Bab 10

1163 Kata
Sebuah cangkir berisi s**u coklat terpampang di hadapan Louis. Uap panas dari s**u itu mengepul di udara. Aroma coklat menggelitik hidung Louis. Membuat lidahnya semakin ingin merasakan s**u coklat itu. Namun, Louis takut ibu tirinya akan marah kalau dia mengulurkan tangannya untuk meminum s**u itu tanpa disuruh terlebih dahulu. Hanya dengan mencium aroma manis dari cangkir itu saja, Louis tahu kok kalau s**u coklat itu akan terasa sangat enak. "Kenapa anda tidak meminum s**u coklatnya, Tuan Muda?" tanya Clara dengan tatapan ramah yang tetap terasa menyeramkan bagi Louis. Louis diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Kalau dia bilang jika dirinya takut pada Claramel, ibu tirinya itu pasti akan membunuhnya, kan? "Itu....." Louis menundukkan kepalanya. Otaknya berputar. Mencari jawaban yang bisa menyelamatkan tubuhnya dari bekas luka. "Tidak apa-apa! Minum saja s**u coklatnya!" kata Clara dengan senyum ramah. Kepala Louis terangkat. Dia tidak percaya kalau ibu tirinya sama sekali tidak menginginkan jawaban darinya. Padahal, biasanya setiap pertanyaan yang keluar dari mulutnya harus selalu dijawab oleh Louis. Jika tidak, akan ada benda tumpul yang menghantam tubuh kecil Louis. Clara menatap Louis bingung. Padahal, Clara sudah menyuruh Louis untuk meminum s**u coklatnya. Tapi, kenapa dia diam saja? Apa Clara harus menyuapinya juga? Clara sih mau-mau saja. Malah, sebenarnya dia ingin sekali menyuapi Louis. Tapi, bocah kecil ini pasti akan lari ketakutan, kan? "Ayo minum s**u coklatnya, Tuan Muda. Rasanya tidak akan enak lagi kalau sudah dingin!" kata Clara dengan senyum yang lebih lebar dan tatapan bersahabat agar tidak terkesan memaksa Louis meminum s**u coklatnya. Bisa-bisa nanti Louis mengira kalau Clara meminta pelayan memasukkan racun ke dalam s**u coklat itu. Hal seperti itu adalah hal yang bisa saja dilakukan oleh seorang Claramel. Dia kan seperti punya jiwa seorang iblis setelah menikah dengan Duke Clamentime. Louis memberanikan dirinya. Tangannya terjulur. Memegang cangkir itu dengan kedua tangannya. Clara menatapnya gemas. Anak yang begitu mungil itu harus menggunakan dua tangan untuk mengangkat cangkir kecil itu. Bukankah itu sangat menggemaskan? Tunggu! Bukankah itu berarti Louis sangat lemah sampai tidak bisa mengangkat cangkir berisi s**u coklat dengan satu tangan? Padahal, anak seusia Louis seharusnya bisa melakukannya. Kalau begitu, Clara akan membuat Louis jadi sangat kuat sampai bisa memindahkan kastil dengan satu jari. Aroma manis coklat dan gurihnya s**u semakin menyeruak ketika cangkir itu berada di hidung dan bibir Louis. Begitu ujung cangkir itu mengenai bibirnya, manik mata Louis membulat. Dia terpaku selama beberapa saat. Tanpa harus disuruh oleh Clara, Louis langsung meneguk semua s**u coklat itu sampai habis. Tidak apa! Bahkan, jika di dalam s**u coklat itu ternyata benar-benar ada racun atau jika ibu tirinya akan mencambuknya di ruang bawah tanah karena menghabiskan semua s**u coklat itu sebelum disuruh, Louis baik-baik saja. Rasa manis dan gurih dari minuman yang belum pernah ia coba sebelumnya ini benar-benar pantas ditukar dengan apapun. Louis meletakkan cangkir kosong itu kembali ke atas meja. Ada suara dentingan cangkir dengan piring kecil yang berfungsi sebagai alasnya. Clara tersenyum senang. Tapi, juga sedih di saat bersamaan. s**u coklat itu seharusnya adalah minuman yang biasa saja bagi seorang anak bangsawan setingkat duke terhormat seperti Louis. Tapi, dia bersikap seolah s**u coklat adalah minuman paling enak di dunia. Clara jadi semakin ingin membunuh Claramel. "Apa anda menyukai s**u coklatnya, Tuan Muda?" tanya Clara sembari tersenyum. Louis mengangguk pelan. "Apa anda mau lagi?" Louis kembali mengangguk. Kali ini jauh lebih cepat dibandingkan anggukan yang sebelumnya. Clara tertawa kecil. Mau jadi segila apapun Louis di masa depan karena kutukan dan pengaruh kekerasan fisik dari Claramel, dia tetaplah seorang anak kecil polos berusia 6 tahun. Jika Clara mengubah alur ceritanya, seluruh isi buku ini pasti akan berubah, kan? Dengan kata lain, masa depan semua orang akan berubah. Dan, perubahan itu bisa ke arah yang baik atau buruk. Semua itu tergantung bagaimana Clara bersikap. Masa bodoh dengan alur cerita! Clara tidak peduli. Apapun yang dia lakukan pasti tidak akan mempengaruhi buku yang mantan sialannya itu tulis. Clara sama sekali tidak tahu. Kalau apa yang dia lakukan saat ini memang tidak mengubah buku yang Johan tulis. Tapi, hanya mengubah buku yang sudah Clara baca. Iya, buku yang Clara bakar itu tidak benar-benar terbakar. Melainkan, kembali kosong. Dan, menulis apa yang sedang Clara lakukan. Setiap lembarnya kembali diisi kalimat. Dengan alur cerita yang berbeda. Dan, buku itu berada di tangan Andersen Kai Theros, Dewa Kehidupan yang bertugas mengawasi keberlangsungan hidup manusia. Alasan kenapa Andersen yang menyimpan buku itu adalah sebuah misteri. Misteri yang bisa Clara pecahkan jika dia menyadari siapa dia sebenarnya. Tapi, masih sangat lama bagi Clara untuk menyadari siapa dirinya yang sebenarnya. Sekarang, mari fokus pada usaha Clara dalam memperbaiki hubungannya dengan Louis saja. "Tuangkan s**u coklatnya lagi!" kata Clara. Seorang pelayan yang berdiri di belakang Clara langsung melangkah maju dan menuangkan kembali s**u coklat ke dalam cangkir Louis. Manik mata Louis berbinar menatap cairan coklat dalam cangkirnya. Clara tersenyum, "Minumlah, Tuan Muda!" Louis mengangguk. Tersenyum. Clara menatapnya gemas. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Louis tersenyum di depan Claramel secara langsung. Louis benar-benar menggemaskan saat tersenyum. s**u coklat sepertinya membuat Louis lupa kalau dia sedang berada di depan ibu tirinya yang jahat. Louis kembali mengangkat cangkir itu dengan kedua tangannya. Lantas, menenggak seluruh isinya dengan cepat. "Minumlah dengan perlahan, Tuan Muda! Nanti anda tersedak." Louis meletakkan cangkir kosong itu. Suara dentingan cangkir dan piring kembali terdengar. Clara tertawa pelan. Di atas bibir Louis, terdapat bekas berwarna coklat. Itu pasti dia dapatkan karena meminum susunya dengan cepat, kan? Tangan Clara mengambil sapu tangan di samping cangkir tehnya yang sudah dingin. Karena terlalu asik melihat Louis minum s**u coklat, Clara jadi tidak tertarik dengan teh hijaunya. Clara berdiri. Badannya sedikit membungkuk. Tangan Clara terjulur di hadapan Louis yang segera menutup matanya. Louis berpikir kalau ibu tirinya pasti ingin memukulnya. Beberapa pelayan juga menatap pemandangan itu ngeri. Tapi, tatapan mereka berubah ketika melihat Clara yang mengusap lembut bibir Louis. Louis juga refleks membuka matanya ketika merasakan sebuah benda dengan lembut mengusap bibirnya. Clara tersenyum ketika melihat Louis menatapnya heran. "Apa anda sangat menyukai s**u coklat sampai tidak sadar meninggalkan bekas di bibir anda, Tuan Muda?" tanya Clara sembari mengusap bagian bibir Louis yang lain. Tidak bisa Clara percaya kalau anak kecil ini akan mati karena memperebutkan seorang gadis. Ah, Clara lupa dengan Seraphine. Gadis itu akan muncul saat usia Louis 10 tahun. Artinya, masih ada 4 tahun lagi sampai keduanya bertemu. Baiklah! Clara akan membuat keduanya bertemu lebih cepat. Jika memang Seraphine adalah seorang saintess yang bisa menyembuhkan kutukan Louis, Clara akan segera mempertemukan mereka. Begitu kutukan Louis sudah lepas, Clara akan menyerahkan Seraphine ke putra mahkota agar mereka bisa menikah dan hidup bahagia selamanya tanpa melibatkan Louis. Anak tiri Clara ini terlalu imut untuk mati mengenaskan seperti itu! "Kalian semua pergilah! Aku ingin bicara berdua saja dengan Tuan Muda!" kata Clara. Semua pelayan saling tatap. Meneguk ludah. Mereka takut jika Tuan Muda mereka terluka. Tapi, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka semua kemudian melangkah pergi. Menyisakan Clara dan Louis sendirian. Clara melangkah. Berdiri di depan Louis yang ketakutan. Kepala Louis menunduk. Tubuhnya bergetar. "Tuan Muda, saya...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN