Hari semakin dingin tapi tika masih duduk termenung di gazebo.
Tika diam menatap langit malam
Tika merenungi nasibnya setelah menjadi seorang istri raka hendrawan.
Akan seperti apa pernikahan ini ke depannya?
Apakah akan ada yang berubah dari keadaan ini?
Apa yang akan terjadi setelah ini?
Apakah akan ada kejutan yang lebih mewah dari ini?
Banyak pertanyaan yang menyelinap masuk ke dalam pikiran tika.
Tika mengusap lengannya yang tertiup dinginnya angin malam.
Tika merasa lelah, tapi tidak tau apa penyebab lelah itu.
Karna tika sendiri sudah seminggu ini tidak mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya.
Sudah ada ifah yang bekerja mengerjakan semuanya.
Tika masih betah duduk di bangku panjang hingga pagi datang.
Tidak ada yang tika lakukan di bangku itu.
Hanya duduk termenung semalam penuh.
"Ibu, ibu sedang apa pagi pagi begini di luar?"
Ifah kaget saat baru bangun berniat untuk mengambil sapu di dekat taman belakang.
Melihat sang majikan yang masih memakai pakaian tidur dan duduk bersandar di bangku.
"Tidak apa apa ifah, hanya ingin menghirup udara pagi."
Bohong tika pada sang asisten rumah tangganya.
Karna nyatanya, tika duduk di situ dari semalam.
"Ibu mau saya buatkan minuman?"
"Tidak usah. Kamu masak saja buat sarapan. Suami saya sudah pulang."
"Baik bu, mau masak apa bu?"
"Apa saja yang kamu bisa ifah."
"Baik bu, saya ke dapur dulu."
"Emh." gumam tika menyahuti ifah.
Ifah segera ke dapur untuk bersiap memasak untuk sang majikan.
Sementara tika kini berniat bangkit dari bangku gazebo.
Dengan kaki gemetar tika berdiri dan berjalan menuju paviliun.
Tika tidak berniat untuk masuk ke dalam rumah utama.
Tika tidak ingin melihat atau mendengar suara suara khas raka dengan perempuan di atas ranjang.
Cukup sudah ia mendengar suara laknat itu sebelum mereka resmi menjadi suami istri.
Tika membaringkan tubuhnya di kamar lamanya di paviliun.
Menarik selimut, memejamkan matanya yang semalamman terjaga.
****
Di kamar raka.
Laki laki itu menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku.
Tangannya meraba nakas mencari benda pipih.
Ponsel.
Raka melihat hari sudah beranjak siang.
Saat ini sudah pukul 10 pagi.
Raka menatap sekeliling ruangan yang ia tempati saat ini dan Merasa tidak asing.
"Aku di rumah?" batin raka tidak percaya.
Raka belum berniat pulang ke rumah.
Tapi kenapa sekarang ia ada di rumah.
Raka hendak beranjak, tapi ada tangan yang memeluknya posesif.
Raka menoleh untuk melihat si pemilik tangan.
Raka melongo melihat wanita jalang di atas tempat tidur pribadinya.
"Lusi." teriak raka begitu nyaring. Hingga sang pemilik nama yang di teriakkan raka segera duduk di atas ranjang.
Saking terkejutnya lusi dengan teriak kan raka membuatnya tidak sadar jika saat ini dress mini nan seksi yang dia pakai ternyata sudah melorot hingga terpampang jelas dua buah melon besar yang menantang.
Bagaimana tidak melorot. Dress itu teramat mini dan lusi memakainya untuk tidur semalam bersama raka.
"Apa yang kau lakukan di kamarku? Siapa yang mengijinkan kamu masuk dan dan tidur di ranjangku?"
Teriak raka lagi.
Raka tidak perduli dengan tampang lusi yang sepertinya masih bingung dan belum sadar dua buah melonnya terekspos bebas.
"Raka kamu apa apa'an si, pagi pagi udah tetiak teriak gitu."
Lusi meremas dua buah melon nya lalu memakai kembali dress mininya dengan baik.
Ya, meskipun dress yang di kenakan itu hanya mampu menutupi separuh dari ukuran buah melonnya.
Raka bangkit dari duduknya dan menatap tajam ke arah lusi.
"Jawab pertanyaan aku. Berani sekali kau menginjakkan kaki di dalam kamarku. Bahkan kau berani menaiki ranjangku?"
"Apa maksudmu? Kita sudah sering melakukan itu. Apa yang salah dengan tidur di ranjangmu?"
Raka mendekat ke arah lusi dan menarik rambut lusi.
"Berani sekali kau membantah ucapanku. Perlu kau tahu Lusi, Aku memang banyak menikmati wanita jalang seperti kamu di atas ranjang. Tapi tidak dengan ranjang dan ruangan pribadi milikku. Aku tidak sudi membawa masuk jalang seperti kamu dan tidur di atas ranjang pribadi milikku."
Lusi tampak kesakitan.
Tarikan raka pada rambutnya lumayan keras.
"Sekarang katakan padaku bagaimana kau bisa masuk ke kamar pribadiku?" titah raka lagi.
"Semalam kita bertemu di club. Dan kau mabuk berat, sedangkan kamar vip yang ada di club sudah penuh. Lalu aku mengantar kamu pulang ke rumah kamu." Jelas lusi pada raka.
Lusi masih menggaruk bekas jambakan raka.
"Lalu siapa yang mengijinkan kamu masuk ke kamar pribadiku?"
"Pembantu kamu. Dia memberitahu aku di mana kamar kamu. Karna hari sudah malam dan aku juga lelah raka. Kamu mabuk berat aku memapah kamu semalam. Lalu aku putuskan untuk tidur saja di sini. Lagian pembantu kamu juga tidak bilang apa apa saat aku tidur di samping kamu."
Lusi ingin melempar kesalahan pada sang pembantu yang tidak memberi tahu kebiasaan raka yang tidak pernah membawa masuk jalang sepertinya ke dalam kamar pribadinya.
"Dia melihat kamu tidur dengan ku?"
Ucap raka datar.
"Iya dia melihatnya. Dia juga tidak bilang apa apa padaku. Setelah melepas sepatu kamu dan membantu kamu naik ke atas ranjang dia langsung pergi ke luar."
Raka nampak frustasi mendengar penjelasan lusi.
"Keluar dari kamar aku dan pergi dari sini. Jangan pernah kau temui aku lagi." teriak raka lagi.
Raka masuk ke dalam kamar mandi dan dan duduk di atas toilet.
Mengusap wajahnya kasar.
"Apa yang harus aku katakan pada pada tika setelah ini?"