Tika masih setia menunggu sang suami.
Duduk di kursi panjang yang ada di balcon kamar suaminya.
Meski waktu sudah menjelang pagi, tapi tika tak kunjung bisa memejamkan matanya.
Entah apa yang tika rasakan sekarang.
Meskipun pernikahan ini di lakukan secara terpakasa, tapi itu tidak membuat tika melupakan statusnya sebagai istri raka.
Berkali kali tika melongok ke bawah arah pintu gerbang.
Namun tika tak juga melihat tanda tanda suaminya pulang.
Tika bisa saja menghubungi raka, tapi tika takut mengganggu raka.
Karna tika tidak tau apa raka pergi untuk bekerja atau ada hal lainnya yang harus di urus sampai sampai raka harus pergi sedari pagi dan hingga menjelang pagi lagi raka tak kunjung pulang.
Tanpa sadar tika tertidur di balcon saat waktu menjelang subuh.
Hingga tika terbangun ketika cipratan air jatuh membasahi kakinya.
Ternyata hujan turun di pagi hari.
Tika bangkit dan kembali mengintip ke bawah.
Namun yang di nanti tetep belum pulang.
Tika menghembus kan nafas nya kasar dan masuk ke dalam kamar karna hujan kian deras.
Tika bergegas mandi.
Pusing di kepalanya tika rasakan karna semalam hanya tidur beberapa jam saja.
Setelah selesai mandi tika turun berniat menyiapkan sarapan untuk sang suami jikalau nanti sang suami pulang maka sarapan sudah siap.
Begitu pikir tika.
"Siapa kamu?" tika terkejut ada perempuan muda yang sedang menyeduh minuman di dapur.
"Maaf bu, saya ifah bu. Asisten rumah tangga baru di sini. Tadi mang yadi nyuruh saya masuk bu."
"Oh. Kamu yang dari yayasan?" tika ingat kalo mertuanya akan menngambil asisten rumah tangga dari yayasan.
"Iya bu."
"Ya sudah, kamu sudah tau kamar kamu?"
"Belum bu, kata mang yadi nunggu ibu bangun baru tanya kamar saya di mana sama ibu."
"Ya sudah ayo ikut saya."
Tika membawa asisten rumah tangga baru itu ke kamarnya.
Tika tidak membawanya ke paviliun tapi ke kamar asisten rumah tangga yang ada di rumah utama.
Karna tika mau paviliun itu di kosongkan saja.
Niatnya jika sewaktu waktu ibunya datang ibunya bisa menempati paviliun itu.
"Ini kamar kamu."
"Iya bu makasih. Setelah ini saya ngapain ya bu? Apa masak buat sarapan dulu?" ifah bingung. Jika biasanya saat dulu bekerja di tempat lain di pagi hari pasti di sibukkan dengan memasak namun di rumah ini begitu sepi. Seperti tak ada penghuni. Padahal rumah ini besar.
"Kamu kalau mau masak boleh aja. Tapi untuk hari ini kayak nya gak usah. Nunggu suami saya pulang aja masaknya. Tapi kamu boleh masak buat kamu makan sendiri yah."
"Baik bu."
Setelah mengantar asisten rumah tangga barunya tika kembali ke kamar. Karna tak ada yang bisa di lakukan.
Tika tidak bisa duduk di balcon karna hujan belum juga berhenti.
Tika berdiri di depan jendela.
Tika memikirkan apa yang sedang di lakukan suaminya di luar sana.
Apa suaminya tak ada niat untuk menghubunginya?
Dimana suaminya tidur semalam?
Apa di kantor sedang lembur?
Atau tengah sibuk dengan perempuan di atas ranjang?
Tika kembali mengingat kesalahannya yang menolak suaminya di malam pertama mereka.
****
Di tempat lain.
Raka duduk di sebuah kursi di dalam villa.
Raka tidak pergi ke kantor.
Saat ini raka hanya sedang ingin bersembunyi.
Raka memandang benda pipih di tangannya.
Memandang wajah cantik istrinya di galeri ponselnya.
Foto pernikahan tika dan raka.
"Sebegitu jijiknya kamu sama aku? Bahkan aku tidak pulang pun kamu tak mencari ku?" gumam raka dengan masih memandang gambar cantik sang istri.
Raka belum berniat pulang untuk hari ini.
Raka hanya berpesan pada alan untuk menghandle urusan kantor sampai raka kembali aktif di perusahaan.
Raka tidak memberikan alasan apapun pada alan mengenai cuti dadakan yang di lakukan raka.
Bahkan kini nomor alan pun raka blokir untuk sementara.
Raka pergi dari rumah bukan karna tika.
Raka hanya sedang marah pada ibunya.
Raka selalu salah di mata ibunya.
Masa remaja yang raka habiskan di perusahaan untuk membantu ibunya seperti tak di lihat oleh sang ibu.
Bahkan raka menuruti pernikahan paksa yang ibunya mau.
Tapi ibunya tetap saja masih selalu menganggap raka adalah anak yang tidak bisa di banggakan.
Begitu menurut pemikiran raka.
****
Berhari hari sudah tika menunggu kepulangan sang suami yang entah di mana keberadaannya sekarang.
"Kamu kemana mas? Sudah seminggu kamu gak pulang. Bahkan sekertaris kamupun gak tau kamu dimana." gumam tika yang tengah duduk di tempat tidur milik sang suami.
Tika sempat menghubungi alan untuk menanyakan di mana raka.
Tapi ternyata alan pun tidak tahu di mana suaminya itu.
Malam yang dingin kembali datang.
Lelah menunggu, tika tertidur memeluk bantal milik sang suami.
Pukul sebelas malam tika terbangun mendengar suara mesin mobil masuk ke halaman rumah.
Tika segera berlari keluar kamar dan turun ke bawah.
Tika membuka pintu dengan senyum lebar.
Namun senyuman itu musnah saat tika telah membuka pintu rumah dan melihat ke luar.
"Hey, kamu pembantu di sini? Cepetan ini bantuin." ucap sang wanita seksi yang tengah merangkul raka yang sepertinya mabuk berat.
"Di mana kamar nya?" tanya wanita itu pada tika yang masih tampak kaget.
"Di atas." tunjuk tika.
"Ya udah buruan bantuin."
Tika menarik nafasnya panjang dan memaksakan dirinya untuk tetap waras melihat suaminya yang sudah seminggu tidak pulang.
Kini suaminya pulang.
Tapi membawa wanita seksi.
Tika membantu raka menaiki kasur.
Melepas sepatu dan memakaikan selimut.
Tika pikir wanita itu akan pergi setelah raka sampai di kamarnya.
Tapi justru wanita itu ikut naik ke atas kasur raka dan masuk ke dalam selimut yang sama.
Memeluk raka posesif.
"Tolong matiin lampunya." wanita itu memerintah.
Tika mematikan lampu dan keluar dari kamar raka.
Tika duduk di gazebo taman belakang.
Memeluk lututnya dan menangis.
Hanya itu yang bisa di lakukan tika saat ini.
Suaminya pulang membawa kejutan yang begitu mewah.
"Apa ini adalah luka yang kau berikan untukku?" gumam tika di antara lutut yang dia peluk.