"Biar kutebak. Wajahmu muram, masih gelisah meski tak sesemrawut sebelumnya. Juga, tak kamu aktifkan pula fitur pengeras suara seperti yang kusebutkan. Itu berarti, tak ada sedikit pun informasi yang bisa kita dapatkan dari Gendhis, kan, mengenai hal-hal yang kita bicarakan sebelumnya?" Ganendra menggeleng pelan. Ia telah duduk di samping sang kakak dalam kamarnya. "Kamu mendengarnya sendiri, Kak. Ayah tak sebaik yang kita kira. Ibu pun tak senaif yang kita pikirkan. Mereka picik. Orang yang licik. Bahkan, mereka rela menyembunyikan bukti itu demi menghapus jejak. Aku yakin, semalam Ayah memancingku keluar dari kamar demi mengacak-acak dan mencari keberadaan ponsel kakak ipar," ujar Endra sembari memegang kedua siku sang kakak. "Tentu saja Ayah mencari barangnya, Endra. Kamu mencurinya.

