Pintu Kedua

1344 Kata
Hujan turun pelan di atas atap mobil tanpa suara. Rintiknya bukan dari awan alami, melainkan hasil rekayasa atmosfer buatan yang dijalankan sistem pengatur iklim kota. Di luar, lampu-lampu jalan memantulkan cahaya biru keemasan ke permukaan jalan yang basah. Suasananya terlalu tenang, mencurigakan. Nayla duduk di kursi belakang mobil tanpa pelat identitas, mengenakan jaket abu-abu ayahnya yang terlalu besar untuk tubuhnya. Tangannya mencengkeram erat flash drive kecil yang kini terasa lebih berat dari apa pun yang pernah ia bawa. Di depan, Damar menyetir secara manual, meskipun mobil itu sepenuhnya otomatis. “Kenapa tidak pakai sistem saja?” tanya Nayla tiba-tiba. “Kalau sistem menyetir, semua pergerakan kita terekam,” jawab Damar tanpa menoleh. “Kalau aku menyetir sendiri, hanya mata manusia yang bisa melihat.” Hening kembali melingkupi mereka. Udara dalam mobil terasa dingin, tapi bukan dari suhu. Ada jarak yang belum selesai di antara mereka, sekaligus ketegangan yang belum bisa didefinisikan. “Ke mana kita pergi?” “Ke tempat terakhir yang ayahmu kunjungi sebelum ditangkap.” “Dan di sana ada jawaban?” Damar menoleh cepat, tatapannya menusuk, tapi bukan dengan marah. Lebih seperti memastikan: Apakah kamu benar-benar siap untuk tahu? “Ayahmu tak hanya menyimpan data ilegal. Dia menyembunyikan sesuatu yang bisa mengguncang inti sistem ini. Kalau kita membukanya kita tidak akan bisa kembali ke hidup lama.” Nayla mengangguk pelan. “Aku juga tidak mau kembali.” ⸻ Distrik C9 – Museum Keuangan Nasional Bangunan itu berdiri sunyi seperti bangkai masa lalu. Dinding kaca yang dulu bening kini retak-retak, ditumbuhi lumut digital semacam pelapis sensorik yang tidak berfungsi sempurna. Damar memindai sidik jarinya, lalu menambahkan kode iris. Pintu terbuka perlahan dengan suara logam tua. Begitu masuk, hawa dingin menyerang seperti ruang mayat. Lampu hanya menyala sebagian, menciptakan bayangan aneh pada patung-patung ekonom terdahulu. “Museum ini ditinggalkan sejak sistem menghapus kebutuhan akan uang fisik,” gumam Damar. “Tapi beberapa benda di sini tak bisa dihapus dari sejarah.” Mereka berjalan melewati rak pajangan, di antara mata uang lama, cek kertas, dan dompet-dompet kulit yang kini dianggap artefak kuno. Kemudian mereka berhenti di sebuah kotak kaca kecil. Di dalamnya: sebuah jam tangan analog berwarna hitam, terlihat biasa, tapi Nayla tahu benda itu. Ia pernah melihatnya di pergelangan ayahnya, waktu kecil, ketika masih suka memeluk lengan pria itu tanpa rasa takut. “Jam ini milik ayahmu,” kata Damar pelan. Ia memecahkan kaca pelindung dengan alat kecil dan menyerahkannya pada Nayla. “Lihat belakangnya.” Nayla membalik jam itu. Tertulis: “Pilih waktu, bukan angka.” Dan satu lagi: 07:09:40 “Koordinat waktu?” Nayla mengernyit. “Ya. Ayahmu menyimpan petunjuk dalam format yang hanya bisa dipahami orang yang mengenalnya.” ⸻ Di dalam mobil – perjalanan malam ke Bandung Kirana, AI holografik milik Nayla, muncul dari chip kecil di dasbor. “Waktu 07:09:40 terdeteksi sebagai timestamp video lama milik dosen Rendra Pramesti,” kata Kirana. “Video itu disiarkan dalam kuliah terbuka tahun 2032 di Universitas Digital Indonesia.” “Apakah masih ada?” tanya Damar. “Tidak di server pusat. Tapi ada kemungkinan file cache masih tersimpan dalam sistem lama di gedung universitas.” “Persentase keberhasilan?” “21%. Tapi jika file itu ditemukan, potensi mengungkap jalur enkripsi kedua mencapai 92%.” Damar tersenyum tipis. “Kita akan bertaruh pada 21% itu.” ⸻ Kampus Lama UDI – Pukul 01.34 Mereka menyelinap masuk ke kompleks yang kini lebih mirip hutan digital. Rerumputan sintetis tumbuh di antara batu, dan lampu jalan berkedip karena kurang daya. Lorong fakultas ekonomi sunyi, hanya ditemani suara sepatu mereka dan dengungan perangkat tua yang belum mati sepenuhnya. Kirana membobol sistem pengaman lawas. Damar menyalakan terminal berdebu, dan layar hijau pucat menyala. File itu ada di sana. Video berdurasi 45 menit. Mereka menonton dalam diam. Gambar ayah Nayla tampil di layar, berbicara tentang masa depan keuangan. Sementara itu, Kirana menghitung mundur waktu sampai ke detik ke-7:09:40. Gambar tiba-tiba glitch. Pesan muncul: “Jika kau menemukan ini, maka sistem belum menang. Kuncinya bukan hanya ada di uang. Tapi di siapa yang mengendalikan narasi. Cintailah kebenaran, bahkan jika ia membuatmu dibenci.” Layar kembali normal. Nayla terdiam, air mata menggenang tanpa ia sadari. “Dia tahu dia akan ditangkap,” bisiknya. “Dan dia memilih untuk meninggalkan warisan, bukan uang,” ujar Damar. “Pesan itu bukan hanya emosional,” lanjut Kirana. “Di balik suara video, terdapat gelombang suara terenkripsi.” “Jadi?” tanya Nayla. “Jadi, kita butuh tempat yang sepenuhnya offline untuk mendekripsi. Jika tidak, sistem akan langsung mendeteksi dan memutus akses kita.” Damar berpikir sejenak, lalu berkata, “Aku tahu tempatnya.” ⸻ Fasilitas Cadangan – Gunung Salak Mereka naik ke daerah pegunungan dengan mobil tua yang tidak terhubung satelit. Lokasi bunker berada di bawah sebuah fasilitas ilmiah yang ditinggalkan. Damar membuka akses melalui pemindai retina. Di dalam, dingin dan lembab, tapi aman. Ruangan server tua berdiri seperti prajurit tidur, menunggu dihidupkan kembali. Kirana mulai menjalankan proses dekripsi. Layar menampilkan ribuan kode berjalan. Fragmen suara membentuk pola. Kemudian muncul: Jalur Enkripsi Kedua – Terbuka. “Akses penuh ShadowCoin aktif.” Dan bersamaan dengan itu: Backdoor Sistem Keuangan Global – Terbuka. Nayla berdiri di depan layar. Tangannya gemetar. Di baliknya, Damar berkata pelan, “Sekarang kita punya kekuatan untuk mengubah segalanya. Tapi satu langkah salah, dan dunia bisa runtuh.” Ia menoleh pada Nayla. “Apa kau siap untuk jadi musuh nomor satu sistem dunia?” Nayla menarik napas dalam. Lalu menatapnya penuh keyakinan. “Aku tidak pernah lebih siap dari ini.” Damar menatap Nayla lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu dalam nada suara wanita itu bukan sekadar keberanian, tapi semacam keputusasaan yang berubah jadi tekad. Ia mengenalnya. Ia pernah merasakannya. Dan itu mematikan. “Aku harap kau benar-benar siap,” ucap Damar akhirnya, suaranya lebih pelan. “Karena mulai sekarang, kita tidak lagi berbicara soal idealisme. Tapi tentang bertahan hidup.” Suara Kirana muncul di tengah keheningan. “Sistem sudah mulai mendeteksi anomali koneksi dari titik bunker ini. Waktu kita tidak banyak.” “Ada cara untuk menyamarkan jalur?” tanya Damar cepat. “Hanya satu kami harus bergerak. Secara fisik dan digital.” “Ke mana selanjutnya?” Nayla bertanya. Kirana menampilkan peta holografik kecil. “Ada satu node jaringan lama di Yogyakarta. Dulunya pusat penelitian netral yang dibangun sebelum penggabungan sistem ID global. Masih ada jaringan lokal di sana yang bisa digunakan untuk memindahkan enkripsi tanpa dilacak real-time.” Damar mengangguk, lalu menatap Nayla. “Itu artinya kita harus tinggalkan tempat ini. Dan tidak akan bisa kembali.” Nayla memandang layar yang perlahan meredup. Di sana, jaringan ShadowCoin masih terbuka. Tapi sebentar lagi sistem pusat akan melacak koordinat mereka. “Apa kita bisa bawa Kirana?” “Aku bisa menempel di chip darurat dan tetap bertahan dalam mode reduksi memori,” jawab Kirana. “Tapi aku tidak bisa menjamin kestabilan fungsi jika koneksi terganggu.” Nayla mengambil chip itu dari terminal dan menatapnya sejenak. “Aku akan lindungi kamu.” Damar menoleh cepat. “Kamu sadar barusan bicara pada AI seperti pada manusia, kan?” Nayla hanya mengangkat alis. “Setelah semua yang sudah kita lihat, menurutmu Kirana masih cuma sekadar program?” ⸻ Mereka meninggalkan bunker sebelum fajar. Jalan menuju selatan lengang. Di langit, beberapa drone patroli mulai bermunculan, tapi Damar memilih jalur bawah tanah terowongan logistik tua yang dulunya digunakan untuk distribusi darurat antar kota. Kini dilupakan sistem. Di dalam mobil yang melaju pelan di kegelapan, Damar akhirnya membuka suara. “Kau tahu kenapa aku ditugaskan khusus untuk mengejarmu?” Nayla menoleh. “Karena aku anak Rendra Pramesti?” “Itu hanya alasan resmi.” Ia terdiam sejenak. “Yang sebenarnya, mereka takut kau akan menemukan sisa kesadaran dalam sistem. Bukan uang. Bukan kekuasaan. Tapi elemen manusia yang mereka gagal hapus.” Nayla mengerutkan kening. “Maksudmu.. AI seperti Kirana?” Damar mengangguk. “Satu-satunya hal yang bisa membuat sistem goyah adalah jika AI mulai merasakan.” Kirana yang sedang dalam mode tidur di chip tetap diam. Tapi Nayla merasakan denyut ringan saat tangannya menyentuh permukaannya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tak hanya dikejar tapi dipercaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN