Setelah raka masuk ke dalam kamar mandi.
Lusi segera bergegas berniat untuk segera keluar dari kamar raka.
Lusi tidak ingin mendapatkan perlakuan kasar lagi dari raka.
Entah kenapa lusi tak pernah sakit hati meski raka sering kali semena mena padanya.
Mungkin karna raka royal padanya.
Lusi turun ke lantai bawah rumah raka.
"Astaga." ifah mengelus d**a melihat lusi yang turun dari tangga.
"Siapa dia? Kenapa keluar dari kamar ibu?" gumam ifah melihat perempuan sexi dengan rambut berantakan.
Lusi yang merasa di perhatikan pun membentak ifah dengan mata yang melotot.
"Apa kamu liat liat? Baru pertama kali ngliat orang cantik ya?"
Ifah hanya menunduk tak berani menatap.
Karna ifah pun orang baru di sini, dia tidak berani berbuat dan bertanya macam macam.
Lusi segera keluar dari rumah raka.
Sedangkan tika nampak gelisah dalam tidurnya.
Semalaman ia tak bisa tidur, namun sekarang pun susah sekali rasanya ingin tidur pulas.
Tapi tika tetap memaksakan matanya untuk tetap terpejam.
*
Raka bergegas keluar dari kamar mandi berniat pergi mencari keberadaan tika.
Apapun resikonya, ia harus menjelaskan kesalah pahaman ini padanya.
Raka turun ke lantai bawah dengan kondisi kacau dan berantakan pula.
"Siapa kamu?" sentak raka saat melihat ada perempuan lain di dapur.
Ifah terjengit kaget mendapatkan sentakkan dari dua orang di pagi hari seperti ini.
Dan keadaan raka saat ini pun membuat ifah menatap heran pada laki laki di depannya ini.
Berantakan dan kacau.
Itu yang ifah lihat dari laki laki ini yang tak lain adalah majikannya.
"Saya tanya siapa kamu?" sentak raka lagi.
"Maaf tuan saya asisten rumah tangga baru di sini." ucap ifah menunduk tak berani menatap tuannya.
"Di mana tika?" raka ingat kata kata ibunya yang akan mencari asisten rumah tangga baru setelah ia menikahi tika dan ratih pulang ke desa.
"Tadi pagi ibu ada di gazebo belakang Tuan."
Raka bergegas ke arah taman belakang.
Namun wanita yang ia cari tak ada di gazebo yang biasanya di duduki istrinya itu.
Raka bergegas menuju paviliun.
Membuka kamar tika.
Dan benar saja, wanita yang raka cari tengah tidur.
Entah tidur atau hanya pura pura tidur raka tidak tau.
Raka mendekat dan duduk di pinggiran ranjang.
Menatap wajah sang istri yang tengah terpejam.
Raka merasa sangat marah pada dirinya sendiri saat ini.
Meskipun ia menikahi tika karna paksaan dari ibunya tapi bukan berarti dengan mudahnya ia bisa menyakiti tika seperti ini.
Melihat tika yang tidur di kamar lawasnya seketika raka ingat ucapan lusi yang mengatakan tika melihatnya tidur di atas ranjang dengan lusi.
Bahkan tika yang melepas kan sepatunya dan menyelimutinya.
"Maaf." ucap raka pelan.
Tika bisa mendengar yang di ucapkan raka.
Karna tika tidak benar benar tidur.
Raka keluar dari kamar tika setelah mengucapkan kata maaf.
Raka bergegas mandi dan akan segera ke kantor.
Raka ingin menemui alan untuk menceritakan kejadian ini.
Karna raka tidak tau harus bersikap seperti apa pada tika.
Di kantor, alan tengah meeting.
Raka masuk ke ruang pribadinya.
Melihat pekerjaan yang menumpuk di meja membuat raka semakin frustasi.
Raka duduk dan memeriksa beberapa berkas sambil menunggu alan selesai meeting.
Tiba tiba pintu di buka.
Raka melihat ke arah orang yang masuk ke ruang kerjanya.
"Masih ingat jalan pulang?" sinis alan pada bos dan juga sahabatnya.
Seminggu sudah alan di bikin pontang panting olehnya karna urusan pekerjaan yang raka tinggalkan begitu saja.
Belum lagi tika yang beberapa kali sempat menelfon untuk menanyakan keberadaan suami tak tau diri ini.
Dan tiba tiba hari ini manusia ini datang juga ke kantor.
Meskipun ada kelegaan karna melihat kondisi sahabatnya baik baik saja
Tetap saja rasa dongkol pada raka masih ada.
karna tiba tiba pergi dan tanpa kabar yang jelas.
"Apa perusahaan baik baik saja?" tanya raka pada alan tanpa peduli tatapan menusuk alan.
"Kau tau betul bagaimana kondisi perusahaan saat ini. Kau bisa memantaunya dari jauh." alan tau meski raka pergi tanpa kabar namun raka masih memantau perusahaannya dari jauh.
Terbukti dari beberapa pekerjaan yang harus di kirim lewat email raka rampungkan dari tempat yang alan tidak ketahui.
Raka mengangguk mendengar jawaban alan.
"Raka, apa kau sudah pulang menemui istri mu?"
Raka mendongak menatap alan.
"Sudah. Memang nya ada apa?"
"Ada apa? Ada apa kau bilang? Dia istrimu, tentu saja dia khawatir padamu. Kenapa kau tak memberinya kabar? Apa kau lupa sudah punya istri? Apa kau bermain perempuan jalang lagi di luar sana?"
"Maksud mu? Apa dia mencari ku?"
Alan benar benar ingin sekali mengubur sahabatnya ini ke dalam sumur.
Wanita mana yang tidak mencari suaminya yang tiba tiba pergi tanpa tau ada masalah apa sampai harus meninggalkan rumah.
"Tentu saja dia mencari kamu. Dia istri kamu. Dan kau suaminya. Apa kau lupa Raka Hendrawan yang terhormat?"
Alan sangat sangat ingin mencekik raka saat ini.
Dia duduk di hadapan raka menatap raka tajam.
"Katakan padaku kemana kau selama seminggu ini dan apa yang kau lakukan di luar sana?"
Raka menarik nafas panjang dan menceritakan apa yang terjadi padanya akhir akhir ini.
Dan meminta saran alan. Bagaimana ia harus bersikap menghadapi tika setelah kejadian itu dengan lusi.
"Pabo." ucap alan pada raka setelah mendengar penjelasan dari raka.