Sepanjang Sabrina berjalan di lobi utama kantor, rasanya semua orang sedang menatap sinis padanya. Sabrina tidak berani memastikan. Dia hanya ingin cepat masuk ke lift lalu duduk bersembunyi di balik meja kerja. Keluar dari lift, keadaan tidak membaik sama sekali. Banyak yang sudah datang di ruangan. Hanya tinggal beberapa meja yang kosong, itu adalah meja milik mereka yang ikut lembur semalam. Baru saja Sabrina duduk di kursinya, tatapan tajam sudah dia rasakan dari rekan kerja di meja sebelah. Sabrina hanya berdeham kecil lalu menyalakan laptop dan berpura-pura sibuk membaca email masuk. “Jangan-jangan sebentar lagi ada film bismillah kutiduri pacarmu, nih,” celetuk seseorang yang lewat di depan meja kerja Sabrina, berjalan santai sambil membawa secangkir kopi. Sabrina hanya berani

