"Kamu kan punya masalahnya sama mamah kamu. Dan sekarang tika itu istri kamu. Harusnya kamu bisa omongin apapun yang kamu rasakan atau masalah apapun yang kamu hadapi sama tika. Bukan malah kabur kaya anak kecil. Mana pulang pulang di anter sama perempuan gila lagi."
Alan mencoba memberi nasehat atau masukan yang menurutnya baik.
"Tapi aku gak sengaja bawa perempuan jal4ng itu pulang ke rumah."
"Ya makanya kalo mau apa apa di pikir dulu. Kalo kamu mau mabok kan bisa hubungi aku dulu. Kalo kamu ada masalah kalo emang kamu bekum nyaman cerita sama tika kan juga bisa cerita sama aku dulu jadi mungkin gak akan berujung rumit seperti saat ini."
Alan merasa ingin sekali menjitak kepala bosnya itu.
Alan pikir setelah menikah raka bakalan berubah jadi lebih dewasa tapi gak taunya malah jadi kacau mirip anak kecil. Menurut alan.
"Jadi aku harus gimana sekarang? Kalaupun aku ngomong aku gak ngapa ngapain sama perempuan jal4ng itu pasti tika juga gak akan percaya."
"Kalau aku jadi tika juga gak akan percaya kalau kamu bilang semalam gak ngapa ngapain sama jal4ng itu. Ini buah manis yang yang kamu tanam sudah siap di panen." ucap alan sinis.
"Maksud kamu apa?" raka tidak mengerti. Kenapa jadi tiba tiba bahas buah manis.
Alan menarik nafas panjang dan bersiap menjelaskan maksud dari ucapannya.
"Kamu dari dulu suka bermain dengan jal4ng di atas ranjang. Anggap lah saat itu kau sedang menanam bibit buah. Dan sekarang seberapa pun usaha kamu menjelaskan pada tika, dia pasti sulit percaya sama kamu. Itu buah yang kamu tanam. Coba kalau dulu kamu tidak suka main jal4ng. Hari ini pun pasti tidak akan seperti ini."
"Aku harus giman?" raka menunduk merasa semakin bersalah.
*****
Di paviliun, tika bangun.
Dia ingin mandi. Tapi semua baju dan barang barangnya ada di kamar raka.
Tika masih tidak ingin masuk ke kamar itu.
Mengingat semalam raka tidur dengan perempuan lain di ranjang suaminya membuat tika enggan masuk ke sana meski kamar itu kosong saat ini.
Tika berjalan menuju dapur mencari keberadaan ifah.
"Fah. Boleh aku minta tolong sama kamu?"
"Iya bu. Kenapa? Apa yang bisa ifah bantu?"
"Tolong ambilkan barang barang ku di kamar atas. Turun kan semuanya."
"Ibu mau ke mana?"
"Aku nggak kemana mana, aku mau tidur di paviliun."
Tika menjelaskan semua barang yang ada di kamar raka pada ifah supaya ifah bisa menurunkan semua barang barangnya dari kamar itu.
Ifah tidak banyak bertanya alasan majikannya untuk tinggal di paviliun.
Melihat keadaan pagi tadi itu sudah menjelas kan semuanya.
Setelah semua barang selesai di pindah kan ke paviliun tika bergegas mandi.
Setelah mandi tika berencana untuk jalan sore.
Tika merasa sangat jenuh.
Setelah melakukan pernikahan paksa yang majikannya minta dan setelah di tinggal pergi suaminya yang entah kenapa dan kepulangan suaminya dengan perempuan lain.
Itu semua membuat tika merasa begitu penat.
Tika sudah suap untuk pergi keluar.
Entah kemana, tika belum menentukan tujuan.
Tika mengambil kunci motor dan helm.
Memakai jaket dan sepatunya.
Dan entah kenapa hari ini tika ingin berpakaian sedikit berbeda dari hari hari biasanya.
Tika memakai celana jeans dan kaos hitam ketat.
Membuat bentuk tubuh tika terlihat lebih seksi dan menggoda dari biasanya.
Setelah berkendara kurang lebih tiga puluh menit tika akhirnya sampai di sebuah mall besar di kotanya.
Tika turun dari motornya menyimpan jaketnya di bawah jok motornya lalu masuk ke dalam mall tersebut.
Tika lapar. Dari pagi sama sekali tika belum makan apapun.
Tika berjalan masuk ke dalam mall mencari coffe shop untuk membeli makan.
Tika duduk sendiri. Sembari menunggu pesannan nya datang tika memainkan ponselnya.
Hingga tiba tiba suara seorang laki laki menyapanya.
"Tika."
Tika mendongak melihat siapa yang memanggilnya.
"Dirga, kamu dirga kan?"
"Iya aku dirga. Kamu apa kabar?"
"Aku baik. Kamu juga apa kabar? Sama siapa ke sini?"
"Aku juga baik. Aku ke sini sama anak anak yang lain. Masih inget kan sama temen temen satu kelas kita?"
Ternyata yang menyapa tika adalah teman teman satu kelas tika saat SMA.
"Iya aku masih inget. Di mana mereka? Siapa aja yang ada di sini?"
"Mereka lagi beli minuman. Sebentar lagi pasti ke sini. Kamu sendirian aja?"
"Iya aku sendiri."
Tika dan dirga berbincang ngalor ngidul mengingat masa masa sekolah dulu.
"Tika." panggil Aldo, Rendi, Tedi dan juga Gavin.
Mereka semua teman satu kelas tika.
Meskipun mereka dulu tidak sering mengobrol. Tapi tidak ada salahnya jika sekarang mereka saling sapa.
"Hai semua. Apa kabar?" sahut tika dan menyalami teman lamanya satu persatu.
Setelah itu mereka benar benar seperti sedang reuni.
Berbincang bahkan tertawa terbahak.
**
"Kamu mau belikan apa buat tika?"
Tanya raka yang di minta menemani raka membeli sesuatu untuk tika.
Rencana nya raka akan coba menjelaskan baik baik pada tika dan memberikan sesuatu untuk tika.
"Entahlah. Kita muter muter dulu. Liat liat dulu ada apa aja di sini."
"Tunggu." Alan menahan raka untuk berhenti.
"Ada apa?" tanya raka tak mengerti.
"Bukankah itu tika istrimu?"
"Sedang apa dia di sini?" gumam raka yang melihat tika tengah tertawa dengan beberapa laki laki.
"Waah ternyata pesona tika luar biasa. Baru juga pake baju ketat dikit doank udah langsung di kerubungin laki laki."
Alan sengaja mengatakan itu.
Supaya raka sadar dengan pesona tika yang juga bisa memikat banyak laki laki.
Raka berjalan cepat menghampiri tika yang tengah berbincang dan tertawa sesekali.
"Tika." panggil raka pada istrinya.
Lalu raka menatap satu per satu laki laki yang ada di hadapan istrinya.