Bu Amirah Sakit

1153 Kata
Sambil menatap ponsel di tangannya, Kanya mengutuk dirinya sendiri. Merutuki betapa bodohnya dirinya. Entah mendapat keberanian dari mana dirinya sehingga berani menghubungi Dimas lebih dahulu, padahal biasanya ia hanya akan menunggu laki-laki tampan itu untuk menghubunginya terlebih dahulu, baik itu melaui pesan atau telepon. Dengan niat untuk mencoba ponsel barunya dan mengabarinya pada Dimas membuat otaknya tak berpikir jernih saat melihat nama Dimas di layar, ia bahkan tak sadar saat jempolnya menekan tombol memanggil dan segera terhubung pada telepon laki-laki tampan itu dan ia jelas tak punya pilihan lain selain berbicara dengan Dimas yang bahkan ia sendiri tidak tahu harus membahas apa. Ia juga tidak mungkin membahas tentang masalah yang baru saja ia hadapi karena tidak ingin membebani laki-laki itu. Meskipun ia tahu cepat atau lambat Dimas akan tahu ditambah lagi tadi Evan sempat berkunjung dan melihatnya dengan penampilan yang berantakan. Ia hanya bisa berharap bahwa Evan tidak tahu apa-apa soal kejadian yang membuatnya ketakutan hingga menangis sesenggukan layaknya anak kecil itu dan menceritakan semuanya pada Dimas. Tadi, sekitar satu jam setelah Evan meninggalkan apartemen Dimas, Bu Amirah tiba dengan Rara. Terlihat sekali bahwa perempuan paruh baya itu tampak bahagia sehabis menjemput anak dan menantunya dari bandara. Bu Amirah yang menyadari mata sembabnya tentu tak bisa tenang dan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang tentu saja Kanya tak bisa menjawabnya secara gamblang. Ia hanya beralasan bahwa matanya tak sengaja kemasukan debu saat menyirami bunga-bunga miliknya di balkon, debunya begitu banyak sehingga ia tak bisa menahannya dan menangis seperti anak kecil. Kanya tahu bahwa Bu Amirah tidak akan menelan mentah-mentah alasan yang ia berikan, terbukti dari tatapan perempuan paruh baya itu yang masih saja memberikan tatapan khawatir padanya terlepas dari sikapnya yang seolah-olah bisa menerima alasan Kanya dengan berpura-pura merasa lega. Rara yang datang bersama Bu Amirah juga tak mau ketinggalan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar lucu dengan cara bicaranya yang khas. Suara piring yang beradu dengan meja kaca di depannya membawa Kanya kembali pada kenyataan. Ia benar-benar larut dengan pikirannya sehingga tak menyadari kehadiran Rara di sampingnya. Dilihatnya Rara yang mendorong piring berisi beberapa cemilan padanya. Mencium aromanya saja sudah membuat cacing di perut Kanya memberontak meminta makan dengan segera. “Kakak, makan. Kata nenek, kakak harus makan banyak supaya matanya cepat sembuh.” Kanya tak bisa mengentikan senyumnya mendengar kalimat Rara, cara bicaranya yang khas karena tak bisa menyebutkan huruf R dengan benar sangat menggemaskan baginya. Ditambah lagi gadis kecil itu tampak manis sekali hari ini, dengan gaun berwarna putih yang dikenakannya dan tak lupa sebuah bandana berwarna ungu pudar yang menghiasi rambut hitam legamnya yang panjangnya melewati bahunya. Kanya meletakkan ponselnya di atas meja di samping piring yang dibawakan Rara untuknya, kemudian menarik Rara untuk duduk di sofa bersamanya. “Kita makan sama-sama, ya. Supaya Rara juga bisa cepat tumbuh besar dan tinggi seperti kakak.” Mata Kanya mengarah pada pintu dapur. “Di mana nenek?” Rara mengikuti pandangannya dan mengangkat bahunya singkat. Kembali ia pusatkan perhatiannya pada Kanya. “Rara juga tidak tahu.” “Lho, bukannya tadi Rara sama nenek?” “Iya, tadi Rara sama nenek di dapur, tapi sekarang tidak ada.” Kekehan pelan meluncur dari bibir tipis Kanya, merasa lucu dengan jawaban polos Rara yang sangat menggemaskan baginya. Tangannya terulur mengusap surai lembut gadis kecil itu dengan sentuhan lembut dan mata teduhnya. “Kalau begitu berarti nenek ada di dapur. Ayo, kita panggil nenek untuk makan kue bersama-sama.” Ia beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan kecil Rara. Tak menjawab, Rara hanya menganggukkan kepalanya singkat. Ia menggenggam erat tangan Kanya yang menuntunnya untuk jalan bersama menuju dapur di mana neneknya berada. “Ibu, kalau masaknya sudah selesai ayo kita makan bersama.” Kanya menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba saat retinanya menangkap sosok Bu Amirah yang terbaring di lantai dapur yang dingin, senyumnya luntur seketika. “Ibu!” Genggamannya pada Rara terlepas dan segera berlari mendekati perempuan paruh baya yang sudah tak sadarkan diri itu. “Astaga, Ibu kenapa? Ibu, ibu sadarlah. Apa yang terjadi?” Kanya mengangkat kepala Bu Amirah ke pangkuannya, sementara dirinya terus menerus memanggil nama perempuan paruh baya itu seolah-olah ia akan sadar jika dipanggil seperti itu. Indra penciumannya menangkap bau masakan yang hangus dan segara mematikan kompor yang ternyata masih menyala dengan api kecil. Beruntung ia dan Rara masuk ke dalam dapur sebelum terjadi hal yang lebih berbahaya lagi. Tidak salah tadi ia sempat mencium bau masakan yang hangus dari dapur. Rara mendekat dengan lelehan air mata di pipinya. Melihat neneknya yang terbaring tak sadarkan diri serta sikap panik Kanya membuat dirinya takut jika terjadi sesuatu pada neneknya itu. “Kakak, nenek kenapa? Apa nenek sakit?” tanyanya diselingi isakan pelan. Kanya menyembunyikan kepanikannya dengan memberikan senyuman menenangkan, meskipun sebenarnya ia sendiri sudah sangat ingin menangis saat ini. “Nenek tidak apa-apa, Sayang. Nenek hanya capek saja. Jadi Rara jangan khawatir, ya.” Melihat gadis kecil di depannya sudah mulai menghentikan tangisnya, Kanya melirik pintu sebentar kemudian kembali menatap gadis kecil di depannya. “Rara, kakak boleh minta tolong?” Melihat Rara mengangguk, Kanya melanjutkan ucapannya. “Tolong ambilkan ponsel kakak di atas meja, ya. Kakak mau menelepon kakak Dimas.” “Iya, Kak, Rara ambilkan sekarang. Tapi, nenek benar tidak apa-apa, 'kan?” Kanya mengangguk dengan senyuman meyakinkan, setelahnya Rara berlari keluar dapur dengan kaki kecilnya. Sementara menunggu Rara kembali sambil membawa ponselnya, Kanya kembali berusaha membuat Bu Amirah sadar dengan menepuk pelan pipinya. “Ibu, sadarlah. Jangan buat kami panik begini. Kenapa ibu tiba-tiba pingsan padahal tadi ibu baik-baik saja?” serunya frustasi pada dirinya sendiri. Sesungguhnya ia tidak berpengalaman dengan kejadian seperti ini, jadi ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa yang ada di dalam pikirannya saat ini yaitu menghubungi Dimas dan meminta tolong pada laki-laki tampan itu. Kembali ia mengingat wajah lelah Bu Amirah saat baru tiba tadi, perempuan paruh baya itu memang sudah terlihat lemah tapi ia tak begitu memperhatikannya tadi karena begitu sibuk mencari alasan kedua matanya membengkak sehabis menangis. “Kakak, ini ponselnya.” Rara muncul sambil menyodorkan benda persegi hitam padanya. Ia menerimanya sambil menggumamkan kata terima kasih dan mulai membuka panggilan terakhirnya. Segera ia menghubungi Dimas dengan perasaan tak menentu, panggilan terhubung tapi tak ada yang mengangkatnya membuat perasaan Kanya semakin tidak karuan. Setelah panggilan terputus ia kembali menekan tombol memanggil dan berharap Dimas mengangkatnya. Namun lagi-lagi tidak ada jawaban, sama seperti panggilan-panggilannya sebelumnya. Ia beralih ingin menghubungi Evan tapi ia baru sadar jika yang ada di dalam daftar kontaknya hanya ada nomor Dimas. Lagipula ia yakin kedua laki-laki itu pasti sedang menghadiri pertemuan sekarang dan tentu saja ponsel mereka berada dalam mode silent agar tidak mengganggu proses rapat yang penting itu. Ia menggigit bibir bawahnya frustasi, tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Namun melihat wajah khawatir Rara membuat ia mau tidak mau harus berusaha bersikap tenang kembali. Ia tersenyum, mengusap pipi Rara yang masih basah oleh air mata. “Rara jangan khawatir, nenek akan baik-baik saja. Percaya sama kakak, ya.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN