Orang Asing dan Kotak Misterius

1398 Kata
Sendok dalam genggaman Kanya terjatuh saat mendengar suara bell yang dibunyikan dari luar. Membuatnya tidak fokus dan menumpahkan makanannya ke atas meja yang juga mengenai bajunya. Ia baru saja ingin menikmati sarapan paginya, tapi harus diganggu oleh kehadiran seseorang yang tiba-tiba. Ia mengambil tisu dengan buru-buru berupaya membersihkan meja dan pakaiannya sebelum beranjak menuju pintu utama saat mendengar suara bell kembali dibunyikan. "Iya, sebentar!" teriaknya sambil berlari-lari kecil. Tangan kanannya yang semula bergerak ingin menekan tombol pin terhenti sejenak. Seketika otaknya dipenuhi dengan berbagai pikiran negatif. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa aneh karena tidak seperti biasanya ada tamu yang berkunjung ke rumah Dimas. Selama beberapa bulan tinggal di sana, hanya Bu Amirah, Rara dan Evan yang pernah berkunjung. Itu pun jika ada tamu lainnya Dimas pasti akan memberitahunya sebelumnya. Bahkan jika itu Evan sekalipun. Dengan gerakan pelan ia mendekati intercome dan melihat ke layar. Matanya menyipit saat melihat sosok asing dengan pakaian serba hitam dan tertutup sedang menekan bell apartemen dengan santai. Kanya tidak dapat melihat wajahnya yang ditutupi oleh topi, tapi Kanya bisa menebak umur laki-laki itu yang mungkin seumuran dengan Dimas. Laki-laki itu tampak masih muda dengan perawakannya yang tinggi dan sebagian wajahnya yang hanya bisa dilihat sekilas oleh Kanya. "Siapa?" Kanya memberanikan diri untuk meraih gagang telepon yang terhubung dengan intercome untuk memudahkannya berkomunikasi dengan seseorang di balik pintu luar apartemen dan bertanya dengan nada yang dibuat setenang mungkin. Ia tidak ingin menunjukkan rasa takutnya pada sosok asing yang kembali menekan bell. Ia hanya sendirian saat ini, Bu Amirah pamit lebih cepat dari biasanya karena ingin menjemput anak serta menantunya yang baru pulang dari luar kota. Kanya mengerutkan keningnya saat melihat laki-laki di luar sana berhenti menekan bell. Ia tak beranjak dari posisinya pun melakukan sesuatu yang membuat Kanya semakin ketakutan. Pertama, ia mendapatkan telepon iseng, kemudian mendapati seseorang mengawasinya dari kejauhan dan sekarang sosok asing muncul di hadapannya. Ia merogoh kantong celana denim yang dikenakannya dan segera mencari nama Dimas, tapi belum sempat ia menekan tombol memanggil, laki-laki yang ada di luar sana bergerak menjauh yang membuat Kanya menghela napas lega. Untuk berjaga-jaga, Kanya kembali melihat layar intercome dan sedikit membuka pintu untuk mengintip keluar dan tak menemukan siapa-siapa di luar sana. Kembali ia menghela napas lega sambil kembali mengunci pintu dan berjalan menuju dapur. Nasi gorengnya sudah mulai mendingin saat ia menyendokkannya ke dalam mulutnya, namun itu tentu tak bisa menghilangkan rasanya yang enak. Baru saja ia ingin menyendokkan suapan ke tiga, bell kembali berbunyi. Kanya meletakkan sendoknya dengan perasaan sedikit kesal. Sungguh rasanya ia ingin mengutuk siapa pun yang sedang mengganggu waktu sarapannya yang berharga saat ini. Terlebih lagi perutnya juga sudah demo minta diisi sejak tadi. Beruntung hanya ada dirinya sendiri di rumah saat ini, jika tidak ia akan malu jika ada Dimas atau Bu Amirah yang mendengarnya. Karena ia benar-benar terdengar seperti gelandangan yang belum makan selama berhari-hari. Saat tiba di depan pintu, Kanya langsung melihat layar intercome dan kembali menemukan sosok asing tadi berdiri di depan pintu apartemen. Namun kali ini Kanya bisa melihat sedikit wajah laki-laki itu, wajah yang benar-benar asing dan belum pernah ia temui sebelumnya. Saat ia sedang asyik memperhatikan wajah laki-laki itu dan sibuk menerka-nerka sosoknya yang sebenarnya, pandangan mata mereka bertemu. Meskipun dibatasi oleh kamera dan layar, namun Kanya bisa merasakan tatapan tajam laki-laki itu yang seolah-olah menembus layar di depannya. Kanya mundur beberapa langkah, tubuhnya mulai gemetaran tanpa otaknya sadari. Hanya dengan melihat tatapan laki-laki itu yang datar dan tak memiliki jiwa di dalamnya mampu membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Ia mematung kaku di depan pintu bahkan saat ia melihat secarik kertas diselipkan di sela-sela bawah pintu dan suara langkah kaki yang perlahan-lahan berjalan menjauh dari pintu. Dengan tangan yang gemetaran, Kanya meraih kertas yang di atasnya tertulis sebuah kalimat dengan tinta merah besar. BERHENTI BERSEMBUNYI w***********g! Kanya tanpa sadar memekik dan melempar kertas di tangannya. Kedua tangannya memegangi masing-masing telinga kanan dan kirinya dengan wajah pucat pasi. Tak sadar ia berjongkok masih memegangi kedua telinganya dengan degup jantungnya yang bisa ia dengar dengan jelas bahkan saat kedua telinganya ia tutup rapat. Kedua matanya yang awalnya terpejam erat kini terbuka, degup jantungnya semakin keras saat mendengar seseorang memasukkan kode pin dari luar. Ia tidak tahu siapa orang itu dan ia tak berani untuk memeriksanya. Bahkan untuk beranjak dari posisinya saat ini saja ia tak bisa dengan kondisi tubuh yang masih gemetar ketakutan. Ia hanya pasrah sambil menunggu siapa pun yang ada di luar sana membuka pintu dan menyerangnya kapan saja. Rasa lega menyelimutinya saat mendapati Evan memasuki apartemen dan terkejut melihatnya berjongkok di depan pintu. Laki-laki tampan itu menutup pintu dengan kasar sambil berjongkok di depannya. Dari raut wajahnya saja Kanya bisa tahu bahwa laki-laki itu khawatir padanya. "Ada apa denganmu? Apa yang kau lakukan di depan pintu dan kenapa kau menangis?" Kedua tangan besar Evan bergerak menghapus air mata Kanya yang ia sendiri tidak sadar sejak kapan ia menangis. Dengan kehadiran Evan di hadapannya saat ini benar-benar membuat Kanya lega. Namun alih-alih tersenyum bahagia tangisannya malah semakin keras. Suaranya tidak dapat keluar hanya untuk menjawab pertanyaan laki-laki itu dan menjelaskan apa yang terjadi. Evan sendiri tak bertanya apa-apa dan hanya merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, berusaha membuatnya tenang. Tanpa Kanya menjawab pertanyaannya ia sudah bisa menebak jawabannya. Selembar kertas yang tergeletak di depan gadis itu bisa ia lihat dengan jelas, ditambah lagi saat di depan pintu tadi ia menemukan sebuah kotak yang di dalamnya terdapat bangkai anjing yang sudah dimutilasi sedemikian rupa. Beruntung yang menemukannya adalah dirinya, tidak bisa ia bayangkan jika gadis rapuh dalam pelukannya saat ini yang menemukan kotak menjijikkan itu yang bahkan baginya sendiri mampu mengaduk-aduk makanan yang ada di perutnya. *** "Ini minumlah." Evan menyerahkan segelas air putih pada Kanya yang menerimanya dengan lemah. "Terima kasih." Evan hanya mengangguk sebagai tanggapan, tatapannya tidak lepas dari wajah Kanya yang sembab sehabis menangis selama kurang lebih satu jam. Gadis itu tidak menjelaskan apa pun padanya sejak tadi dan hanya menangis dalam pelukannya tanpa henti. Namun, ia juga cukup sadar untuk tidak bertanya kembali dan mengusik Kanya yang bagaimanapun masih canggung dengannya. "Kotak itu ... isinya apa?" Evan sedikit tersentak saat mendengar pertanyaan Kanya yang tiba-tiba, ia tak sadar sedang melamun dan terus memandangi Kanya membuatnya malu sendiri. Ia berdehem sekadar mengurangi rasa malunya. "Ini." Ia mendorong kantong berwarna pink di depannya pada Kanya yang menatapnya bingung. "Ponsel dari Dimas. Katanya dia tidak sengaja merusak ponselmu yang lama." Ia tersenyum. "Kebetulan aku habis ada urusan di luar kantor jadi Dimas menitipkannya padaku." Kanya mengambilnya dan melihat isi dalam kantong tersebut benar sebuah kotak ponsel, walau sebenarnya yang ia tanyakan adalah kotak besar yang dibawa oleh Evan selain kantong pink itu. Ia yakin kotak itu bukanlah milik laki-laki tampan itu dan dapat ia tebak kalau Evan menemukannya di depan pintu, karena ia ingat sebelum laki-laki asing yang menerornya tadi pergi, ia bisa mendengar sebuah kotak diletakkan di atas lantai dengan kasar. "Terima kasih, maaf jadi merepotkanmu." "Tidak apa-apa, lagipula ini bukanlah hal yang sulit." Kanya membuka mulutnya ingin menanyakan sesuatu tapi kembali menutup rapat bibirnya dan urung melontarkan pertanyaan. Ia menatap Evan yang ternyata juga sedang menatapnya, laki-laki tampan itu tersenyum yang mampu membuatnya kembali tenang. "Kotak besar yang kamu bawa tadi ...." Kanya tidak melanjutkan ucapannya, tapi ia bisa melihat reaksi Evan yang sedikit kaku membuatnya yakin isi kotak itu bukanlah sesuatu yang normal. "Oh itu." Evan mengalihkan pandangannya, enggan membalas tatapan Kanya yang seolah mendesaknya meminta penjelasan. "Barang yang aku beli untuk peralatan di kantor," jawabnya asal. Senyum canggung tampak di wajahnya saat ia kembali menatap Kanya yang seperti tidak puas dengan jawabannya. Kanya hanya mengangguk tanda mengerti, ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh karena tidak ingin membuat laki-laki di depannya merasa tidak nyaman dengannya. "Baiklah, karena amanat yang diberikan Dimas sudah terlaksana, saatnya bagiku untuk pamit." Evan tersenyum jenaka. "Aku pergi dulu. Dimas bisa mengamuk jika aku berlama-lama di luar." "Iya, hati-hati di jalan." Evan meraih kotak di depan pintu dan melambaikan tangannya sebagai tanggapan. Setelah keluar dari apartemen Dimas, ia sejenak terdiam bersandar di pintu sambil memperhatikan kotak di depannya yang mulai mengeluarkan aroma busuk. Kemudian tatapannya beralih pada selembar kertas yang ia pungut di depan pintu. Rahangnya mengeras serta tatapan tajamnya yang berbanding terbalik dengan ekspresi yang ia tunjukkan di depan Kanya. Ia meremas kertas yang ditulis dengan darah itu dengan kasar kemudian berjalan menjauh dengan kotak busuk dalam genggamannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN