Bab 9

1120 Kata
Cangkir teh dan piring berisi camilan mulai berdatangan. Mengisi meja berbentuk bundar itu. Beberapa pelayan berdiri di belakang Clara. Berjaga-jaga jika nyonya besar mereka membutuhkan sesuatu. Semua pelayan itu menatap pemandangan di depan mereka dengan wajah bingung. Yah, itu adalah ekspresi yang normal. Clara justru akan merasa heran jika mereka menatapnya dengan tatapan penuh kegembiraan dan hati yang hangat. Claramel yang biasa menyiksa anak tirinya di ruang bawah tanah kini justru mengajaknya minum teh bersama. Louis yang biasanya masuk ke kamar dalam keadaan punggung yang dipenuhi luka kini justru duduk di depan orang yang memberinya luka di punggung itu. Jadi, bukankah ini adalah sebuah pemandangan yang sangat aneh?! Pertanyaannya, apakah mereka harus takut dengan hal yang tak biasa ini? Atau, haruskah mereka merasa senang? Senang karena nyonya yang biasanya jahat kini terlihat lebih bersahabat. Seorang pelayan muda berjalan dengan teko berisi teh hijau yang baru diseduh. Uap panas mengepul dari mulut teko. Menandakan betapa panasnya cairan di dalamnya. Pelayan muda itu menuangkan teko teh dengan hati-hati ke dalam cangkir yang ada di depan Clara. Clara menatapnya. Tangan pelayan itu bergetar hebat. Tidak hanya itu, wajahnya juga pucat. Dan, keringat sebesar biji jagung mengalir deras di wajahnya. Sepertinya, dia adalah pelayan baru. Karena wajahnya terlihat asing. Dan, cara kerjanya pun terbilang seperti amatir. Apa baik-baik saja membiarkan pelayan ini menuangkan teh panas? Trang! Baru saja dibicarakan, hal yang Clara takutkan terjadi. Teko teh itu sedikit terlepas dari genggaman tangan si pelayan baru. Cairan teh panas di dalam teko menyiprat ke pakaian Clara. Sedikit mengenai tangannya. "Argh! Sakit!" pekik Clara. Clara menatap Louis sekilas. Syukurlah teh panas ini tidak mengenainya sedikit pun. "Nyonya Duchess! Apa anda baik-baik saja?" "Cepat bawakan air dingin!" Para pelayan yang berdiri di belakang Clara langsung riuh. Berlarian ke dalam istana. Mengisi baskom dengan air dingin dan mencari obat-obatan. Juga memanggil dokter. Tubuh pelayan itu bergetar ketika Clara berdiri dengan tangan yang memegang luka bakar di punggung tangannya yang lain. Pelayan baru itu segera bersujud. Melukai seorang duchess bisa membuat tangannya dipotong. Tapi, karena yang dia lukai adalah seorang Nyonya Claramel yang berhati dingin, dia bisa saja dihukum mati. Bukan hanya itu, keluarganya yang tidak tahu apapun juga akan ikut dihukum mati karena kesalahannya ini. Louis yang melihat kejadian itu juga ikut bergetar ketakutan. Dia tahu kalau ibu tirinya akan menyalahkan Louis atas apa yang menimpa dirinya saat ini. Karena bagi Claramel, Louis adalah anak pembawa sial yang seharusnya tidak pernah lahir. "Ma-ma-maafkan saya, Nyonya Claramel! Tolong hukum saja saya! Jangan hukum keluarga saya! Saya mohon!" katanya dengan air mata yang mengalir deras. Clara tak acuh. Dia menatap sekitar. Begitu menemukan air mancur tak jauh dari tempatnya berdiri, Clara langsung meletakkan tangannya yang terkena luka bakar di bawah air mancur. Membiarkan air dingin yang mengalir itu mengenai lukanya. Beberapa saat kemudian, luka yang awalnya terasa perih dan panas itu mulai terasa membaik. Para pelayan yang tadi berlarian kini sudah kembali dengan membawa seorang dokter. Clara duduk di atas kursinya lagi. Pelayan baru itu masih bersujud. "Lukanya akan segera sembuh. Tolong jangan biarkan tangan anda terkena air. Lalu, salep ini akan memudarkan bekas lukanya. Oleskan di tangan anda 3 kali sehari." kata dokter itu. Clara mengangguk. Dokter itu membungkukkan badannya. Kemudian, langsung pergi setelah membalut luka Clara dengan perban. Sepertinya, dokter itu takut terkena cipratan kemarahan Claramel. Clara menatap pelayan yang bersujud di hadapannya. "Berdirilah!" kata Clara. Semua pelayan yang berdiri di belakang pelayan itu bergetar. Wajah mereka pucat. "Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya. Jadi, aku akan memaafkanmu kali ini. Tapi, tidak akan ada lainkali!" kata Clara tegas. Wajah pelayan baru itu berubah sumringah. Air matanya masih mengalir deras ketika bibirnya terangkat ke atas. Menunjukkan senyum lebar. "Sungguh?! Terima kasih banyak, Nyonya Claramel! Terima kasih banyak! Saya tidak akan melakukan kesalahan lagi!" katanya sembari membungkukkan badannya berkali-kali. "Tapi, karena kau melakukan kesalahan, kau tetap harus dihukum!" kata Clara sembari tersenyum. Wajah sumringah pelayan itu menghilang. Dia ingin memohon pengampunan lagi. Tapi, apa yang diucapkan Clara benar. Dia tetap harus dihukum. Rakyat jelata sepertinya ini mana mungkin dibebaskan dari kesalahan begitu saja. "Karena tanganku terluka dan dokter melarangku melakukan banyak hal, jadi, aku butuh pelayan baru. Kau harus jadi pelayanku sampai tanganku sembuh. Itulah hukumanmu!" kata Clara. "Tentu, Nyonya Claramel! Saya akan membantu anda dengan sepenuh hati saya!" Semua pelayan menghembuskan nafas lega. Mereka senang karena pelayan baru yang mulai bekerja sejak 3 hari lalu itu tidak mendapatkan hukuman yang berat. Bahkan, hukuman yang diberikan oleh Clara tidak pantas disebut hukuman karena terlalu ringan. "Sepertinya rumor yang mengatakan kalau Nyonya sudah berubah itu benar!" "Beliau terlihat seperti orang yang benar-benar berbeda sekarang!" Suara bisikan para pelayan yang berbaris di belakang membuat Clara merasa sedikit tak nyaman. Bisakah mereka memelankan suaranya? Kalau ingin membicarakan seseorang dari belakang, setidaknya berhati-hati sedikit, dong! "Kau! Bawakan aku teh yang baru!" kata Clara sembari menunjuk seorang pelayan yang berdiri di belakangnya. Pelayan itu mengangguk, "Baik, Nyonya!" Kemudian pergi setelah mengucapkan kalimat itu. "Siapa namamu?" tanya Clara pada pelayan yang menumpahkan teh hijau panas tadi. "Nama saya Neona, Nyonya Claramel!" jawabnya dengan kepala menunduk. "Baiklah, Neona! Pilih bajuku yang memiliki terlalu banyak permata dan berlian. Ah, semua perhiasan dan sepatuku juga. Tempatkan semuanya di tempat yang berbeda." "Apa yang harus saya lakukan dengan mereka, Nyonya Claramel?" "Jual dan letakkan uang hasil penjualannya di dalam selembar cek!" kata Clara. "Baik, Nyonya Claramel" Neona kemudian pergi. Clara menatap Louis yang masih terlihat ketakutan. Pelayan yang tadi disuruh Clara untuk membuat teh hijau baru kembali secepat kilat. Dia menuangkan teh hijau itu ke dalam cangkir Clara. Kali ini tidak ada setetes teh pun yang jatuh. Ketika pelayan itu ingin menuangkan teh ke cangkir Louis, Clara menghentikannya. "Tunggu sebentar!" kata Clara. Pelayan itu menurut. Dia kembali berdiri tegak. Menunggu perintah Clara yang selanjutnya. "Tuan muda, apa anda suka teh hijau?" tanya Clara dengan suara yang begitu lembut. Rasa teh hijau terlalu pahit untuk diminum oleh anak kecil. Clara tidak yakin Louis akan menyukainya. Kalau pun dia meminumnya, itu sudah pasti karena dia terpaksa. Louis menggeleng pelan. "Bagaimana kalau s**u atau coklat? Mana yang paling anda suka?" tanya Clara lagi. "s**u coklat." lirih Louis pelan. Clara tersenyum. Louis sudah berani menjawab pertanyaannya meski dengan suara yang sangat pelan. Itu artinya dia tidak lagi berpikir kalau Claramel adalah orang jahat, kan? "Buatkan s**u coklat untuk tuan muda!" "Baik, Nyonya!" Susu coklat. Dalam buku dongeng yang Louis baca, s**u coklat digambarkan sebagai minuman yang sangat enak dan disukai banyak orang. Selama ini, Louis hanya minum air dari kran atau air mancur. Jadi, Louis ingin mencoba s**u coklat itu sekarang. Tidak masalah jika ternyata di dalam minuman itu ada racun yang disiapkan ibu tirinya. Selama Louis bisa mencoba minuman itu, dia akan baik-baik saja. "Louis, ayo jadi semakin dekat dan hidup bahagia selamanya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN