"Katakan, Endra. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Sumpah demi Tuhan, meski malu untuk mengakuinya. Aku benar-benar jatuh cinta pada Gendhis dan segala yang ada padanya. Awalnya, kupikir aku hanya suka saat melihat dia sengsara. Bingung bukan kepalang karena kumarahi habis-habisan. Kukira, aku hanya senang melampiaskan amarah padanya. Bukan karena perasaan lain yang berbeda. Aku ... benar-benar tak bisa melupakan Gendhis meski sebentar." Kebimbangan Abi benar-benar dirasakan Endra begitu melihat sang kakak bingung tak keruan. Mimik yang sebelumnya tak pernah ia temukan pada sang kakak pun akhirnya terlihat jelas sekarang. Terlebih, untuk pertama kalinya ia mendengar pengakuan hati sang kakak yang tengah dimabuk asmara. Endra tersenyum. Ia mendekat dan menepuk bahu Abi berulang-ulang. "Ka

