Di dalam mobil sedan mewah, Rayya duduk dalam diam. Tapi dia terus menoleh ke arah Arjuna di sampingnya. Yang menyetir dengan raut cemas. Meskipun hanya diterangi dengan lampu jalan juga dari kendaraan lain yang berpapasan, tapi Rayya yakin, pria di sampingnya ini sedang mengkhawatirkan dirinya. “Pak Juna?” “Hem.” “Pak, kita mau kemana? Ini Bapak tiba-tiba ngangkut aku ke dalam mobil dan melaju cepat begini dengan aku nggak dikasih tau mau kemana, bisa kena pasal berlapis loh. Penculikan dan perbuatan tidak menyenangkan.” “Aku mau bawa kamu ke rumah sakit. Bagian mananya yang kena pasal perbuatan tidak menyenangkan?” Tanpa menoleh sedikitpun. Masih tetap fokus menyetir. “Nah begitu dong! Kasih tau saya kita mau kemana. Tapi—loh?! Ngapain ke rumah sakit, Pak?” “Sudah jelas. Bibir kam

