Ponsel Baru

2217 Kata
Dimas sedang memeriksa laporannya dengan kedua mata yang terpaku pada layar komputernya saat Evan berjalan melewati mejanya. Perhatiannya yang semula tertuju pada laporan yang sudah hampir selesai diringkasnya untuk Evan itu beralih pada laki-laki tampan yang duduk dengan pandangan menerawang ke depan. Dimas tahu, meskipun menatap lurus ke depan, atasannya itu tidak sedang memperhatikan pemandangan yang disuguhkan di balik dinding kaca yang memenuhi ruangan mereka. Tanpa perlu diberitahu pun Dimas sudah bisa menebak bahwa Evan sedang berpikir keras saat ini dan itu tentu saja tidak berhubungan dengan masalah perusahaan. Karena Evan bukanlah tipe orang yang mau pusing dengan masalah kantor yang bisa ia limpahkan dengan mudah kepadanya yang baginya sendiri sangat menyebalkan tapi memang begitulah tugasnya. Ketikan terakhirnya di layar komputer selesai dan tak lupa ia menyimpannya dengan hati-hati agar tidak menghilangkan file penting yang akan ia kumpul secepatnya. Setelahnya ia mencetak file tersebut, suara mesin cetak di depannya mengisi ruangan sunyi yang hanya dihuni oleh mereka berdua. Sementara Dimas menatap mesin cetak di atas mejanya bergantian dengan Evan, laki-laki yang diperhatikannya itu justru melamun sambil memandangi sebuah kertas kecil di tangannya. Sebuah kerutan samar muncul di kening Dimas yang tak mengerti dengan sikap atasan sekaligus sahabat sejak kecilnya itu yang tak biasanya. Sikapnya sangat berbeda jauh saat ia berangkat ke apartemennya satu jam yang lalu. Kemudian pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan di kepalanya, tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjadi penyebab laki-laki tampan itu bersikap seolah-olah bukan dirinya. Lembaran berkas terakhir keluar dari mesin cetak, Dimas segera menyusunnya sesuai urutan dengan rapi kemudian memasukkannya di dalam map berwarna merah dan beranjak dari duduknya. Dihampirinya meja Evan yang masih belum sadar akan kehadiran dirinya. Tangan kanannya terangkat dan mengetuk dengan pelan permukaan meja guna menyadarkan laki-laki tampan di hadapannya dari lamunannya. Evan tersentak dengan kertas putih di tangannya yang meluncur bebas menghantam lantai yang dingin. Ia mengambilnya dengan terburu-buru sambil menyembunyikannya di balik punggungnya, tak memperdulikan kerutan yang semakin terlihat di kening Dimas. “Ada apa?” Tangannya terulur menerima map merah di depannya, membukanya dan membacanya dengan seksama. “Itu laporan untuk bulan ini.” Dimas kembali menyerahkan map berwarna merah lainnya yang ia bawa. “Ini jadwal pertemuan yang akan kamu hadiri besok di Hotel JC. Semua kebutuhan sudah saya persiapkan dan kita akan berangkat besok pagi jam delapan. Sementara untuk hari ini ada rapat bersama dengan Dewan Direksi pukul satu siang nanti.” Evan mengangguk. “Seperti biasanya pekerjaanmu selalu diselesaikan dengan baik. Kamu memang paling bisa diandalkan, Dim.” Sekonyong-konyong kedua mata Dimas memutar tanda tak setuju. Ia duduk di kursi yang memang tersedia di depan meja Evan dan memandangi lekat wajah sahabatnya itu. “Kenapa? Ada sesuatu di wajahku?” Evan bertanya sambil memegangi wajahnya. “Ada masalah apa?” Tanpa menanggapi pertanyaan Evan, Dimas lebih memilih melontarkan pertanyaan. Diperhatikannya raut wajah laki-laki tampan di hadapannya yang berangsur-angsur berubah akibat ulahnya. “Masalah apa yang kau maksud? Kalau kau bertanya soal laporan ini, tidak ada masalah apa pun. Hanya ada sedikit kesalahan ejaan pada bagian ini.” Telunjuk Evan mengarah pada sebuah tulisan di atas kertas yang diserahkan dimas tadi, Dimas mengikuti arahannya dan memang ada kesalahan pengetikan di akhir laporan yang ia buat. Mungkin gara-gara perhatiannya yang terpecah antara fokus dengan pekerjaan di depannya atau memperhatikan Evan yang tidak seperti biasanya. Dimas mengambil kembali laporan yang telah ia serahkan tadi itu. “Aku akan memperbaikinya dengan segera.” Kemudian matanya kembali pada Evan yang serius membaca setiap deretan kalimat yang tertulis di atas kertas putih yang tengah dibacanya, tentang jadwalnya beberapa hari ke depan. “Saat di rumah tadi, apa kau bertemu dengan Kanya?” Evan menutup map di depannya dan menaruhnya di atas tumpukan map lainnya yang terdapat di atas mejanya. “Tentu saja aku bertemu dengannya. Dia juga yang membukakan pintu untukku.” Evan merogoh saku jasnya saat mendengar dering singkat dan mengeluarkan ponselnya, berpura-pura fokus pada benda mati itu demi menghindari tatapan menelisik Dimas di depannya. “Apa dia baik-baik saja?” Kembali Dimas memberikan pertanyaan. Kini giliran Evan yang menautkan alisnya bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu, bahkan ia bisa menangkap kekhawatiran dari nada bicaranya. “Memangnya ada alasan yang membuat dia tidak baik-baik saja?” tanyanya sambil kembali mengingat kejadian yang dialami gadis itu saat ia menemuinya, tapi tentu saja ia tak ingin mengatakannya pada Dimas yang akan membuat laki-laki itu khawatir dan jadi tidak fokus dengan pekerjaannya. Tangan kanan Dimas terangkat mengusap kasar wajahnya. Setelah menghela napas sejenak ia memandangi Evan yang mulai memberikan tatapan menuntut penjelasan padanya. Kini ia merasa sebagai tersangka yang sedang diinterogasi polisi. “Lupakan. Bagaimana dengan ponselnya? Apa kau sudah memberikannya pada Kanya?” “Sudah.” Evan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil memejamkan matanya sejenak. “Dia terlihat sangat menyukainya.” Sebenarnya ia berbohong pada kalimat terakhirnya karena tidak ingin menceritakan kejadian buruk yang dialami gadis cantik itu saat ia menemuinya yang bahkan untuk bereaksi terhadap hadiah yang diberikan Dimas pun sulit untuk gadis itu lakukan. Cuma yang membuatnya tak habis pikir adalah alasan di balik rusaknya ponsel lama Kanya yang bahkan belum setengah tahun ia gunakan. Masih sangat baru dan bagus untuk rusak secara tiba-tiba seperti itu. “Syukurlah kalau memang dia menyukainya.” Evan sedikit mengintip dari balik kelopak matanya yang tertutup untuk melihat wajah Dimas. Samar-samar ia bisa melihat senyum tipis dan ekspresi lega yang nampak di wajah tampan sahabatnya itu. Terkadang ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri ada hubungan apa kedua orang itu dan sepenting apa Kanya untuk Dimas yang bisa membuat sahabat dekatnya itu terkadang tidak fokus dan selalu melirik jam seolah-olah sangat menantikan jam pulang. Berbeda dengan dirinya yang dulu yang bahkan tak memikirkan untuk pulang dan menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor, sehingga harus dipaksa olehnya untuk pulang karena ia juga butuh istirahat, ia tak mungkin meninggalkan sahabatnya itu menyiksa dirinya dengan terus-terusan kerja lembur demi pekerjaan yang deadline-nya bahkan masih sangat lama. Apa kau menyukai kanya? Pertanyaan itu hanya sampai di tenggorokkannya karena ia akui ia tak berani untuk menanyakannya langsung pada Dimas. Rasa penasarannya yang tinggi terkalahkan oleh perasaan ingin menghormati privasi sahabatnya yang tentu saja tidak boleh ia ganggu. Ia akui, Kanya memang gadis yang cantik. Saat pertama kali mereka bertemu di malam di mana Kanya dikejar oleh beberapa pria berjas, ia tak bisa melihat jelas wajah gadis itu selain karena gelapnya malam juga karena penampilannya yang berantakan. Namun setelah pertemuan mereka di apartemen Dimas malam itu, ia dapat dengan jelas melihat wajah cantik Kanya, wajah ayu khas pribumi dengan hidung mungil dan mata yang besar. Sejenak ia memang terpana, tapi ia sadar Dimas sudah menaruh hati pada gadis cantik itu begitu pun sebaliknya. Ia tak menduga, keputusan singkat yang ia ambil untuk membiarkan Dimas mengurusi Kanya membuat laki-laki tampan itu bisa berubah dengan drastis. Bukan perubahan negatif atau bahkan buruk yang membuatnya tidak nyaman, tapi justru Evan merasa senang dengan perubahan hidup Dimas yang awalnya hitam putih menjadi lebih berwarna. Hanya saja terkadang ia kesal jika Dimas melakukan kesalahan kecil yang dulu sangat jarang ia lakukan, seperti yang ia lakukan hari ini tentang kesalahan dalam pengetikan yang bukan masalah kecil yang bisa disepelekan. “Van, Evan!” Dimas menjentikkan jarinya di depan wajah Evan yang entah sejak kapan larut dalam lamunannya. Evan tersentak, ia memfokuskan perhatiannya pada dimas yang menatap heran dirinya. “Ada apa?” “Seharusnya itu pertanyaanku. Ada apa denganmu? Akhir-akhir ini kulihat kau jadi lebih sering melamun.” “Bukan apa-apa.” Evan mengusap tengkuknya merasa canggung tertangkap basah melamun, apalagi lamunannya menyangkut tentang sahabatnya itu dan bahkan ia sendiri tidak sadar memandangi Dimas terus-menerus selama kegiatan tidak bermanfaatnya itu. Sebuah dering ponsel mengusik mereka berdua. Dimas menoleh pada mejanya sebelum beranjak dari duduknya. Tangannya meraih ponsel pintarnya di atas meja dan menatap layar ponselnya sebentar, sebuah panggilan dengan nama Kanya sebagai pemanggilnya. Dimas sedikit melirik Evan melalui ekor matanya, ia bisa melihat laki-laki tampan itu sedang tersenyum menggodanya seolah-olah tahu siapa orang yang sedang meneleponnya. Dimas mengabaikan sahabatnya itu dan menggeser tombol hijau ke samping. Ponsel kemudian beralih ke telinga kanannya dan dapat ia dengar suara halus dan lembut milik kanya menyambutnya di sana. "Halo, Dimas." “Iya, ada apa?” Nada suara Dimas mungkin terdengar datar dan tenang di telinga orang-orang, tapi sebenarnya laki-laki tampan itu sedang berusaha mengatur degup jantungnya yang memompa lebih cepat. Entah sejak kapan ia mulai bereaksi seperti ini jika itu menyangkut tentang Kanya dan dapat ia dengar suara deheman yang dibuat-buat dari arah belakangnya, ia tahu Evan sedang bermaksud ingin menggodanya. "Dimas. Ini aku Kanya." “Aku tahu.” Dimas kembali melirik Evan. Laki-laki tampan itu tampak asyik dengan ponselnya tapi Dimas yakin sahabatnya itu tidak benar-benar fokus dengan ponselnya, karena dapat ia lihat sebuah senyuman kecil di sudut bibir laki-laki tampan itu. “Namamu muncul di layar sebagai penelepon,” lanjutnya. Kanya tertawa canggung di seberang. "Oh, iya benar. Aku lupa kalau cuma ponselku yang rusak tapi kartunya tidak. Padahal tujuanku menghubungimu hanya untuk mengabari itu." Dimas tersenyum. Meskipun Kanya tidak ada di hadapannya saat ini, tapi ia bisa membayangkan ekspresi wajah apa yang sedang diperlihatkan gadis itu saat menyadari kebodohannya. “Kau sudah makan?” "Sudah, baru saja bersama Bu Amirah. Bagaimana denganmu?" “Sedikit lagi aku akan makan siang dengan Evan.” Dimas melirik arloji di pergelangan tangan kanannya. Sebenarnya ini sudah waktunya istirahat dan biasanya ia bersama Evan sudah ada di café saat ini untuk menikmati makan siang mereka. Namun ia tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berbicara dengan Kanya meskipun hanya melalui telepon. Karena kesempatan mereka untuk melakukan hal ini benar-benar langka mengingat dirinya yang begitu sibuk dengan urusan kantor dan baru akan pulang saat semua orang sudah terlelap tidur. Ia memberi isyarat pada Evan agar laki-laki tampan itu pergi ke café tanpa dirinya, tapi tentu saja sahabatnya itu menolaknya dengan tegas. Karena memang mereka berdua itu sudah terkenal tak terpisahkan oleh seluruh karyawan kantor. "Berbicara soal bosmu itu, tadi dia datang ke rumah. Dia membawakanku ponsel baru." Ada jeda sejenak dan Dimas bisa mendengar helaan napas Kanya. "Apa benar itu darimu?" Sebenarnya Kanya merasa tidak perlu menjelaskan soal ini, karena ia tahu Dimas pasti sudah tahu perihal masalah ini tanpa ia menjelaskannya. Dimas tidak bodoh untuk sekadar menyadari bahwa ia sudah memakai ponsel pemberiannya untuk menghubunginya saat ini. Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati, menyadari betapa bodohnya ia dalam mencari topik obrolan. “Itu benar. Kebetulan dia ada keperluan di luar dan perjalanannya melewati rumah, jadi sekalian aku titipkan padanya. Apa kau suka dengan ponselnya?” Kanya merasa lega saat Dimas menanggapi ucapan tak berbobotnya dengan normal. "Aku suka, sangat suka malah. Tapi … hanya saja aku merasa tidak enak. Lagipula-" “Kanya.” Kanya masih ingin melanjutkan kalimatnya tapi segara dipotong oleh Dimas, nada suara laki-laki tampan itu tampak tak suka dengan kalimat terakhir Kanya. “Aku membelikan ponsel itu atas keinginanku sendiri tanpa ada paksaan dari siapa pun, bahkan aku akan lebih senang memberikan barang untukmu. Jadi kumohon, jangan pernah lagi merasa tidak nyaman dengan apa yang aku berikan.” Dimas menghela napas setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia memang terdengar sedikit memaksa saat ini, tapi itu semata-mata ia lakukan agar Kanya berhenti merasa tidak nyaman padanya. Ia sudah berjanji padanya dirinya sendiri semenjak Kanya tinggal bersamanya bahwa ia akan menjaga gadis itu tetap aman dan nyaman berada di rumahnya. Meskipun ia sendiri tidak tahu definisi nyaman bagi gadis itu, karena yang ia tahu ia hanya bisa memanjakannya dengan barang-barang mewah dan rumah yang nyaman. "Aku tahu niat baikmu. Tapi, tetap saja rasanya aku hanya menjadi beban untukmu. Aku diberi kesempatan tinggal di rumahmu, diberikan barang-barang mewah, sementara aku tidak bisa memberikan apa pun sebagai balasan." “Bukankah aku sudah pernah bilang padamu? Kau hidup dengan tenang dan bahagia itu sudah lebih dari cukup untukku. Jadi apa pun pikiran negatif dan tidak nyaman yang bersarang di kepalamu itu hilangkan saja. Karena tujuanku adalah untuk membuatmu senang, bukan membuatmu merasa terbebani seperti ini.” Meskipun awalnya ragu tapi akhirnya Kanya tetap menyetujui ucapan Dimas. Laki-laki tampan itu hanya ingin membuatnya bahagia, jadi tentu saja ia harus menerima pemberian laki-laki tampan itu dengan tangan terbuka. Ia akui itu akan sulit mengingat kepribadiannya, tapi ia tak ingin mengecewakan Dimas. "Baiklah. Aku akan menerimanya. Terima kasih untuk ponsel ini dan lainnya. Sungguh aku merasa sangat beruntung bisa mengenalmu." Senyum Dimas mengembang yang mana membuat Evan semakin gencar menggodanya dari kejauhan. "Aku lebih bersyukur bisa mengenalmu," batinnya berucap. Ingin sekali ia mengeluarkannya agar Kanya tahu tentang perasaannya, tapi ternyata ia masih belum cukup berani untuk melakukannya. Evan beranjak dari posisinya dan Dimas menyadari itu, dapat ia lihat laki-laki tampan itu menunjuk arloji di pergelangan tangannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dimas menyadari maksud atasan sekaligus sahabatnya itu. “Kanya, mungkin kita bisa lanjutkan lain kali. Karena aku dan Evan ada pertemuan yang harus dihadiri saat ini." "Oh, iya tidak apa-apa. Maaf, seharusnya aku tidak mengganggu di saat jam kerja. Kalau begitu selamat bekerja dan sampai jumpa di rumah nanti." “Sampai jumpa.” Dimas mengucapkannya hanya untuk dirinya sendiri, karena begitu Kanya menyelesaikan kalimatnya, gadis itu langsung memutuskan sambungan telepon tanpa mendengar tanggapan dari Dimas. Dimas masih termenung memandangi layar ponselnya yang hanya menampilkan layar hitam saat ia mendengar suara Evan menginterupsinya. Menyadari itu ia segera mengambil berkas yang diperlukan kemudian mengikuti langkah Evan keluar dari ruangan. Tak menyadari bahwa senyum bahagia tidak pernah meninggalkan wajahnya sejak tadi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN