70. Pengakuan Jatmiko Mengenai Sang Anak

1895 Kata

Gendhis baru saja masuk ke dalam kamar perawatan intensif yang ditempati sang ayah. Sayangnya, di depan pintu ia mematung meski pintu belum tertutup. Ditelannya ludah susah payah sembari menunduk dalam, menghindari tatapan sang ayah yang tengah terduduk di ujung pembaringan. "Ayah," panggil Gendhis. Kedua tangannya bertaut satu sama lain dengan gemetar. Perlahan, ia mendekat. Namun, bukannya mendapat senyum hangat, renggangnya tangan Jatmiko telah membuatnya mematung seketika di depan pintu kamar. Ia menggeleng dengan pandangan memburam. "Yah." "Aku bukan ayahmu. Siapa kamu? Atas dasar apa kamu kemari?" Sontak saja, pertanyaan Jatmiko berhasil membuat Wati dan Ambar membeliak secara bersamaan. Bukannya menyambut sang anak sulung yang telah lama tak jumpa, ia malah membuang muka ke arah s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN