Jatmiko mengangguk paham. Kamar perawatan intensif yang berisikan empat orang termasuk dirinya, bak penuh sesak hingga mampu membuat napasnya terengah-engah barang sekejap. Bayangan akan amarah Ambar yang mudah tersulut seperti sebelum-sebelumnya kembali berkelindan di depan mata. Ia menggeleng pelan, bukan sebagai jawaban, melainkan hendak mengenyahkan berbagai pikiran buruk. "Lantas, jika memang kamu ingin mendapat suami dengan pandangan yang sama, kamu akan menanyakannya pada tiap pria yang kamu kenal? Alih-alih bertanya, kenapa tak langsung menjalin hubungan dan bentuk saja pandangan itu bersama. Semua terjadi karena sebuah kebiasaan, Ambar." Sekuat mungkin, Jatmiko enggan berseteru dengan anaknya yang kedua kali. Diangguk-anggukkannya kepala sembari menagih jawab pada sang anak bungs

