Berkenalan dengan Tetangga Kamar

1237 Kata
Kanya keluar dari gedung apartemen dengan perasaan bahagia. Dress berwarna krem selutut yang dikenakannya membuatnya terlihat semakin cantik dan anggun saat ini. Ditambah senyumannya yang selalu mengembang setiap saat membuat siapa pun yang berpapasan dengannya seolah-olah bisa merasakan sedikit kebahagiaan yang dimilikinya. Senyumnya semakin mengembang tatkala melihat toko buah dan memasukinya. Ia membeli beberapa butir jeruk dan apel yang kemudian disusun dengan indah di dalam sebuah keranjang yang dibungkus dengan plastik yang indah dengan hiasan. Setelah membayar ia kemudian keluar dan berencana mengunjungi toko roti, ia yakin Rara pasti akan senang dengan itu. Setelah membeli beberapa potong roti yang sekiranya cukup untuk mereka semua. Ia kemudian memberhentikan sebuah taksi dan menyebutkan nama rumah sakit yang akan ia kunjungi. Di dalam taksi ia hanya sibuk memperhatikan luar jendela. Menikmati pemandangan gedung-gedung yang lumayan memanjakan mata. “Sudah sampai, Mbak.” Kanya yang tak sadar bahwa taksi sudah berhenti tepat di depan gedung rumah sakit terhenyak. Ia terlalu asyik dengan pikirannya sendiri hingga tak memperhatikan apa pun. “Oh iya, Pak.” Ia menyerahkan sejumlah uang yang disebutkan supir taksi sebelum keluar dengan menenteng barang bawaannya yang cukup merepotkan baginya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih sebelum taksi yang baru saja ditumpanginya itu pergi dari hadapannya. Ia kemudian menoleh pada gedung besar dan tinggi di hadapannya. Perasaannya semakin senang tidak sabar untuk berkumpul dengan Bu Amirah dan keluarganya. Padahal mereka baru saja bertemu tadi malam. Ia berjalan masuk dan menyapa para petugas dengan ramah sebelum menuju lift. Sambil menunggu lift di depannya terbuka, ia tak lupa membuka ponselnya untuk melihat apakah ada pesan atau notifikasi lainnya. Ternyata, ia mendapat sebuah pesan dari Dimas. Laki-laki tampan itu hanya mengucapkan selamat beraktifitas, tapi Kanya seperti mendapat surat cinta di pagi hari. Saat menunggu, seorang perempuan dan anak laki-lakinya yang kiranya seumuran dengan Rara berjalan mendekat. Mereka saling melempar senyum sebentar sebelum kembali pada kesibukan masing-masing. Kanya masih sibuk berseluncur di dunia maya sehingga sedikit mengabaikan ibu dan anak di sampingnya. “Jangan, Nak. Tidak boleh.” Samar-samar Kanya mendengar suara perempuan di belakangnya yang seperti sedang menegur anaknya. Namun anaknya sepertinya tidak mau mendengarkannya dan terus saja melakukan apa pun yang sedang ia kerjakan mengabaikan peringatan ibunya yang sudah kewalahan dengan tingkahnya. Kanya yang masih sibuk dengan ponselnya mencoba mengabaikan itu ia tak ingin dianggap tidak sopan jika berusaha mengurusi urusan pribadi orang, sebenarnya ia sedikit canggung berada di sana bersama orang yang tidak dikenalinya dan berharap lift di depannya segera terbuka agar ia bisa tiba di lantai di mana kamar Bu Amirah berada. “Astaga, ibu bilang jangan, Nak. Itu punya orang.” “Tapi aku mau itu.” Rengekan anak kecil di belakangnya membuat Kanya mau tak mau jadi penasaran juga. Saat ia menoleh ia melihat anak kecil di belakangnya ternyata sejak tadi menyentuh tas berisi roti yang ia bawa dan itu sama sekali tidak disadari olehnya. Ibu dari anak itu segera menarik anaknya menjauh dan tersenyum canggung dengan Kanya, ia merasa malu dengan sikap anaknya yang tak mau mendengarkan ucapannya di depan orang lain. “Maaf, ya. Anak ibu memang agak susah dibilangin.” Kanya tersenyum. “Tidak apa-apa.” Ia berjongkok di depan anak kecil yang tampak cemberut yang membuat wajahnya tampak lebih lucu. “Adik siapa namanya?” tanyanya ramah. Melihat anak kecil itu membuatnya semakin merindukan Rara dan tak sabar untuk menemuinya sekarang juga. “Ihsan,” jawab anak kecil itu tanpa ragu. Ia tersenyum menampilkan gigi depannya yang rapi. Terlihat sekali bahwa ibunya sangat pintar merawatnya dengan baik. Kanya tersenyum dan mengambil dua bungkus roti yang berbeda rasa dan bentuknya kemudian menyerahkannya pada anak laki-laki di depannya. “Ini ambillah. Kamu mau roti, ‘kan?” Anak laki-laki itu tak langsung mengambilnya, ia mendongak menatap ibunya seperti meminta persetujuan. Hanya dengan melihat matanya saja siapa pun bisa tahu apa yang sedang ia pikirkan. “Astaga, tidak usah. Anak ibu cuma penasaran saja tidak benar-benar ingin memakannya. Maklum anak kecil.” “Tidak apa-apa, Bu. Lagipula aku punya lebih, anak ibu juga kelihatannya sangat suka.” Kanya kembali menatap anak laki-laki di depannya yang mendadak ragu. “Ayo ambil. Jangan sungkan. Ini milik kamu sekarang. Rezeki tidak boleh ditolak, ‘kan?” Setelah kembali melihat ibunya, anak kecil itu kemudian mengambil roti yang diberikan Kanya. “Terima kasih, Kakak,” serunya riang. Wajahnya tampak sangat ceria berbanding terbalik dengan ibunya yang malah merasa tidak enak pada Kanya. Berkali-kali ia berusaha menyuruh anaknya untuk mengembalikan roti yang diberikan Kanya tapi Kanya menolaknya dengan tega, ia tentu tak mau menerima kembali barang yang sudah ia berikan pada orang lain. “Aduh, maaf, ya. Anak ibu jadi merepotkan begini.” “Ini tidak merepotkan sama sekali, Bu. Justru aku senang bisa berbagi. Kalau boleh tahu ibu ingin menjenguk siapa di sini?” Perempuan yang belum ia ketahui namanya itu membantu anaknya untuk membuka bungkus plastik roti cokelat yang ingin dimakan anaknya. Ia tersenyum dengan senangnya melihat anaknya begitu gembira mendapatkan rezeki tak terduga dari orang asing yang baru mereka temui. “Suami ibu habis kecelakaan saat mengendarai mobil ke tempat kerja dan sekarang lagi dirawat di rumah sakit ini.” Kanya menampilkan wajah tidak enak. Ia tak menyangka suami perempuan itu habis mengalami kecelakaan yang menurut ceritanya luka yang dialami suaminya cukup parah hingga menyebabkan patah tulang di bagian tangan kirinya dan juga suaminya itu sudah dirawat selama hampir sebulan di sana. “Semoga suaminya cepat sembuh, ya, Bu. Aku tidak menyangka kalau lukanya cukup parah.” Kanya menyentuh punggung tangan perempuan di depannya dengan lembut berusaha memberikan semangat untuknya. Perempuan di depannya tersenyum dan balas menyentuh punggung tangan Kanya dengan tangannya yang lain. “Semoga saja. Keadaannya beberapa hari ini juga sudah lumayan membaik.” Ia melirik sebentar anaknya yang masih menikmati roti di tangannya tanpa merasa terganggu. “Oh iya, ibu belum tahu nama kamu siapa. Kita sudah berbicara sejak tadi tapi belum tahu nama masing-masing. Nama ibu Sarah.” “Oh, benar.” Kanya tersenyum sedikit malu. Mereka sudah berinteraksi selayaknya orang yang sudah kenal lama namun nyatanya mereka baru saling kenal dan belum tahu nama masing-masing. “Nama aku Kanya. Aku di sini juga ingin menjenguk keluarga yang sakit. Kalau boleh tahu, suami ibu dirawat di lantai berapa?” “Dia dirawat di lantai tiga di kamar 323.” Mendengar itu Kanya berseru senang. Ia tak menyangka kamar Bu Amirah dirawat bersebelahan dengan kamar milik suami perempuan di depannya dirawat. “Keluargaku juga dirawat di lantai yang sama, Bu. Bahkan kamarnya bersebelahan.” “Benarkah? Wah, kebetulan sekali, ya.” “Benar. Cucu Bu Amirah bernama Rara dan dia seumuran dengan Ihsan, mungkin mereka bisa bermain bersama jika ada waktu.” Kanya berjongkok di depan Ihsan yang sudah selesai memakan rotinya hingga habis tak bersisa. Kanya mengambil tisu dari dalam tasnya dan membersihkan wajah anak kecil itu dengan lembut. “Ihsan mau kenalan sama adik kakak?” “Mau.” Ihsan menjawab dengan semangat. Ia memegangi tangan ibunya yang sejak tadi tak berhenti tersenyum. “Ibu, Ihsan mau kenalan sama adiknya kakak. Supaya Ihsan punya teman.” “Iya, Nak. Tapi nanti, ya. Kalau sudah sudah jenguk ayah.” Ihsan mengangguk dengan senang. “Iya.” Kanya dan Bu Sarah tertawa karena tingkah Ihsan yang begitu lucu dan tanpa mereka sadari lift di depan mereka terbuka. Mereka tak sadar bahwa lift ternyata sudah terbuka sejak tadi yang membuat mereka kembali tertawa bersama. Tak menyangka percakapan singkat mereka membuat mereka lupa pada keadaan sekitar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN