Tika segera memakai pakaiannya dan ingin segera turun.
Tika ingin mencari tau kemana suaminya pergi.
Karna tidak biasanya raka pergi dengan pakaian rumahhan.
"Pagi mah." sapa tika melihat mamah mertuanya tengah berdiri di dekat pintu keluar.
"Pagi sayang. Kita sarapan yuk, mamah laper." ambar mencoba mengalihkan rasa bersalahnya pada raka.
Melihat anaknya pergi dengan raut wajah marah membuatnya sedikit khawatir.
Ambar khawatir raka melakukan sesuatu yang akan melukai tika.
Karna biasanya raka selalu melampiaskan amarahnya dan rasa lelahnya pada perempuan di atas ranjang.
Jika dulu raka masih sendiri itu tidak akan melukai siapapun jika dia melakukan itu.
Tapi sekarang raka sudah punya istri.
Itu akan melukai tika.
Ambar sudah memaksa tika menerima pernikahan dengan anaknya.
Tapi bagaimana jika sekarang raka mencari kepuasan di luar sana dengan perempuan lain?
Itu akan sangat melukai tika.
"Mamah mau sarapan apa? Biar tika buatin."
"Mamah mau roti aja sayang."
Tika berjalan ke arah dapur berniat mengambil piring dan peralatan lainnya.
"Lho, ini siapa yang minum kopi gak di habisin?" guman tika yang melihat gelas kopi dengan setengah gelas kopi di dalamnya masih hangat.
Tiba tiba ratih muncul dari pintu belakang.
"Lho tika kamu sedang apa nduk?"
"Ini mau bikinin roti buat sarapan mamah bu."
"Nyonya sudah bangun memangnya?"
"Sudah bu, mau sarapan roti katanya. Ibu mau sekalian aku buatin?"
"Enggak perlu nduk, ibu nanti sarapan di stasiun saja."
"Memangnya ibu mau pulang hari ini beneran?"
Tika masih tidak menyangka hari ini dia akan terpisah jarak dengan ibunya.
Ibunya memutuskan tinggal di desa.
Sedangkan tika harus tetap tinggal di ibu kota mengikuti suaminya.
"Iya nduk, ini mang yadi sudah belikan ibu tiket tadi malam."
"Ibu, tika boleh antar ibu sampe desa gak?"
"Gak usah nduk, kapan kapan saja kamu ajak suami kamu sekalian kalau kamu mau pulang ke desa. Itung itung liburan."
"Apa gak bisa kapan kapan aja bu pulang nya?"
"Jangan begitu nduk, kamu sudah menikah sekarang."
Tika masih belum rela berpisah jarak dengan ibunya.
Ibu yang sedari tika lahir tak pernah sekalipun meninggalkan tika.
Terasa berat membiarkan ibunya tinggal di desa tanpanya.
Dulu rencananya mereka akan tinggal di desa bersama.
Namun takdir berkata lain.
Tika menunduk menahan air mata yang sudah siap meluncur bebas di pipinya.
"Sudah jangan sedih sedih begitu. Nanti ibu juga jadi gak tenang ninggalin kamu kalau kamu kayak gini."
Tika memeluk erat sang ibu dan menumpahkan air matanya di pundak sang ibu.
"Harus nurut sama suami dan mertua kamu di sini ya nduk." ucap ratih pada sang anak.
Tika hanya mengangguk dan memeluk erat tubuh sang ibu.
Ibu yang sangat tika sayangi.
Ibu yang menjaganya dengan penuh kasih sayang.
Meski tika tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, tapi tika merasa tidak kekurangan kasih sayang.
Karna ratih menjaga tika dengan baik.
***
Di stasiun.
"Hati hati ya bu, jaga jesehatan ibu, jangan cape cape." ucap tika
"Iya. Ingat pesan ibu ya nduk."
"Iya. Ibu gak perlu khawatir."
"Titip salam buat suami kamu kalau pulang nanti."
"Iya nanti tika sampaikan."
Setelah kereta melaju membawa ratih pulang ke desanya tika bergegas pulang dengan mang yadi yang di tugas kan menyetir mobil mengantarkan mereka ke stasiun.
Sesampainya di rumah tika melihat sekeliling rumah.
Tika tak juga menemukan bayangan suaminya pulang ke rumah.
Ambar turun dari lantai atas sambil menyeret koper di tangannya.
"Lho mah, mamah mau kemana?"
Ambar tersenyum melihat tika.
Tika segera membantu menarik koper sang mertua untuk turun dari tangga.
"Mamah ada pekerjaan mendadak sayang, mamah harus pergi sekarang."
"Mendadak banget ya mah?"
"Iya sayang. Kamu gak apa apa kan di rumah sendiri?"
"Iya mah gak apa apa. Mamah kapan pulang ke rumah ini lagi?"
"Mamah belum tau sayang."
"Mamah gak nunggu mas raka pulang dulu? Apa dia tau mama pergi hari ini?"
Ambar menggeleng. Tersenyum mengelus rambut tika sayang.
"Sayang, mamah titip anak mamah ya. Jaga anak mamah dengan baik. Mamah tidak becus menjaga anak mamah dengan baik. Mamah serahkan anak mamah sama kamu sayang."
"Mamah kok ngomong gitu sih. Mamah kenapa? Apa mamah berantem sama mas raka?"
Ambar tersenyum lagi dan memeluk tika erat.
Ambar merasa bersalah pada anaknya dan juga pada menantunya.
Tapi ambar tidak tau apa yang harus di katakan pada menantunya ini.
"Nggak ada apa apa sayang. Titip raka ya. Mamah pergi dulu."
"Aku boleh ikut ke bandara anter mamah?"
"Nggak usah sayang, kamu pasti cape abis dari stasiun. Kamu di rumah aja tunggu suami kamu pulang."
****
Waktu sudah menunjukan tengah malam.
Tapi tidak ada tanda tanda kepulangan suaminya.
Tika mulai khawatir.
"Kemana suami ku?"