Malu.

844 Kata
"Gimana?" raka mengusap sayang rambut istrinya yang masih menyandarkan kepalanya di pundak raka. Tika merasa seperti tak sanggup berdiri karna kakinya lemas, setelah pelepasan yang baru pertama kali di rasakan. Nafas tika masih memburu. Namun tika juga merasa malu karna menikmati apa yang raka suguhkan padanya. Semalam dia melolak suaminya di malam pertama mereka sebagai suami istri. Tapi pagi ini, tika justru mencapai puncak kenikmatan yang suaminya berikan. Ada rasa bersalah karna sudah menolak suaminya semalam. Tapi tika memang belum siap untuk melakukan itu dengan raka suaminya. "Kenapa?" raka menangkup kedua pipi tika dan mengecup bibir istrinya sekilas. "Aku malu." tika menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Kenapa malu? Kita suami istri yang sah di mata hukum negara dan agama." "Aku mau mandi mas." "Mau aku mandi kan?" raka kembali menggoda tika yang masih menutup mukanya dengan ke dua tangannya. "Enggak perlu. Mas keluar dulu." "Jahat sekali. Sudah aku puaskan. Lalu aku di usir begitu saja." Raka berkata dengan memasang wajah memelas. Namun tika malah mendorong raka sampai keluar pintu. Tika segera mungunci pintu kamar mandi. Tika duduk di atas toilet dengan jantung yang terus berdebar. Kaki yang masih terasa bergetar. Ini pengalaman pertama bagi tika. Enntah apa yang akan ia katakan jika bertemu raka nanti. Malu. Itu yang tika rasakan sekarang jika mengingat yang baru saja terjadi. "Kenapa aku gak bisa kontrol si?" kesal tika pada dirinya sendiri. "Aku harus gimana nanti?" gumam tika lagi. Tika bangkit dari duduknya dan bersiap untuk mandi. Tika berdiri di depan cermin tempat di mana dia mencapai puncak kenikmatan tadi. Tika mendelik melihat pantulan tubuhnya di cermin. "Apa ini?" tika mendelik melihat dua buah melonnya yang di penuhi warna merah gelap. Banyak sekali polkadot merah di atas dua buah melon miliknya. "Ya tuhan. Aku malu." tika menarik rambutnya sendiri frustasi. ***** Di ruang kerja raka duduk sembari menyesap kopi panas buatannya sendiri. Setelah mengerjai istrinya tadi, raka turun ke dapur. Di dapur tidak ada siapapun, jadi lah raka membuat kopi sendiri. Raka tersenyum mengingat pagi ini telah membuat istrinya melayang. Raka yakin jika itu adalah pengalaman pertama untuk istrinya. Raka menyukai suara merdu yang keluar dari mulut sang istri. Biasanya raka tidak mengingat moment moment saat bercinta dengan perempuan jalang di luar sana. Namun raka justru terngiang ngiang suara merdu istrinya. Meski raka belum mendapat haknya namun raka merasa ada kebahagiaan tersendiri saat raka memberikan kenikmatan pada sang istri. Saat raka tengah melamun membayangkan yang tidak tidak dengan istrinya tiba tiba terdengar pintu di buka. "Raka." ucap sang mamah. "Tumben jam segini udah bangun." ambar merasa heran melihat anak badungnya sudah bangun di pagi buta. "Iya mah, lagi pengen ngopi pagi." "Bohong!! Kamu gak lagi berantemkan sama tika?" tuduh ambar pada putranya. "Mamah apa'an si, masa pengantin baru berantem." "Ya kamu kan suka bikin ulah." sewot ambar. "Jangan jangan kamu semalem keluar, diam diam menemui jalang di luar sana?" Bentak ambar pada putra badungnya di pagi hari. "Mamah nih suka sembarangan. Orang aku gak kemana mana. Tanya aja sana sama tika semalem raka kemana. Mamah nih gak percaya'an banget sama anak sendiri." Raka bersungut sungut mendengar tuduhan mamahnya. Pagi yang tadinya indah karna bayangan tika bertebaran di otaknya kini tiba tiba sirna akibat tuduhan mamahnya. Raka bangkit dari duduknya menenteng kopi buatannya, berniat meninggalkan ruang kerja yang sekarang sudah tak lagi damai akibat kedatangan mamahnya. "Mau kemana kamu?" "Kamar." Raka masih kesal dengan mamahnya. Lebih baik ke kamar menggoda sang istri polosnya. Itu terasa lebih menyenangkan di banding mendengar tuduhan mamahnya. "Dasar badung. Berapa lama kamu gak ketemu sama mamah yang sudah melahirkan kamu? Mamahnya pulang bukannya di bikin seneng malah di bikin naik darah." Ambar masih saja mengoceh meski tau raka enggan mendengarnya. Begitu lah sifat emak emak. Raka berbalik menatap sang ibu yang masih berdiri di depan pintu. "Mah, raka udah nurutin kemauan mamah untuk menikahi tika. Meskipun mamah tau, tika pasti sulit nerima pernikahan ini. Mamah pergi ke luar negri dengan berbagai macam alasan. Saat Awal awal mamah pergi raka sudah berkali kali minta mamah untuk pulang." Raka menjeda sejenak ucapannya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. "Raka sadar mah, raka bukan anak yang bisa mamah banggakan. Raka bukan anak baik baik. Dan raka tidak bisa menjadi anak yang bisa menjadi seperti harapan mamah. Tapi raka juga minta sama mamah, tolong lihat usaha raka mah. Raka bekerja di perusahaan dari pagi sampai malam, bahkan masa remaja raka juga hampir di habiskan di kantor. Raka tau raka salah karna melampiaskan rasa lelah raka pada perempuan jalang di luar sana. Tapi raka juga manusia biasa mah. Raka melakukan itu karna masa remaja raka di habiskan untuk urusan urusan perusahaan. Dan mamah pasti tau siapa yang membuat raka kehilangan masa remaja raka?" Ambar terdiam mendengar kata kata raka. Ada rasa bersalah yang sebenarnya sudah lama ambar menyadari itu. Hanya saja ambar tetap diam tanpa melakukan apapun. "Maaf mah, kalau raka bikin malu mamah." Setelah mengungkapkan sedikit beban di hati, raka turun ke dapur menaruh cangkir kopi lalu menyambar kunci mobil dan pergi entah kemana. Tika yang mendengar suara mobil segera berlari ke balcon kamar melihat siapa yang pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN