merutuki dirinya yang mudah terbuai dengan sentuhan raka suaminya. Tika menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Tika merasa malu. Semalam dia menolak suaminya untuk tidak melakukan itu karna belum siap. Namun dengan mudahnya tika justru terbuai dengan mudahnya. Tika kembali menepuk dahinya saat mengingat suara desahan yang keluar dari mulutnya. Tika tidak tau bagai mana menghadapi raka setelah ini. Tika mendengar raka keluar dari kamar mandi. Namun tika tetap bersembunyi di balik selimut. Tika malu. Sangat malu. Dan saat raka baru saja selesai mandi, ia keluar dan masih melihat tika yang bersembunyi di balik selimut. Raka melihat baju dan bra milik tika di lantai. Dan lagi lagi raka berniat men jahili tika lagi. Raka mengambil baju dan bra milik tika untuk di sembunyikan. Lalu menarik selimut yang tika gunakan untuk bersembunyi. "Bangun lah. Kau bilang ingin pipis tadi." "Mas." pekik tika yang kaget dengan selimut yang tiba tiba di tarik paksa oleh raka. Tika yang kaget langsung duduk dan mendelik pada raka. Tanpa tika sadari, dua buah melon tika terpampang jelas tanpa penghalang. Raka menatap dua buah melon yang sempat ia main kan dan merasa inigin sekali meremas buah melon itu. "Kenapa menarik selimut kayak gitu." Tika masih belum sadar dengan kondisinya yang half naked. "Bangunlah. Kau bilang kau mau pipis." ucap raka datar menatap lekat tika yang masih duduk dan cemberut karna ulah raka. "Ya tapi gak usah tarik tarik gitu." "Cepat masuk ke kamar mandi." Ucap raka lagi yang sudah tidak lagi sabar ingin mengusir tika dari hadapannya. Dua buah melon tika begitu menggoda. Di tambah stempel merah yang raka buat pagi ini di atas dua buah melon kembar itu, membuat raka semakin bernafsu. "Apa kau sedang menggoda ku tika?" "Apa maksud mu?" Tika sungguh jengkel dengan perbuatan raka yang menarik selimut dengan paksa. Tidak bisakah dia berlaku sedikit lebih lembut. Begitulah pikir tika. Raka kehabisan kesabarannya. Raka berjalan cepat menghampiri tika dan menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, raka memeluk tika dari belakang di depan cermin besar yang ada di kamar mandi tersebut. Raka menyandarkan kepalanya di pundak tika, tangannya kembali meremas dua buah melon tika dari belakang dan berbisik. "Kau bilang aku tidak boleh melakukan itu padamu. Tapi kau sengaja menggodaku." Tika mendelik menyadari dirinya yang ternyata half naked. Pantas saja suaminya menatapnya seperti singa lapar setelah dia menarik paksa selimut itu. "Akh." desah tika saat tangan raka meremas dan memilin dua buah melon miliknya. Dan tika melihat dengan jelas tangan suaminya yang meremas dan memain kan pucuk buah melon itu melalui pantulan cermin di depannya. Tika menutup mulutnya yang lagi lagi mengeluarkan suara sialan itu saat suaminya menyentuhnya. "Apa ini nikmat?" raka melihat pantulan dirinya dan sang istri di kaca besar. Tika memejamkan mata, satu tangan ia gunakan untuk menutup mulut dan satu tangan lagi mencoba meraih tangan raka memintanya untuk berhenti melakukan remasan pada buah melon miliknya. Raka berbalik posisi menjadi berdiri di depan sang istri. Menarik tengkuk istrinya dan melumat bibir manis istrinya itu. Tika lagi lagi menikmati sentuhan itu. Ciuman raka turun dengan lembut. Tangan raka kembali meremas dua buah melon milik istrinya. "Apa kau ingin melihat bayi besar yang kehausan sayang?" ucap raka di sela sela ciuman lembut di leher sang istri. Tika hanya diam tak menyahuti. "Buka mata kamu. Dan lihat aku." Tika membuka mata dan melihat aktifitas suaminya yang kembali melumat pucuk buah melon milik tika. Tika benar benar melihat mulut sang suami yang menyedot pucuk buah melon itu. "Akh shh." tika benar benar di buat melayang dengan lumatan raka pada pucuk buah melon miliknya. Ingin rasanya tika mendorong suaminya dan menyuruhnya menyudahi ini semua. Tapi tubuhnya meminta lain. Tangan raka turun mencari sesuatu di balik lembah sang istri. Setelah menemukan yang di cari jari tengah raka segera bekerja. Memutar dan sedikit menekan bagian kecil itu hingga sang empunya melenguh nikmat. "Emh ssh akh." tika tidak bisa menahan suara laknatnya. Raka terus menyedot sebelah kiri buah melon tika dan tangan sebelah kiri ia gunakan memilin pucuk buah melon sebelah kanan. sedang kan tangan kanan raka menghajar sesuatu di balik lembah sang istri. "Ash, emhh." tika tak tahan sudah. Sesuatu mendesak keluar dari dalam lembah saat raka terus memper main kannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN