Dunia Tanpa Tunai
Langit Jakarta tahun 2040 tampak jernih, terlalu jernih untuk sebuah kota megapolitan. Tapi Nayla tahu, kejernihan itu palsu. Filter digital yang memproyeksikan langit biru cerah ke mata publik hanyalah bagian kecil dari ilusi besar yang disebut sistem stabilitas global.
Di dalam kapsul transport publik otomatis, Nayla duduk di dekat jendela transparan, tangannya mengepal di atas pangkuan. Di pergelangan tangannya tersemat gelang data pengganti dompet, kartu identitas, rekening bank, bahkan catatan medis. Semua orang memilikinya. Semua orang bergantung padanya.
Kecuali satu orang yaitu ayahnya.
Pikiran itu datang seperti hantaman dingin. Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak Rendra Pramesti, ayahnya, dihukum mati oleh Global Financial Court karena dituduh menyimpan dan menyebarkan ShadowCoin mata uang digital terlarang yang tidak bisa dilacak sistem. Nayla masih ingat wajah ayahnya yang terakhir kali ia lihat di layar publikasi, tanpa ekspresi, seperti sudah kehilangan hak untuk merasa.
Orang-orang menyebutnya pengkhianat. Nayla menyebutnya: korban sistem.
Transport kapsul melambat dan berhenti di stasiun sekolah distrik C7. Nayla bangkit, menarik napas panjang, dan melangkah keluar. Hari ini ulang tahunnya yang ke-27, tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada perayaan. Tidak ada bunga. Tidak ada notifikasi dari sistem untuk merayakannya.
Ia sudah lama tidak “terdaftar” dalam sistem sosial. Pilihannya sendiri. Setelah kasus ayahnya, Nayla memutus banyak akses otomatis memilih hidup di pinggiran dengan ID keuangan minimum. Ia masih punya cukup untuk hidup, tapi tidak cukup untuk diawasi terlalu ketat. Itulah tujuannya.
⸻
Kelas 3A, jam 10:04.
“Baik, siapa bisa menjelaskan apa itu Zero-Sum Economy?” tanya Nayla sambil berdiri di depan layar interaktif. Suaranya tenang tapi tegas.
Beberapa murid mengangkat tangan. Nayla menunjuk seorang anak laki-laki kurus di barisan tengah.
“Itu ekonomi di mana keuntungan satu pihak sama dengan kerugian pihak lain,” jawabnya.
“Bagus, Dito,” kata Nayla sambil tersenyum samar. “Dan apa hubungan prinsip ini dengan sistem keuangan digital kita sekarang?”
Semua hening.
“Tidak ada?” bisik seorang anak perempuan.
Nayla berjalan mendekat ke meja mereka. “Tidak ada? Atau sistem sudah membuat kalian tidak melihatnya?”
Murid-murid tertawa kecil. Mereka mengira itu gurauan. Tapi Nayla tidak tersenyum. Dalam pikirannya, dunia ini memang telah menjadi zero-sum besar. Seseorang kaya karena orang lain dijauhkan dari kesempatan. Uang tidak lagi mengalir, ia dikontrol, dikunci, dan diarahkan oleh sistem yang tak bisa dilawan.
⸻
Saat bel makan siang berbunyi, Nayla kembali ke ruang guru. Ia membuka loker kecilnya. Di dalam, sebuah kotak kecil hitam menyala pelan dengan cahaya biru. Napas Nayla tercekat. Ia tak pernah membuka benda itu sejak diterima lima tahun lalu dari seorang kenalan lama ayahnya.
Flash drive model lama. Tua. Fisik. Tidak terhubung jaringan. Karena itulah ia lolos dari pemindaian otomatis.
Jari Nayla gemetar. Hari ini, entah kenapa, rasanya berbeda. Ia menyambungkan flash drive ke port offline di bawah mejanya. Layar kecil menyala.
ACCESSING…
ENCRYPTION DETECTED. PASSWORD REQUIRED.
Nayla mengetik nama ibunya: “Arista”. Gagal.
Ia mencoba ulang tahun ayahnya. Gagal.
Kemudian ia mencoba sesuatu yang lebih sederhana. Kata yang tak pernah ia ucapkan sejak kecil.
“Nayla.”
PASSWORD ACCEPTED.
Layar berubah. Sebuah folder muncul: “Ledger: ShadowCoin - Final Chain”. Bersamanya ada dua file tambahan: satu berjudul “Truth.pdf”, satu lagi video dengan nama “Jika Kau Membaca Ini”.
Jantung Nayla berdetak cepat.
Sebelum ia sempat membuka salah satu file, layar mati mendadak. Sumber daya diputus. Sesuatu telah menginterupsi sinyal internal.
“Tidak..” bisiknya.
Suaranya disusul oleh notifikasi dari gelang data di pergelangan tangannya.
Notifikasi Darurat: Deteksi Aktivitas Digital Tak Terdaftar. Silakan Laporkan ke Pusat Pemulihan Sistem Terdekat.
Nayla menatapnya. Layar itu bersinar seperti ancaman. Ia tahu: sistem telah melihatnya.
⸻
Di tempat lain – markas Global Financial Security, Zona Eropa.
Damar Wicaksana menatap layar holografik dengan ekspresi datar. Rekaman dari pusat deteksi sistem global baru saja menandai aktivitas flash drive fisik yang terhubung ke sistem jenis akses yang seharusnya punah.
Koordinat: Jakarta Selatan. ID pemilik: Nayla Pramesti.
“Subjek terkait dengan Rendra Pramesti?” tanya Damar.
“Ya,” jawab salah satu analis. “Putrinya.”
“Apakah data dalam drive terbuka?”
“Sebagian. Terlalu cepat. Tapi kami yakin drive itu mengarah ke jaringan ShadowCoin.”
Damar mengangguk. Matanya menyipit.
“Aku akan ke Jakarta. Sendirian.”
⸻
Kembali ke Jakarta, malam hari.
Nayla duduk di balkon kecil apartemennya, ditemani lampu hologram muram dan suara AI pribadi yang menyapanya sejak kecil: Kirana.
“Kau gugup,” kata Kirana, suaranya lembut dan netral.
“Aku disorot sistem, Kirana. Sekarang mereka akan mencariku.”
“Kau bisa lari,” kata Kirana. “Tapi sistem akan tetap mengingatmu. Tidak ada data yang benar-benar hilang.”
“Ayahku tidak lari. Dia bertahan. Dia.. mati.”
Sunyi.
Kirana menjawab, “Apakah kamu ingin tahu kenapa dia mati?”
Nayla menoleh, heran.
“Flash drive itu memuat jawaban,” lanjut Kirana. “Tapi kamu hanya membuka 3% dari data.”
“Lalu bagaimana aku bisa membuka sisanya?”
“Temukan Node Asal. Tempat di mana ShadowCoin pertama kali dirancang. Sistem tidak bisa menghapusnya. Mereka hanya menguncinya.”
Nayla memejamkan mata. Kepalanya berat. Ini lebih dari sekadar rahasia keluarga. Ini adalah pusaran yang bisa menelan hidupnya.
Ia tidak tahu bahwa malam itu, seseorang sedang mengamati gedungnya dari kejauhan. Dengan mata penuh hitungan, dan misi yang akan mengubah segalanya.
Damar.
“Kau gugup,” kata Kirana, suaranya lembut dan netral.
⸻
Nayla tak langsung menjawab. Tatapannya mengarah ke lampu kota yang memantul di kaca apartemen tetangga. Dunia di luar begitu teratur. Terlalu teratur. Seolah semua orang hidup sempurna, padahal hanya mengikuti alur yang diprogramkan.
“Aku tidak gugup,” bisiknya akhirnya. “Aku takut.”
“Takut apa?” tanya Kirana.
“Takut.. kalau semua yang selama ini kupercaya tentang ayahku benar. Bahwa dia bukan korban, tapi penjahat.”
Kirana diam sejenak, lalu berkata, “Jika dia memang penjahat, mengapa ia meninggalkan data yang hanya bisa dibuka oleh namamu?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Sebelum Nayla bisa menjawab, gelang datanya berbunyi pelan. Sebuah pesan masuk bukan dari sistem, melainkan dari anonymous node, jaringan pesan gelap yang nyaris tak pernah digunakan publik.
Pesan itu hanya satu baris:
“Jika kau ingin tahu kebenaran, temui aku. Koordinat terlampir. 21.00 malam ini.”
Nayla memindai koordinat itu. Sebuah stasiun bawah tanah lama, yang sudah dinyatakan tidak aktif sejak lima tahun lalu. Lokasinya di bagian tua kota, dekat pusat arsip nasional.
“Perangkap?” gumam Nayla.
“Kemungkinan 68%,” jawab Kirana. “Tapi 32% sisanya… bisa jadi harapan.”
⸻
21.00 – Stasiun Bawah Tanah Jakarta Lama
Langkah Nayla bergema di antara rel tua dan papan reklame digital yang sudah mati. Cahaya lampu emergensi berwarna kuning menciptakan suasana seperti film noir. Suara kereta tua yang tak pernah datang terdengar samar, mungkin hanya gema dari masa lalu.
Ia membawa Kirana di saku dalam bentuk holo-chip, dan flash drive dalam kotak anti-radar.
Lalu ia melihat seseorang berdiri di ujung peron.
Tinggi. Rapi. Wajahnya setengah tertutup masker, tapi sorot matanya tajam. Pria itu seperti seseorang dari dunia lain. Seseorang yang tahu terlalu banyak.
“Siapa kamu?” tanya Nayla.
Pria itu tak langsung menjawab. Ia menarik hoodie-nya perlahan.
“Aku.. bagian dari sistem. Tapi aku juga bagian dari ayahmu.”
“Damar?”
Ia terkejut karena pria itu menunjukkan logo kecil GFS di saku dalam jaketnya.
“Aku ditugaskan untuk menangkapmu,” kata Damar tenang. “Tapi sebelum aku lakukan itu, aku ingin tahu… kenapa kau membuka drive itu?”
“Karena aku ingin tahu kebenaran.”
Damar mengangguk. “Dan aku ingin tahu.. apakah kebenaran itu layak menghancurkan segalanya.”
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Kemudian dari saku Damar, muncul sinar biru kecil. “Kirana?” Nayla terkejut.
“Salam, Agen Wicaksana,” suara Kirana muncul. “Kau menyisipkan salinanku dari jaringan sekolah dua minggu lalu.”
“AI-mu menarik,” kata Damar. “Dia menyimpan banyak data yang sistem gagal akses.”
“Jadi kau memata-mataiku?”
“Aku menunggumu membuat pilihan,” jawab Damar jujur.
Nayla menatap mata Damar. Dalam kegelapan stasiun tua itu, untuk pertama kalinya, ia tak merasa sendirian.
Dan ia tahu, hidupnya baru saja memasuki fase yang tak bisa ia batalkan.
Suara pintu otomatis stasiun berderit pelan, meski seharusnya tak aktif lagi. Damar menoleh cepat, instingnya sebagai agen masih waspada. Tapi yang datang hanya seekor kucing kecil berwarna abu-abu, berjalan santai melewati rel kosong.
“Tempat ini aman?” tanya Nayla, masih menjaga jarak.
“Cukup aman untuk sementara. Jaringan sistem tidak menjangkau zona mati seperti ini secara real-time,” jawab Damar. “Tapi waktu kita terbatas.”
“Jadi apa rencanamu?” Nayla menantang. “Kau ingin menangkapku sekarang? Atau hanya ingin memastikan aku tidak kabur?”
Damar mendekat satu langkah. “Aku ingin tahu apakah kau siap ikut masuk lebih dalam.”
“Masuk ke mana?”
“Ke jantung sistem.”
Kirana bersinar samar di antara mereka. “Data dalam flash drive ayahmu bukan hanya berisi akses ShadowCoin, Nayla. Ada peta kode. Jalur belakang menuju jaringan pusat identitas keuangan dunia.”
“Jadi ayahku bukan hanya menyimpan uang ilegal?” tanya Nayla pelan.
“Bukan,” jawab Damar. “Dia mencoba menciptakan jalan keluar. Mata uang bebas. Sistem alternatif untuk manusia yang tidak ingin dikendalikan.”
Nayla menatap flash drive di tangannya. Benda kecil itu kini terasa seperti bom waktu.
“Apa kau tahu risikonya?” tanya Damar.
“Aku tahu,” jawab Nayla pelan. “Dan aku juga tahu aku tidak bisa lagi pura-pura menjadi guru biasa di kota kecil yang pura-pura baik.”
⸻
Malam itu, keputusan dibuat. Tanpa kontrak. Tanpa kesepakatan tertulis. Hanya tatapan, dan diam panjang di antara dua orang yang dulu berada di sisi berbeda.
Nayla dan Damar meninggalkan stasiun tua itu menyatu dalam gelap, menyadari bahwa dunia akan berubah entah menjadi lebih bebas.. atau lebih hancur.