Dimas menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran kursi kerja miliknya setelah kembali dari pertemuan yang sangat menguras tenaganya itu. Sambil memejamkan matanya ia bisa mendengar sama-samar suara langkah kaki milik Evan yang berjalan menuju mejanya sendiri, ia yakin sahabat sekaligus atasannya itu juga pasti ingin beristirahat seperti dirinya. Mereka berdua sama-sama lelahnya akibat pertemuan bersama dewan direksi tadi yang biasanya hanya berlangsung selama satu jam tapi hari ini malah berakhir dua jam kemudian. Terlebih lagi ada sebuah masalah yang mengharuskan mereka untuk bekerja keras untuk menyelesaikannya dengan baik.
Teringat tentang ponselnya, ia segera membuka matanya dan mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas meja kerjanya. Saat layarnya menyala ia bisa melihat banyaknya panggilan masuk dari Kanya. Keningnya berkerut menandakan kebingungan melihat jumlah panggilan tak terjawab yang ia terima dari gadis cantik yang jarang sekali melakukan hal seperti itu. Terlebih lagi mereka baru saja melakukan panggilan bersama dua jam yang lalu.
Terdapat total ada tiga puluh panggilan tak terjawab yang membuat Dimas menjadi tidak tenang dan dengan segera menekan tombol memanggil untuk menanyakan perihal keadaan gadis cantik itu yang mungkin saja sedang dalam keadaan bahaya saat ini. Terlebih mengingat pesan dan telepon teror yang Kanya terima beberapa hari belakangan ini tentu saja membuat hidup gadis itu dalam bahaya. Sambil menunggu panggilannya diangkat, Dimas tak henti-hentinya berdoa dalam hatinya agar Kanya segera mengangkat teleponnya agar ia bisa mengetahui keadaan gadis itu bahwa ia baik-baik saja.
Melihat wajah panik Dimas membuat Evan tak tinggal diam. Ia yang awalnya ingin bersantai sambil menikmati sebuah permainan di dalam ponselnya mengurungkan niatnya dan segera menghampiri Dimas yang saat ini tak bisa diam dan tengah berjalan bolak-balik sambil sesekali menggumamkan sesuatu yang Evan tak bisa menangkapnya.
“Ada apa, Dim?” tanyanya sembari tangan kanannya menepuk lembut pundak Dimas yang terlihat kembali ingin menghubungi siapa pun yang sejak tadi ia hubungi itu. Matanya sejenak menatap ponsel Dimas sebelum kembali menatap wajah sahabatnya.
Dimas yang awalnya ingin menempelkan ponselnya ke telinga kanannya kembali itu mengurungkan niatnya, perhatiannya beralih pada Evan yang ikut menatapnya khawatir. “Ini, Van.” Ia mengangkat ponselnya. “Kanya sejak tadi meneleponku, mungkin saat kita masih di tengah pertemuan tadi. Tapi saat aku menghubunginya kembali, dia tidak mengangkat teleponnya. Aku khawatir, Van. Aku takut terjadi sesuatu padanya.”
Dimas menyugar rambutnya frustasi sambil tetap menghubungi Kanya yang tak kunjung mengangkat teleponnya. Berkali-kali ia mengulangi hal yang sama tapi tak membuahkan hasil seperti yang ia harapkan. Ia m******t bibir bawahnya yang kering dan kembali menempelkan ponselnya di telinga kanannya dan kembali menemukan hasil yang sama. “Mungkin sebaiknya aku pulang ke rumah sekarang,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Matanya kemudian beralih pada Evan yang ternyata sejak tadi tidak mengalihkan pandangan darinya. Ia berbicara dengan suara tercekat yang nyaris tak terdengar oleh sahabatnya itu. “Aku izin pulang sebentar untuk melihat Kanya, Van. Aku tidak bisa tenang jika seperti ini.” Entah kenapa rasanya ia begitu lemah saat ini apalagi jika hal itu menyangkut keselamatan Kanya. Padahal ia sudah berjanji untuk melindungi gadis itu, jadi jika sesuatu terjadi padanya maka ia tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia takut pikiran-pikiran buruk yang bermunculan di kepalanya saat ini benar-benar terjadi pada Kanya, gadis cantik yang sudah menghuni pikirannya beberapa bulan terakhir ini.
Mengangguk, Evan menjawab, “Baiklah, tapi aku ikut denganmu. Tunggu sebentar, aku akan mengabari Pak Herman dulu. Untuk jaga-jaga jika ada kepentingan di kantor di saat kita tidak ada.”
Hanya anggukan tanda mengerti yang diberikan Dimas untuk sahabatnya itu. Matanya mengikuti langkah Evan menuju meja kerjanya dan meraih telepon, sedangkan ia kembali mencoba menghubungi Kanya yang masih belum mengangkat teleponnya.
***
Sesampainya di apartemennya, Dimas segera memasukkan pin dan membuka pintu dengan tergesa-gesa. Saat ia melangkahkan kakinya memasuki apartemen, hanya kekosongan yang menyambutnya. Langkah kakinya segera membawanya menuju kamar Kanya dan membuka pintunya, tapi ia tak menemukan gadis cantik itu di sana.
Tak tinggal diam, Evan juga ikut mencari di dalam dapur tapi tidak ada siapa pun di sana. Ia hanya mendapati masakan yang sudah gosong dan sebuah spatula yang tergeletak begitu saja di lantai. Saat mencoba menyentuh wajan yang masih berada di atas kompor, ia bisa merasakan wajan itu masih terasa hangat yang mana membuat ia yakin jika Kanya atau siapa pun itu belum lama meninggalkan rumah. Tak lupa ia menemukan sehelai rambut di lantai marmer yang putih dan menduga-duga siapa pemiliknya.
Saat ia keluar dari dapur, ia berpapasan dengan Dimas yang baru kembali dari balkon. “Bagaimana? Kau menemukannya?”
Dimas menggeleng lemah. “Kanya tidak ada di kamarnya ataupun di balkon. Tidak ada siapa pun di rumah ini. Bagaimana dengan di dapur?”
Giliran Evan yang menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya mendapati makanan yang gosong di atas wajan.” Matanya melirik kamar Dimas yang berada tepat di samping kamar Kanya. “Bagaimana dengan kamarmu? Apa kau sudah mencarinya di sana?”
“Tidak ada juga. Aku bahkan sudah mencarinya di dalam kamar mandi tapi tidak ada siapa pun.”
Evan berpikir sejenak, mungkin makanan gosong yang ia temui di dapur bisa berhubungan dengan menghilangnya Kanya. “Wajan di dapur masih hangat jadi kupikir Kanya belum lama meninggalkan rumah.” Matanya kemudian tak sengaja menemukan tas anak kecil dan cemilan yang sudah mendingin di atas meja ruang tamu. “Coba kau hubungi Kanya kembali, Dim. Mungkin saja kali ini dia akan mengangkatnya.”
Dimas tak mengatakan apa pun, hanya tangannya yang bergerak meraih ponselnya dari saku jasnya dan segera menghubungi Kanya kembali. Sementara Evan menatapnya sambil berharap Kanya akan mengangkat teleponnya kali ini. Ia jadi panik sendiri membayangkan laki-laki mencurigakan yang ia lihat di depan apartemen Dimas pagi tadi kembali untuk mengganggu gadis cantik itu dan kali ini berhasil membobol pertahanan pintu yang kuat. Ia berpikir, mungkin sebaiknya ia memberitahu Dimas masalah yang dialami Kanya tadi pagi demi keselamatan gadis itu juga agar Dimas tahu bahwa Kanya telah diganggu oleh orang asing agar ia bisa menyewa orang untuk menjaga gadis itu, tapi tentu saja setelah masalah ini selesai dan Kanya ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.
“Dim.” Dimas berbalik menatapnya, pancaran matanya begitu khawatir dan seperti akan kehilangan akalnya saat ini sementara ponsel masih menempel di telinga kanannya. “Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Ini tentang Kany-”
Dimas mengangkat telunjuknya sebagai isyarat agar Evan tak melanjutkan kalimatnya saat panggilan tersambung. “Halo, Kanya.”
Mendengar suara Dimas yang begitu lega saat panggilannya disambut oleh Kanya membuat Evan ikut memusatkan perhatiannya pada Dimas. Berusaha mendengar pembicaraan kedua orang itu melalui telepon meskipun sulit untuk ia lakukan.
“Kamu ada di mana sekarang? Tadi kamu meneleponku tapi saat aku menghubungimu kembali kamu tidak menjawabnya dan juga kamu tidak ada di rumah.” Dimas tak memberi kesempatan bagi Kanya untuk menjawab terlebih dahulu dan mencercanya dengan pertanyaan panjang. Ia hanya takut terjadi hal yang buruk pada gadis cantik itu dan saat panggilannya tersambung ia jadi tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
"Dimas, Bu Amirah … dia sakit. Tadi dia tiba-tiba pingsan dan aku tidak tahu harus melakukan apa jadi aku menghubungimu. Aku terus menghubungimu tapi kamu tidak mengangkatnya, meskipun aku tahu kamu sedang ada pertemuan saat itu, tapi aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Aku benar-benar bingung, Dimas, sementara tidak ada yang bisa aku hubungi selain kamu."
Dimas menghela napas lega, tapi kembali rasa khawatir menghampirinya saat tahu Bu Amirah sedang sakit. Terlebih lagi mendengar suara serak Kanya membuatnya kembali tak tenang. Ia tahu gadis itu habis menangis sehingga membuat suaranya seperti itu. “Kanya, kamu tenang, ya. Semua akan baik-baik saja. Sekarang ada aku. Jadi katakan padaku kamu ada di mana sekarang dan bagaimana keadaan Bu Amirah?”
Evan semakin penasaran dengan pembicaraan sahabatnya itu dengan Kanya terlebih saat mendengar nama Bu Amirah yang sudah bekerja bertahun-tahun sebagai asisten rumah tangga di apartemen ini disebut oleh sahabatnya itu. Namun begitu ia cukup lega mengetahui Kanya menjawab panggilan Dimas dan dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian ia kembali mengingat masakan yang gosong di dapur, mungkin saja apa yang terjadi dengan Bu Amirah berhubungan dengan kejadian itu. Kembali ia menatap Dimas yang mendengarkan penjelasan Kanya di telepon, semakin penasaran dengan pembicaraan keduanya.
“Apa yang Kanya katakan? Dan di mana dia sekarang?” tanyanya pada Dimas saat laki-laki tampan itu memutuskan sambungan telepon.
“Kanya sedang di rumah sakit sekarang. Tadi saat memasak Bu Amirah tiba-tiba pingsan, tapi sekarang katanya keadaannya sudah membaik.” Dimas memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya kembali dan menatap Evan. “Aku akan ke rumah sakit sekarang. Apa kau akan ikut?”
“Aku cukup lega mendengar Kanya baik-baik saja dan aku turut prihatin dengan keadaan Bu Amirah. Tapi sebaiknya aku kembali ke kantor sekarang, Dim. Aku tidak mungkin meninggalkan kantor lebih lama dengan hanya Pak Harun di sana.”
“Tidak apa-apa. Aku akan pergi sendiri. Oh iya, tadi kau mau bilang apa?”
Alis Evan bertaut mendengar pertanyaan Dimas. Ia benar-benar bingung, tapi sedetik kemudian ia dapat mengingat kembali kalimatnya yang sempat terputus saat ingin memberitahu Dimas soal laki-laki mencurigakan yang meneror Kanya. Ia menggeleng dengan senyuman. “Tidak ada apa-apa. Aku juga sudah lupa tadi mau mengatakan apa. Ya sudah, aku kembali ke kantor sekarang. Kamu juga segeralah ke Rumah Sakit. Kanya pasti sudah menunggumu di sana.” Ia menepuk lengan Dimas sebelum berjalan ke luar apartemen.
Sebenarnya ingin sekali ia mengikuti sahabatnya itu menemui Kanya di Rumah Sakit, tapi sebagai seorang pemimpin tentu ia tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. Terlebih ia bukanlah siapa-siapa Kanya dan juga tak begitu kenal dengan gadis cantik itu. Sebelum melewati pintu ia mendengar Dimas berteriak di belakangnya untuk menyuruhnya berhati-hati. Ia hanya melambaikan tangannya sebagai tanggapan. Senyum mengembang di bibirnya, tapi pikirannya kembali pada kejadian di apartemen itu.
Sebenarnya ingin sekali ia menceritakan kejadian tadi pagi kepada sahabatnya itu, tapi melihat wajah bahagia Dimas mengurungkan niatnya. Ia hanya tak ingin sahabatnya itu kembali panik setelah mendengar ceritanya. Ia tahu bahwa Dimas harus tahu masalah ini, tapi kembali ia berpikir bisa saja Kanya juga ingin merahasiakannya dari sahabatnya itu. Ia hanya berharap, Kanya tetap baik-baik saja dan ia bisa melindungi gadis itu dari bahaya yang mengancamnya.
Ia merogoh saku jasnya dan meraih ponselnya, ditempelkannya benda persegi panjang itu di telinga kanannya sembari menunggu panggilannya terhubung.
"Halo, Tuan Evan," jawab orang di seberang telepon.
“Halo, aku ingin kamu mengawasi seseorang.”
***