Pesan Aneh dan Kemarahan Dimas

1173 Kata
Kanya merogoh tasnya saat mendengar nada dering panggilan dari ponselnya. Ia meletakkan sekantung belanjaannya di atas sofa dan segera melihat nama pemanggil yang tertera di layar. Keningnya berkerut kala melihat nomor asing yang berdasarkan pada ingatannya di hari-hari sebelumnya yang juga pernah menghubunginya dengan iseng. "Ada apa? Siapa yang menelepon?" Dimas yang baru sampai di ambang pintu dengan kedua tangannya yang penuh dengan barang belanjaan menatapnya dengan wajah serius. Sementara Rara sudah berlari masuk ke dalam rumah dan memanggil-manggil neneknya. "Oh, ini." Kanya menunjukkan layar ponselnya pada Dimas. "Ada telepon masuk dari nomor asing," jawabnya santai. Tampak tidak sadar dengan ekspresi wajah Dimas yang mengeras melihat deretan angka yang tertera di layar ponselnya. Jelas laki-laki itu mengenal nomor yang pernah mengirimkan pesan ancaman pada Kanya. Kembali melihat layar ponselnya, Kanya berseru saat sebuah pesan masuk dari nomor yang sama. "Ada pesan masuk." Dimas mendekat dan merebut ponsel Kanya tepat sebelum gadis cantik itu membuka pesan yang baru masuk itu. Ia melihat dengan saksama setiap kalimat yang tertulis di sana tanpa memperdulikan Kanya yang menatapnya heran. Nomor tidak dikenal Kau cukup bahagia bisa berjalan-jalan dengan laki-laki lain. Apa karena dia tampan dan bisa memuaskanmu? Padahal kau bisa saja lebih bahagia jika bersamaku. "s**l!" Sekonyong-konyong benda persegi itu melayang menabrak dinding dan pecah pada layarnya. Diiringi dengan teriakan kaget Kanya dan Bu Amirah yang berlari mendekat dengan Rara yang menatapnya takut-takut. Gadis kecil itu begitu takut melihat ekspresi kemarahan yang jelas tergambar di wajah Dimas. Ia tak melepaskan genggaman tangannya pada neneknya sedikit pun. Bu Amirah yang tidak tahu apa-apa menyentuh pundak Kanya. Bibirnya tidak mengucapkan apa pun, tapi arti tatapan matanya cukup bisa ditangkap oleh Kanya. Gadis itu menggeleng tanpa suara, ia sendiri bingung dengan perubahan sikap Dimas yang secara tiba-tiba itu. Ia cukup sayang dengan ponselnya yang sekarang sudah rusak, tapi kemarahan Dimas jauh lebih penting saat ini. Ia tidak tahu apa yang tertulis dalam pesan masuk yang bisa membuat laki-laki tampan yang selalu terlihat tenang itu tiba-tiba hilang kendali seperti saat ini. Tentu saja ini adalah kali pertama ia melihat sisi Dimas yang lain. Melihat keributan yang ia buat, Dimas mengusap wajahnya sambil berusaha menenangkan diri. Ia menatap Kanya yang terdiam seribu bahasa dengan wajah terkejutnya. Pandangannya kemudian beralih pada Bu Amirah yang memegang dadanya dan Rara yang menatapnya sambil bersembunyi di balik tubuh Bu Amirah. Ia menghela napas dan mendekati Kanya. Tangannya terangkat untuk menyentuh pipi kiri gadis itu. "Maaf, aku akan menjelaskannya nanti. Untuk ponselmu akan aku ganti dengan yang baru." Kanya baru saja ingin menanggapi ucapan Dimas namun laki-laki itu sudah terlebih dahulu beranjak pergi dan menghampiri Rara yang masih terlihat takut. Dimas menumpukan salah satu lututnya di hadapan Rara dengan senyuman di wajahnya, sangat berbeda dengan ekspresinya beberapa saat yang lalu. "Maaf, ya, Sayang. Kakak tidak bermaksud untuk membuatmu takut." Tangannya terulur menyentuh pucuk kepala Rara dan menepuknya pelan. Matanya beralih pada Bu Amirah, ia berdiri. "Maaf, Bu. Mungkin sebaiknya Ibu pulang bersama Rara sekarang. Untuk pekerjaan yang belum selesai biar aku yang menyelesaikannya. Lagipula aku yakin Rara juga pasti masih kaget." Mengerti dengan arti pengusiran lembut itu, Bu Amirah mengangguk setuju. "Baiklah, tapi kalau ada apa-apa hubungi saja ibu." Mata Bu Amirah tertuju pada Kanya yang masih seperti belum bisa mencerna kejadian yang baru saja terjadi dan kembali memandangi Dimas. Ia tidak tahu apa yang terjadi tapi ia cukup mengerti untuk tidak menempatkan posisinya lebih dari yang seharusnya. Lagipula ia yakin sikap Dimas tadi itu pasti karena ada alasan yang laki-laki itu tidak ingin ceritakan padanya. "Ibu pamit dulu." Genggaman tangannya pada tangan cucunya mengerat. "Ayo, Rara, kita pulang sekarang." *** Kanya menatap ponsel malangnya yang sudah tidak berbentuk. Benar-benar hancur dan tidak bisa diselamatkan. Ia sampai berpikir sekuat apa tenaga Dimas hingga bisa menghancurkan ponselnya hanya dengan sekali lempar. Di dalamnya memang tidak ada file-file penting, tapi ia cukup sedih saat mengetahui benda persegi itu sudah tidak bisa menemani hari-harinya seperti sebelumnya. Meskipun Dimas nantinya akan membelikan yang baru, tapi ia cukup menyayangkan ponsel lamanya yang bahkan baru beberapa bulan ia miliki. Suara pintu yang dibuka dari luar membuat lamunannya buyar dan menoleh ke arah pintu di mana Dimas masuk dengan senyum tipis. Laki-laki tampan itu berjalan mendekat dan duduk di pinggir ranjang seperti yang dilakukannya. Kanya menatap Dimas dalam diam, bukan karena ia marah ponselnya dirusak oleh laki-laki tampan itu, tapi karena ia bingung harus mengatakan apa. Sementara Dimas seperti masih butuh waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi dengannya hingga bisa lepas kendali seperti tadi. "Maaf." Kembali hanya kalimat itu yang diucapkan Dimas. Laki-laki itu menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Tampak menyesal dengan perbuatannya tadi yang memang tidak melukai siapa pun tapi cukup membuat trauma. "Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku yakin itu pasti ada alasannya." Kanya menatap ponselnya, merenung sejenak. "Apa yang dikatakan orang itu sehingga membuatmu marah? Apa kamu mengenalnya?" Tubuh Dimas sedikit menegang mendengar pertanyaan Kanya yang sedikitnya tepat pada sasaran. Ia menopang dagunya dengan tangannya sementara tatapan matanya lurus ke depan. Seolah-olah memandangi gorden putih yang bergoyang-goyang diterpa angin. "Sejak kapan nomor itu menghubungimu?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Kanya sebelumnya, tatapan matanya masih kosong. Kanya menoleh dengan cepat. "Sejak seminggu yang lalu. Tapi ini kali pertama dia mengirim pesan." Dimas merasa lega mendengarnya, berarti malam itu saat ia menghapus pesan dari si penelepon asing, tidak ada lagi pesan baru yang masuk yang memungkinkan dilihat oleh Kanya sehingga membuat gadis itu ketakutan. Lagipula, melihat sikap gadis itu yang santai membuatnya yakin kalau orang itu belum pernah bertindak jauh selain menerornya lewat telepon. Setidaknya ia berharap begitu, karena dengan sikap Kanya ia bisa tahu bahwa gadis itu bukanlah tipe yang akan mengutarakan segala keluh kesahnya begitu saja tanpa diminta terlebih dahulu. Kanya meletakkan ponselnya di sampingnya dan memperbaiki posisi duduknya menghadap Dimas agar lebih mudah bisa melihat dan berkomunikasi dengan laki-laki itu. "Jujur saja aku tidak tahu apa yang terjadi, aku bahkan tidak mengenal pemilik nomor itu yang berulang kali melakukan telepon iseng, tapi aku tidak mengerti kenapa kamu bersikap seperti ini. Tolong jelaskan supaya aku bisa mengerti dan berhenti menerka-nerka." "Tenang, Kanya." Dimas menyentuh punggung tangan gadis di depannya yang seperti kehilangan ketenangannya. Ia tersenyum, berusaha menenangkan gadis itu. "Aku tidak mengenal pemilik nomor itu." Ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Kanya. "Itu hanya orang iseng yang tidak punya kerjaan. Tadi aku seperti itu karena merasa kesal. Maaf soal ponselmu." Kanya menatapnya dengan ekspresi tidak yakin, tidak mungkin laki-laki itu bisa bereaksi seperti itu hanya karena alasan sepele yang bahkan dirinya saja tidak terlalu mempermasalahkannya, meskipun ia akui itu cukup mengganggu. Namun alih-alih bertanya lebih lanjut ia hanya mengangguk mengerti. Ia hanya tidak ingin memaksa laki-laki itu dan pasti akan menceritakan semuanya suatu saat nanti. Lagipula ia sudah capek habis berbelanja di pasar yang cukup menguras tenaganya yang selama beberapa bulan ini terlalu dimanja sehingga jarang bergerak. "Aku mengerti. Tapi jangan bersikap seperti itu lagi. Aku dan Bu Amirah tidak apa-apa, tapi kasian Rara. Dia pasti sangat kaget." Dimas tersenyum. Ia menarik Kanya ke dalam pelukannya, merasakan kehangatan tubuh gadis itu yang mampu menenangkan emosinya. "Iya, aku janji." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN