Clara menatap Louis selama beberapa menit. Sementara, yang ditatap masih fokus menatap barisan bunga di depannya.
Apakah Clara harus pergi ke tempat lain? Tapi, para pelayan sudah menyiapkan teh dan camilan untuknya. Kalau begitu, apakah Clara harus berjalan melewati Louis? Tapi, bocah itu kan takut dengan Claramel.
Karena, Claramel terus menghina Louis dengan sebutan anak pembawa sial yang terkutuk. Clara juga selalu memukul Louis jika anak laki-laki itu tidak sengaja bertemu dengannya. Jika Clara berjalan melewati Louis, anak itu pasti akan berlari menjauh, kan? Padahal, Clara ingin sekali jadi lebih dekat dengan Louis.
Sebenarnya, kenapa Claramel begitu membenci anak yang tidak salah apapun ini? Tidak masalah jika Claramel membenci pernikahannya dengan Duke Clamentime dan tidak melakukan pekerjaannya sebagai seorang Duchess dengan benar. Tapi, kalau sampai menyakiti seorang anak kecil yang tidak tahu apapun, itu sih namanya keterlaluan.
Clara berjalan mendekati Louis. Sudah Clara putuskan, apapun yang terjadi pada Louis, entah dia akan berlari atau berteriak ketakutan, Clara akan tetap menemuinya dan meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah Claramel lakukan. Tidak masalah jika Louis tidak memaafkannya. Yang penting, Clara sudah meminta maaf dengan sangat tulus. Clara akan terus berusaha untuk meluluhkan hati Louis. Dengan begitu, suatu saat Louis pasti akan mau memaafkannya, kan? Atau, malah bisa jadi Clara semakin dekat dengan Louis.
Langkah kaki Clara pelan mendekati Louis. Sengaja. Agar anak laki-laki itu tidak mendengar suara langkah kaki Clara dan kabur. Apalagi, Louis terlihat begitu fokus dengan barisan bunga di depannya. Jika seorang anak sudah fokus terhadap sesuatu, akan sulit membuatnya menyadari keadaan sekitarnya. Dan, itu adalah hal yang bagus untuk Clara karena dia jadi bisa mendekati Louis tanpa membuatnya sadar akan kehadiran Clara.
Clara berdiri di belakang samping Louis. Ikut menatap bunga berwarna biru itu. Kemudian, menatap wajah Louis yang terlihat begitu bahagia.
Usia Louis sekarang adalah 6 tahun. Meski begitu, tubuhnya terlalu kurus untuk anak berusia 6 tahun. Apa dia makan dengan benar? Selain itu, telapak tangannya terlihat sangat kasar. Apa dia melakukan pekerjaan yang berat? Tapi, anak berusia 6 tahun harusnya belajar dan bermain dengan nyaman, kan?
Clara lupa kalau Louis bukankah anak berusia 6 tahun yang normal. Warna rambut dan manik mata itu adalah penanda jika Louis terkena kutukan. Sama seperti ayahnya. Dan, keturunan Reynold yang mewarisi kutukannya mana mungkin bisa hidup dengan nyaman.
Louis pasti mendapatkan perlakuan tak mengenakkan dari para pekerja.
Deg!
Jantung Louis berdegup kencang ketika dia menyadari jika ada bayang-bayang seseorang yang menutupi tubuhnya sedari tadi. Karena taman kaca ini tidak boleh dimasuki oleh orang luar tanpa ijin keluarga Duka. Maka... orang yang sedang berdiri di belakangnya saat ini adalah...
Louis terjatuh ke belakang ketika melihat Clara berdiri di sampingnya. Tubuh bocah kecil itu bergetar hebat. Matanya berair. Wajahnya pucat. Louis persis seperti orang yang melihat hantu. Apa Claramel seburuk itu di mata Louis? Padahal, Clara hanya berdiri di depan Louis tanpa melakukan apapun selain bernafas. Tapi, kenapa Louis sampai setakut ini? Apa siksaan fisik Claramel terhadap Louis benar-benar parah?
Louis segera bersujud di hadapan Clara dengan kedua tangan di atas.
Deg!
Clara menatap pemandangan itu dengan kaget. Apa yang sedang dilakukan anak berusia 6 tahun ini di hadapan wanita yang menjadi ibu tirinya? Walaupun Claramel bukanlah wanita yang melahirkan Louis, dia seharusnya tetap menyayangi anak ini dengan tulus. Dimana sisi keibuan wanita sialan ini? Apa yang sudah dia lakukan pada Louis sampai membuatnya bersujud seperti ini?!
"Ma-ma-maafkan saya karena muncul di hadapan anda, Nyonya Claramel! Tolong jangan bawa saya ke ruang bawah tanah! Saya mohon! Saya berjanji tidak akan ke taman kaca lagi! Tolong ampuni saya!"
Deg!
Jantung Clara berdetak sangat kencang. Darahnya mendidih.
Ruang bawah tanah?! Itu kan ruang yang digunakan khusus untuk menyiksa para tahanan atau tawanan perang. Kenapa Claramel membawa Louis kesana?! Apa mungkin Claramel tidak sekadar memukul Louis saat tidak sengaja bertemu dengannya? Apa mungkin Claramel menyiksa Louis di ruang bawah tanah?!
Wanita jalang itu rupanya sudah kehilangan akal sehatnya!
Orang dewasa saja bisa kehilangan akal sehatnya jika disiksa di ruang bawah tanah itu. Bagaimana mungkin Claramel tega melakukan hal sekeji itu pada anak laki-laki yang manis ini?!
Apa Claramel itu seorang jelmaan iblis? Apa tubuhnya diisi oleh jiwa seorang iblis setelah menikah dengan Duke Clamentime.
Clara menatap Louis prihatin.
Padahal, tanpa harus mendapatkan siksaan dari ibu tirinya pun, hidup Louis sudah sulit karena adanya kutukan itu. Clara benar-benar tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupan Louis selama ini. Pasti sangat berat untuk anak usia 6 tahun. Orang dewasa saja belum tentu bisa menggantikan Louis.
"Claramel b******n! Akan aku pastikan dia mati jika berani muncul di hadapanku!"
Clara membungkukkan badannya. Kedua tangannya terjulur. Tubuh Louis semakin bergetar hebat. Kedua tangan Clara menyentuh lengan Louis. Menariknya perlahan.
Dengan lembut, Clara berkata, "Ayo bangun, Tuan Muda!" kata Clara.
Louis menurut. Tubuhnya yang bergetar perlahan bangkit. Dia menundukkan kepalanya. Takut menatap wajah menyeramkan Claramel yang jelas sedang sangat marah.
"Apa yang anda lakukan di taman kaca?" tanya Clara.
Clara memang bisa melihat dengan jelas kalau Louis sedang melihat bunga tadi. Tapi, dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa untuk mengawali pembicaraan ini. Hahaha....
"Sa-sa-saya hanya melihat-lihat bunga." jawab Louis dengan gagap.
"Apa anda menyukai bunga?" tanya Clara lagi.
"Iya! Saya sangat menyukai bu-bu-bunga."
Clara tersenyum. Louis sudah sedikit lebih tenang. Tubuhnya tidak lagi bergetar hebat seperti tadi. Sepertinya, Louis sadar kalau ibu tirinya ini tidak akan menghukumnya seperti biasa.
Luka pecutan di punggungnya belum kering. Jadi, rasanya akan sangat sakit kalau Louis mendapatkan luka pecut lagi.
"Saya ingin minum teh di taman kaca ini. Tapi, saya tidak memiliki teman. Apa anda mau minum teh bersama?" tanya Clara ramah.
Louis mengangkat kepalanya. Clara langsung tersenyum lebar. Meyakinkan Louis kalau dia tidak akan melakukan hal buruk lagi padanya.
Louis mengangguk. Dia sebenarnya takut. Tapi, jika dia tidak melakukan apa yang ibu tirinya suruh, bisa-bisa akan ada luka goresan pisau di perutnya. Louis tidak mau mendapatkan luka lagi. Setidaknya, sampai luka lamanya kering. Karena itu akan sangat menyakitkan. Dan, Louis tidak yakin bisa menahannya kali ini.
Clara tersenyum. Dia menjulurkan tangannya pada Louis.
"Apa anda mau bergandengan tangan?" tanya Clara sembari tersenyum.
Louis lagi-lagi mengangguk. Tangannya bergetar hebat ketika menggenggam tangan Clara. Clara bisa merasakan betapa dinginnya tangan mungil itu. Louis sepertinya benar-benar takut.
Clara dan Louis melangkah menuju meja dan kursi yang ada di tengah taman kaca. Clara melepaskan tangannya. Lantas, duduk di salah satu kursi yang ada di depan Louis. Louis mencoba untuk duduk. Tapi, kursi yang dirancang khusus untuk orang dewasa itu terlalu sulit untuk dinaiki anak kecil berusia 6 tahun.
Clara menatap pemandangan itu gemas. Louis benar-benar menggemaskan.
Clara beranjak dari kursinya. Dia berjalan mendekati Louis. Kedua tangannya terjulur. Louis menutup kedua matanya. Ibu tirinya ini pasti marah besar karena Louis mengganggunya.
"Eh?!"
Mata Louis terbuka lebar ketika tubuhnya melayang satu meter di udara. Dengan perlahan, Clara meletakkan Louis di atas kursi.
Dugaan Clara benar. Louis terlalu kurus untuk anak usia 6 tahun. Saat Clara menggendong Louis, tubuh anak itu seringan kapas.
Clara kembali duduk di kursinya. Tersenyum.
Louis menatap ibu tirinya bingung. Apa yang terjadi pada ibu tirinya ini? Padahal, biasanya dia akan membawa Louis ke ruang bawah tanah dan menyiksanya di sana ketika Louis dengan tidak sengaja menampakkan diri di hadapannya. Kenapa sekarang ibu tirinya malah mengajak Louis minum teh bersama?
Aneh sekali!
Tapi, Louis tidak berani bicara. Dia takut membuat Claramel benar-benar marah.
Jadi, ayo diam saja dan nikmati acara minum teh pertamanya ini dengan mulut yang tertutup rapat.