Layar ponselnya sudah menghitam menandakan panggilan terakhirnya bersama Dimas sudah berakhir beberapa detik yang lalu, tapi ia belum juga mengalihkan pandangannya dari benda mati itu seperti menantikan saat layar ponselnya kembali menyala dan menampilkan nama Dimas di sana.
Di saat ia panik dan mencoba terus menghubungi Dimas yang tak kunjung mengangkat teleponnya, matanya tak sengaja menangkap ponsel Bu Amirah yang disimpan di atas meja makan. Ponsel itu sedang bergetar menandakan ada sebuah panggilan yang masuk. Tanpa membuang-buang waktu ia segera menyuruh Rara untuk mengambilnya dan menjawab telepon yang masuk. Dapat ia lihat nama Citra terpampang dengan jelas di sana.
Sesaat setelah ia mendengar suara dari seberang, ia segera mengatakan semuanya. Tentang kondisi Bu Amirah dan bagaimana ia butuh pertolongan saat itu. Beruntung Citra cepat tanggap dan segera menelepon ambulance yang bahkan tidak terpikirkan oleh Kanya sama sekali. Karena kepanikannya mendadak otaknya buntu dan tak mampu berpikir dengan jernih.
Setelah menunggu hampir dua puluh menit, Citra beserta Arya, suaminya tiba bersamaan dengan ambulance yang segera membawa Bu Amirah menuju Rumah Sakit.
Kilas balik itu membuat Kanya merasa lelah sendiri. Helaan napasnya terdengar memecah kesunyian kamar rumah sakit yang ditempatinya saat ini. Bu Amirah masih terbaring lemah di atas kasur, sementara Rara sudah pulang bersama ayahnya setengah jam yang lalu dan kini tinggal dirinya bersama Citra, anak Bu Amirah dan ibu kandung Rara.
“Kamu pasti lelah, kamu bisa pulang dan istirahat di rumah. Ibu biar saya yang jaga. Apalagi ini memang tugasku sebagai seorang anak.” Citra tersenyum menampilkan lesung pipinya yang tidak terlalu dalam, jelas sekali matanya memancarkan kesedihan dan tampak lelah.
Kanya bisa mengetahui betapa Citra begitu menyayangi ibunya hanya dengan tatapan matanya, perempuan berusia tiga puluh tahun itu selalu terlihat tersenyum tapi Kanya tahu ia sedang tidak baik-baik saja. “Aku tidak apa-apa,” ujarnya. “Aku akan tetap di sini menemani Bu Amirah. Terlebih lagi ini termasuk kesalahanku karena tidak peka dengan keadaan Bu Amirah yang membuat dia kelelahan dan jatuh pingsan begini.”
“Ini bukan kesalahanmu, Kanya.” Citra menyentuh punggung tangan Kanya dengan lembut disertai senyuman yang tak pernah meninggalkan wajah cantiknya. “Ibu memang sudah sakit sejak beberapa hari belakangan ini, tapi setiap kali aku melarangnya untuk berangkat kerja dan menyuruhnya untuk mengambil cuti saja, ibu selalu menolaknya dengan alasan ini adalah tanggung jawabnya. Terlebih lagi dia tidak ingin kamu kesepian di rumah itu. Perasaanku memang sudah tidak nyaman saat ia meninggalkan rumah dengan membawa Rara dan beruntungnya lagi aku menelepon di saat yang tepat.”
Kanya tak bisa membendung tangisnya mendengar penjelasan perempuan cantik di hadapannya saat ini. Begitu besarnya kasih saying Ibu Amirah padanya sehingga tetap memikirkannya walau di saat tubuhnya sendiri butuh istirahat. Ia merasa sangat bersalah dan seperti orang jahat yang bisanya cuma membuat orang lain kesusahan. “Maafkan aku, Kak. Kalau bukan karena aku Bu Amirah tidak akan jatuh sakit seperti ini. Padahal ibu sudah renta, tapi masih tetap bersedia mengambil jam lembur hanya demi aku yang baru dia kenali ini. Aku tidak bisa apa-apa dan hanya bisa menjadi beban untuk ibu.”
Citra menggeleng dengan tegas. “Jangan bilang begitu. Ibu tidak pernah menganggap kamu beban, justru ibu sangat senang membuatkan makanan untukmu karena kamu selalu memuji dan menikmati makanan yang ia bikin dengan senang.” Senyumnya melebar mengingat bagaimana ibunya bercerita dengan senyum cerah tentang Kanya. Ditambah lagi Rara yang juga sudah jatuh cinta dengan gadis cantik itu dan menganggapnya seperti kakaknya sendiri.
Perhatian mereka berdua teralihkan saat mendengar sebuah ketukan dari luar. Citra kembali menampakkan senyumnya pada Kanya sebelum beranjak menuju pintu untuk membukanya. Sementara Kanya menghapus air matanya dan menatap pintu dengan rasa penasaran. Saat pintu terbuka, Dimas berdiri di sana sambil menenteng keranjang buah yang tak lupa ia beli saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
Mata Citra sedikit terbelalak melihat sosok Dimas di sana. Ia tak menyangka laki-laki tampan itu akan datang menjenguk ibunya yang sakit di tengah jam kerjanya yang sibuk. “Pak Dimas,” serunya sedikit tak percaya.
Dimas menyerahkan keranjang buah yang dibawanya kepada perempuan di hadapannya. “Ini ada buah sedikit. Aku tidak tahu mau membawa apa saat menjenguk orang sakit.” Matanya melirik Bu Amirah yang masih terlelap. “Bagaimana keadaan ibumu?” tanyanya sambil matanya tak sengaja mengarah pada Kanya.
Pandangan keduanya bertemu dan Citra menyadari hal itu. “Keadaan ibu sudah membaik, dia sedang istirahat sekarang.” Ia menoleh pada Kanya sambil tersenyum penuh arti. “Aku ke Apotek dulu sebentar untuk menebus obat. Jadi sementara aku pergi, tolong jaga ibu, ya.” Kemudian matanya beralih pada Dimas. “Silakan masuk, Pak Dimas. Maaf saya harus keluar dulu sebentar.”
“Tidak apa-apa. Jika kamu butuh sesuatu jangan segan-segan untuk memberitahuku.” Citra hanya tersenyum dan mengangguk sebagai tanggapan kemudian berjalan keluar. Sedangkan Dimas melangkah masuk dan tak lupa menutup pintu setelah tubuh Citra keluar dengan sempurna. Ia segera melangkahkan kakinya mendekati Kanya dan duduk di kursi yang ada di sampingnya. Wajahnya tampak khawatir. “Kamu tidak apa-apa, kan?”
Menggeleng, Kanya menjawab, “Aku tidak apa-apa.”
“Lalu kenapa kau menangis?”
“Aku hanya sedih, gara-gara aku Bu Amirah jadi sakit begini.”
Tangan Dimas terangkat menepuk kepala Kanya dengan lembut dan hati-hati. “Ini bukan salahmu. Jangan khawatir, Bu Amirah pasti akan sembuh.” Ia menatap Bu Amirah yang tampak damai dengan tidurnya. “Bu Amirah sakit apa?”
“Kata dokter, ibu menderita Anemia. Kurangnya waktu istirahat juga berpengaruh sehingga ia jatuh pingsan karena kelelahan. Tapi dokter sudah memberikan obat yang bisa ia konsumsi setelah keluar dari Rumah Sakit. Dokter juga bilang, mungkin besok atau lusa ibu sudah bisa pulang. Tergantung bagaimana kondisinya nanti.”
Helaan napas lega keluar dari bibir Dimas. “Syukurlah. Semoga Bu Amirah bisa keluar secepatnya.” Ia memperhatikan wajah Kanya yang masih tampak cemas, terlihat sekali bahwa gadis cantik itu masih belum bisa berhenti khawatir dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyentuh punggung tangan gadis itu demi membuatnya tenang serta tak lupa memberikan senyum yang bisa membuat gadis itu tenang. “Jangan sedih begitu. Ibu Amirah akan baik-baik saja. Kamu dengar sendiri apa kata dokter, 'kan? Aku juga akan memberikan waktu beberapa minggu untuk ibu Amirah beristirahat di rumah setelah keluar dari Rumah Sakit nanti. Agar dia bisa fokus untuk beristirahat.”
Kanya mengangguk. “Tapi aku boleh menjenguknya di rumahnya, 'kan?”
“Tentu saja. Kamu bebas ke rumah Bu Amirah kapan pun kamu mau.”
Ekspresi wajah Kanya kembali bersemangat. Perasaannya berangsur-angsur tenang mendengar ucapan Dimas. Senyumnya kembali cerah seperti biasanya tanpa ada beban yang mengganggunya.
***
Saat Citra kembali ke kamar di mana ibunya dirawat, ia mendapati Kanya yang sudah tertidur dengan kepalanya di pangkuan Dimas. Setelah dari apotek tadi, ia menyempatkan diri untuk keluar membeli makanan yang bisa mereka nikmati bersama.
Dimas menatapnya sambil tersenyum, ia bisa menangkap tanda tanya yang memancar dari tatapan perempuan di depannya. “Dia tertidur karena capek. Bu Amirah juga tadi sempat bangun dan memakan bubur yang diberikan oleh pihak rumah sakit dengan bantuan Kanya. Dan maaf aku mengganti kamar Ibumu tanpa persetujuanmu terlebih dahulu. Aku hanya ingin Bu Amirah bisa beristirahat di kamarnya sendiri tanpa harus berbagi kamar dengan orang lain.” Ia mengusap tengkuknya merasa bersalah. Takut menyinggung perasaan perempuan di hadapannya.
“Tidak apa-apa, Pak Dimas. Justru saya merasa senang ibu bisa beristirahat di kamar yang lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih juga sudah menyelesaikan administrasinya yang pastinya sangat mahal itu. Maaf, kami jadi merepotkanmu.”
Teringat kembali saat Citra sedang mengantri memesan makanan di sebuah café yang terletak tak jauh dari Rumah Sakit ibunya dirawat, sebuah panggilan dari nomor asing masuk ke ponselnya dan saat ia mengangkatnya ternyata itu adalah Dimas yang mengabarinya jika ia memindahkan ibunya ke kamar VIP dan tak lupa laki-laki tampan itu juga memberitahunya di kamar dan lantai berapa ibunya dirawat agar ia lebih mudah untuk menemukan kamarnya saat kembali nanti.
Tentu saja mendengar kabar itu membuat ia senang bukan kepalang. Setidaknya ia tahu bahwa ibunya bekerja di bawah orang yang tepat yang rela mengunjungi bawahannya bahkan tak lupa memberikan perawatan gratis.
Dimas tersenyum. “Itu bukan masalah yang besar karena ini memang sudah menjadi kewajibanku, terlebih lagi gara-gara aku menambah jam kerja Bu Amirah sehingga membuatnya kelelahan bekerja. Bu Amirah jatuh sakit itu juga adalah tanggung jawabku. Maaf, karena keegoisanku, ibumu jadi menderita.”
Citra menampilkan wajah keberatan dengan ucapan laki-laki di depannya. “Tidak, ibu sama sekali tidak pernah menganggap penambahan jam kerjanya sebagai beban, Pak Dimas. Bahkan dia dengan senang hati menerimanya. Terlebih lagi ia bisa menemani Kanya yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Kehadiran Kanya di rumah itu juga membawa pengaruh baik untuk ibu, ia jadi lebih bersemangat untuk berangkat kerja. Bahkan anakku Rara juga sangat senang bisa menemani Kanya di sana. Karena saya dan ayahnya tidak bisa memberikan kebersamaan itu kepada mereka berdua akibat kesibukan kami dengan pekerjaan di luar kota.”
Ada pancaran kesedihan yang memancar dari sepasang manik milik Citra saat mengucapkan kalimatnya. Ia merasa gagal menjadi anak sekaligus orang tua yang tidak bisa menghabiskan waktu bersama ibu dan anaknya di rumah yang pastinya merasa kesepian. Tapi setidaknya ia merasa bersyukur karena kehadiran Kanya memberi keceriaan pada ibu dan anaknya. Matanya sedikit berkaca-kaca saat memandangi wajah keriput ibunya yang tertidur dengan pulasnya, jarang-jarang ia bisa melihat ibunya seperti itu.
Dimas ikut menatap Bu Amirah dan Kanya bergantian, ia tak pernah berpikir bahwa kehadiran Kanya tak hanya memberikan warna pada hidupnya tapi juga pada orang lain. Kalimat yang diucapkan perempuan di hadapannya itu membuatnya semakin bersyukur bisa mengenali Kanya. Senyum menghiasi wajah tampannya. “Syukurlah kalau memang Bu Amirah beranggapan seperti itu. Tapi tetap saja, Bu Amirah harus mengambil cuti beberapa minggu setelah keluar dari Rumah Sakit. Karena kesehatannya jauh lebih penting. Aku akan menyewa orang lain untuk membantu di rumah sementara Bu Amirah beristirahat.” Matanya kemudian menangkap kantung plastik di tangan Citra, perempuan itu tak sadar sudah tersenyum lama mendengar ucapan Dimas.
“Oh ini.” Citra mengangkat plastik berisi makanan yang ia bawa dengan sedikit malu-malu. “Aku membeli makanan untuk dimakan bersama karena aku yakin Kanya masih belum makan apa-apa sejak tadi siang.” Ia melirik jam yang menempel di dinding kamar rumah sakit. Jarum pendek jam sedang menunjuk angka enam ditambah lagi cahaya senja berwarna jingga yang dapat ia lihat dengan jelas di luar jendela.
“Iya, benar. Tapi seharusnya kamu tidak perlu repot-repot begini. Seandainya saja aku tahu, aku bisa memesankan makanan untuk kalian.”
“Tidak apa-apa. Ini sudah kewajibanku untuk menjamu tamu yang datang menjenguk ibuku.” Citra menampilkan senyum keibuannya yang bisa membuat orang lain merasa nyaman. Padahal usianya sama dengan Dimas, tapi Dimas bisa merasakan sosok ibu yang kuat dari perempuan itu yang mungkin salah satu penyebabnya adalah karena ia sudah menikah dan memiliki seorang anak.
Citra berjalan menuju meja dan menaruh barang bawaannya di sana kemudian mengeluarkan beberapa kotak makanan dan beberapa botol air mineral untuk ia susun di atas meja. Sementara Dimas mulai sibuk dengan ponselnya setelah mendapat pesan dari Evan yang menanyakan kabar Bu Amirah. Karena pergerakannya untuk mengambil ponselnya yang ia simpan di atas meja membuat gadis cantik yang terlelap di pangkuannya merasa terusik dan seketika terbangun.
“Ah, maaf. Apa aku membangunkanmu?” Dimas bertanya dengan nada menyesal. Ia tak bermaksud untuk mengganggu tidur gadis cantik itu karena ia tahu Kanya pasti merasa lelah. Meksipun dirinya sendiri juga merasa lelah saat ini.
Kanya langsung mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Kesadarannya belum terkumpul sempurna saat retinanya menangkap sosok Citra yang masih menyusun makanan di atas meja. “Kak Citra sudah datang?” tanyanya sembari memegangi pelipisnya akibat rasa pusing yang ia rasakan karena mengubah posisi dengan tiba-tiba.
“Iya, kebetulan sekali kamu sudah bangun.” Citra mendudukan tubuhnya di salah satu kursi yang berada di sisi kanan Kanya. “Aku habis membeli makanan di luar. Aku tahu kamu pasti lapar karena belum makan sejak tadi siang.”
Kanya memeluk perutnya yang tiba-tiba berbunyi hanya karena mendengar kata makanan dari Citra, semburat merah muncul di kedua pipinya saat mengetahui laki-laki tampan di sampingnya mendengar suara perutnya yang mampu memecah kesunyian. Sayup-sayup ia bisa mendengar tawa tertahan Dimas dan Citra yang mana membuatnya semakin tenggelam dalam rasa malu yang dalam. Dalam hati ia berharap agar bisa menghilang dari sana saat itu juga.
***