Suara berisik dari kamar sebelah membuat Kanya mau tak mau membuka matanya. Rasa kantuk yang masih menderanya akibat bergadang semalam di umah sakit bersama Dimas dan Citra membuat kepalanya sedikit pening. Perlahan ia meraih ponselnya hanya untuk melihat jam setelah sejenak terdiam untuk menghilangkan sakit di kepalanya. Saat melihat jam, ia bisa melihat sisa sepuluh menit lagi jam enam pagi.
Setelah merapikan ranjangnya dan merasa puas dengan hasilnya itu, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya agar merasa lebih segar sebelum keluar dari kamar.
Rasa penasarannya membuatnya menoleh pada kamar Dimas yang berada tepat di sebelah kamarnya yang hanya dibatasi dinding saja. Ia lihat pintu laki-laki tampan itu sedang terbuka sedikit dan ia bisa melihat pemilik kamar sedang sibuk menyiapkan berkasnya ke dalam tas.
Dengan sedikit ragu, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu dengan pelan dan saat Dimas menoleh padanya ia tersenyum.
“Apa aku boleh masuk?”
Dimas balas tersenyum. “Boleh, masuk saja. Maaf berantakan, aku ada pertemuan hari ini dan hampir saja bangun kesiangan.” Ia menutup rapat tasnya setelah ia rasa berkasnya sudah lengkap kemudian beralih memakai jasnya yang ia taruh di pinggir ranjang. “Apa aku membangunkanmu?” tanyanya sambil menatap pantulan wajah Kanya di cermin, ia tengah merapikan penampilannya di depan cermin saat ini. Senyumnya semakin mengembang melihat wajah gadis cantik itu yang terpantul di cermin membuatnya dengan leluasa bisa melihat wajah cantiknya yang segar di pagi hari walau tanpa make up sedikit pun.
Kanya tak menyadari pandangan Dimas padanya, ia malah mendudukkan dirinya di pinggir ranjang sembari memperhatikan sekeliling kamar Dimas yang tampak rapi. Padahal Bu Amirah tidak pernah masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan atas perintah laki-laki tampan itu sendiri, karena tak ingin mengambil resiko berkasnya ada yang hilang seperti waktu dulu saat sebelum Bu Amirah masuk bekerja di dalam rumah itu. Pekerja yang lama tak sengaja membuang berkas penting yang ia lihat di atas meja dan berpikir bahwa itu kertas yang tidak dibutuhkan. Maka dari itu Dimas tak ingin orang lain yang membersihkan kamarnya.
Melihat kamar laki-laki itu yang rapi dan wangi membuat Kanya merasa malu sendiri, kamarnya lumayan berantakan padahal Bu Amirah selalu membersihkannya setiap pagi.
Padahal ia punya lebih banyak waktu luang untuk merapikan kamarnya ketimbang Dimas yang lebih sibuk di kantor. Namun kenyataannya kamar Dimas masih lebih rapi darinya.
Mengingat pertanyaan Dimas ia tersadar dan menggelengkan kepalanya, entah sudah berapa lama ia membuat pertanyaan laki-laki tampan itu menggantung tanpa balasan. “Aku tidak terganggu sama sekali,” jawabnya sambil menatap Dimas. Ia merasa sedikit malu karena ia selalu bangun terlambat, berbeda dengan Dimas yang selalu bangun pagi meskipun ia tidur di atas jam dua belas malam. Ia benar-benar merasa bahwa dirinya sungguh memalukan terlebih lagi dirinya itu perempuan, sudah tak bisa melakukan apa pun dan bahkan tidak ada yang bisa dibanggakan darinya. Andai ia punya sedikit kemampuan Bu Amirah yang bisa memasak.
“Baguslah, karena kupikir kamu mau melanjutkan tidur kembali.”
Mendengar kalimat itu sekonyong-konyong membuat Kanya yang tadinya sibuk dengan pikirannya sendiri menoleh cepat menatap Dimas, laki-laki tampan itu tengah bersandar pada meja di samping ranjang sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, jas dan dasinya sudah terpasang rapi di tubuhnya yang semakin membuat sempurna penampilannya. Matanya melotot dengan rona merah di pipinya. “Tidak mungkin. Ini sudah jam enam pagi.”
Dimas berjalan mendekat sembari mengacak pelan surai lembut milik gadis cantik yang mulai tersipu malu di depannya. “Aku hanya bercanda. Jangan cemberut begitu.”
Kanya menepis tangan Dimas yang masih nakal memainkan rambutnya hingga berantakan, padahal sebelum keluar kamar ia sempat menyisir rambutnya agar terlihat rapi di depan laki-laki tampan itu. Ia tak ingin rambut singanya terlihat di depan laki-laki tampan yang sudah rapi dan wangi itu yang sejak awal sudah membuat dirinya merasa malu pada dirinya sendiri yang masih memiliki wajah bantal dengan piyama yang melekat di tubuhnya. “Aku tidak cemberut dan berhenti mengacak rambutku. Kau membuat rambutku berantakan.”
“Aku tidak membuat rambutmu berantakan, aku hanya menatanya agar lebih rapi dan bagus. Lihat, bagu, ‘kan?” Dimas mengarahkan wajah Kanya menghadap cermin yang tak jauh dari mereka.
Hanya dengan melirik singkat Kanya bisa melihat penampilannya yang berantakan, rambutnya sudah acak-acakan akibat ulah tangan nakal Dimas yang entah sejak kapan suka menggodanya seperti itu. Ia memegangi kedua sisi kepalanya berusaha menyembunyikan rambut berantakannya yang kusut. “Astaga, rambutku sudah seperti singa.” Ia melirik Dimas tajam dan bersiap untuk melakukan pembalasan yang mana membuat Dimas berlari keluar kamar dengan tak lupa membawa tasnya yang berada di atas ranjang di samping Kanya.
“Berhenti berlari. Kau harus merasakannya juga.” Dengan teriakannya yang mampu membangunkan tetangga gedung sebelah, Kanya berlari mengejar langkah Dimas yang sudah tiba di depan pintu. Langkahnya ikut terhenti melihat laki-laki tampan itu yang sibuk dengan sepatunya.
Setelah laki-laki tampan itu selesai memakai sepatunya, ia menoleh pada Kanya sambil memamerkan senyum teduhnya bukan senyum jenaka yang ia tampilkan beberapa saat yang lalu. Tangannya kembali terangkat menyentuh puncak kepala Kanya, tapi berbeda dengan tadi kali ini ia melakukannya dengan sangat lembut sembari mencoba merapikan rambut gadis cantik itu yang berantakan akibat ulahnya. “Maaf, aku hanya bercanda,” ujarnya lembut yang mampu membuat hati kanya luluh dan menghangat.
Kanya tak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya. Sungguh rasanya ia ingin momen ini tak pernah berakhir dan berharap laki-laki di depannya tinggal lebih lama bersamanya, membuat momen kebersamaan yang tidak ada habisnya. Mereka memang tinggal bersama tapi jarang bertemu, tapi setidaknya satu jam saja pertemuan mereka selalu membuatnya menjadi seorang wanita yang begitu bahagia dan setidaknya ia puas dengan itu. Ia meraih tangan Dimas. “Aku juga. Hati-hati di jalan.”
Tangan Dimas di atas kepala Kanya menjauh. Ia masih tersenyum dan tak mengatakan apa pun ia keluar dari Apartemen meninggalkan Kanya yang masih terpaku memandangi punggungnya yang perlahan-lahan menghilang di balik pintu. Tanpa Kanya ketahui laki-laki tampan itu menyentuh d**a kirinya demi menetralkan degup jantungnya yang serasa akan melompat dari posisinya.
Sementara Kanya sendiri masih terdiam berdiri di depan pintu yang sudah tertutup rapat sambil menyentuh bekas sentuhan Dimas di kepalanya dengan senyuman layaknya anak sekolahan yang sedang dimabuk asmara dan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya ia berlari-lari kecil menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya agar terlihat lebih segar dan cantik. Setelahnya ia akan ke rumah sakit untuk menjenguk Bu Amirah di sana, menemani Citra dan Rara yang akan sangat senang dengan kehadirannya di sana.
***