Belanja ke Pasar 2

1254 Kata
"Kakak mau ke mana?" Suara lantang yang berasal dari anak kecil di atas sofa itu menarik sudut bibir Kanya untuk terangkat. Ia yang semula sudah akan keluar dari apartemen menyusul Dimas, berbalik memandangi Rara yang tengah mengusap matanya yang masih setengah mengantuk. Dengan senyum lebarnya, Kanya mendekati gadis kecil itu dan duduk di sampingnya. Tangan kanannya terangkat untuk mengusap rambut Rara yang sedikit berantakan. "Rara sudah bangun?" Rara mengangguk. Ekspresi wajahnya yang masih setengah mengantuk tampak begitu lucu di mata Kanya. "Kakak mau ke mana?" tanyanya kembali mengulang pertanyaannya yang belum terjawab. Kanya melirik pintu apartemen yang masih terbuka, di sana ada Dimas yang sedang berdiri bersandar pada daun pintu menunggunya dengan sabar. "Kakak mau ke pasar. Rara mau ikut?" "Mau!" Rara melompat turun dari sofa dengan semangatnya. Terlihat dari wajahnya bahwa ia sangat senang dengan ajakan Kanya. "Rara mau ikut. Ayo, Kak, kita pergi sekarang," desaknya sambil menarik tangan Kanya yang tersenyum melihat tingkahnya yang lucu. "Iya, iya." Kanya beranjak dari duduknya. "Tapi Rara harus izin sama nenek dulu baru kita berangkat." "Kenapa harus minta izin?" Rara menampilkan wajah murungnya, seperti sudah tahu akan bagaimana jawaban neneknya nanti saat ia meminta izin. Tangan kanan Kanya menyentuh pipi kiri Rara yang berisi. "Sebelum pergi kita harus minta izin dulu supaya nenek tidak khawatir sama Rara." Senyum Kanya semakin melebar melihat wajah Rara yang masih ragu dengan usulannya. Ia tahu pikiran gadis kecil itu. "Rara jangan khawatir, kita minta izinnya sama-sama, ya. Jadi nenek pasti kasih izin." Mendengar bujukan itu membuat Rara akhirnya mengangguk setuju, wajahnya sudah kembali ceria. Dengan menggandeng tangan Kanya ia berjalan mengikuti langkah gadis cantik itu menuju dapur di mana neneknya berada. Sementara Kanya menoleh pada Dimas dan memberi isyarat untuk memberinya sedikit waktu dan Dimas hanya mengangguk tanda mengerti. *** "Sudah selesai minta izinnya?" Dimas menegakkan tubuhnya yang awalnya bersandar pada badan mobil saat matanya menangkap sosok Kanya dan Rara berjalan mendekat ke arahnya. Sebelumnya ia memang sudah memberitahu gadis cantik itu bahwa ia akan menunggu di parkiran sambil memanaskan mobil. Bibirnya tersenyum saat pandangannya beradu dengan Rara yang menatap lurus padanya, pandangan gadis kecil penuh tanda tanya. Kanya yang memahami situasi berinisiatif untuk memperkenalkan mereka berdua. Bu Amirah memang sudah lama bekerja dengan Dimas, tapi Rara baru pertama kali menginjakkan kaki ke apartemen laki-laki tampan itu saat Kanya sudah mulai tinggal di sana. Jadi wajar saja jika keduanya belum pernah bertemu dan saling mengenal satu sama lain. "Rara, ini Kakak Dimas. Rara pasti sudah pernah dengar namanya, 'kan?" Rara tampak sedikit takut awalnya, bahkan tubuhnya sedikit bersembunyi di balik tubuh Kanya. Namun karena melihat senyum menenangkan Dimas membuatnya menjadi tenang dan memberanikan diri untuk mendekati laki-laki tampan itu. "Kakak Dimas," panggilnya dengan suara pelan dan ragu-ragu. Melihat Rara sudah tidak takut padanya, Dimas berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan gadis kecil itu. "Hai, Cantik," sapanya dengan nada selembut mungkin, ia takut menakuti gadis kecil itu dan malah membencinya. Ia sebenarnya menyukai anak kecil, hanya saja ia tidak pintar berhadapan dengan mereka dan akhirnya membuat anak-anak takut padanya karena sikapnya yang kaku. Tangan Dimas terangkat untuk mengusap rambut Rara, senyumnya mengembang saat gadis kecil itu tidak menepis tangannya dan tampak tenang. Meskipun Rara masih tampak takut-takut padanya karena baru pertama kali berinteraksi dengannya. "Rara mau ikut sama kakak Kanya dan kakak Dimas?" "Iya." Rara mengangguk antusias. "Sudah minta izin sama nenek?" "Sudah, nenek bilang Rara boleh ikut tapi tidak boleh jauh-jauh dari kakak Kanya sama kakak Dimas." Dimas melirik Kanya yang tersenyum di samping Rara, tangannya masih setia mengandeng tangan gadis kecil itu seolah-olah takut kalau Rara akan menghilang dari sisinya. Dimas tersenyum. "Ya, sudah. Ayo kita berangkat sekarang," ujarnya yang membuat Rara tersenyum lebar. *** Kanya sibuk memilih sayuran yang akan ia beli dengan teliti. Ia benar-benar memperhatikan detil kecil yang bisa mempengaruhi kualitas dari sayuran tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk membelinya. Terkadang ia akan tertahan di suatu tempat hanya untuk menawar harga jika menurutnya terlalu mahal. Ia sudah terbiasa hidup sederhana sejak kecil dan saat ibunya masih hidup dulu ia juga suka menemani ibunya berbelanja keperluan dapur. Jadi sedikitnya ia bisa tahu harga normal dari sayur jenis apa pun yang familiar di matanya. Sementara Dimas hanya diam mengikutinya bersama Rara di belakang. Laki-laki tampan itu begitu senang mendampingi Rara dan memanjakannya dengan jajanan yang diinginkan gadis kecil itu. Sesekali ia akan memperkenalkan Rara tentang jenis sayuran atau jenis ikan yang mereka temui di pasar. Kanya tersenyum melihat Dimas dan Rara yang tak ubahnya seperti sosok ayah dan anak. Dimas yang tampak dewasa mampu membuat Rara merasa nyaman berada di sisinya meskipun mereka baru pertama kali bertemu. Sementara Rara sendiri sudah tidak merasa canggung bersama Dimas dan malah seperti berinteraksi dengan ayahnya sendiri. Gadis kecil itu juga senang bercerita tentang kegiatannya di sekolah dan apa saja yang ia sukai, sementara Dimas mendengarkan dengan saksama dan tak terlihat bosan dengan ocehan panjang Rara yang tak ada habisnya. "Kakak! Rara mau itu!" Telunjuk Rara tertuju pada seorang laki-laki paruh baya yang menjual balon dengan beragam warna. Bentuknya juga ada beragam yang menyerupai binatang atau benda lainnya. "Rara mau itu?" Dimas bertanya dengan lembut, matanya sesekali melirik Kanya yang ternyata fokus pada mereka karena teriakan Rara tadi. Rara mengangguk. Kakinya sudah tidak tahan untuk berlari mendekati balon-balon tersebut."Iya! Rara mau yang bentuknya seperti kuda! Ayo, Kak, kita beli sekarang!" "Iya, sabar, ya." Dimas menatap Kanya yang membuat gadis itu memusatkan perhatian padanya. "Kamu masih belum selesai berbelanja?" Kanya mengangguk pelan. "Iya, masih ada yang perlu aku beli. Kalian pergilah dan tunggu saja aku di mobil. Rara juga pasti akan capek kalau diajak keliling terus dari tadi." Dimas tersenyum. "Baiklah." Tatapan matanya beralih pada Rara yang menatap lurus pada balon-balon yang menarik perhatiannya. "Ayo." *** Saat Kanya kembali ke parkiran, ia mendapati Dimas dan Rara yang asyik menikmati es krim. Keduanya duduk di bangku panjang yang tidak jauh dari mobil Dimas. Sesekali mereka tertawa dengan Rara yang tak berhenti bercerita dengan nada cadelnya yang khas. Melihat pemandangan itu membuat hati Kanya menghangat. Ia begitu senang melihat interaksi Dimas dan Rara yang saling menerima satu sama lain. Dengan bibir yang tersenyum ia berjalan mendekati mereka berdua yang akhirnya menyadari kehadirannya. "Kakak!" Rara berseru dengan ceria sambil berlari menghampirinya. Di sekitar mulutnya penuh dengan sisa-sisa es krim yang lengket, sedang di tangannya es krimnya sudah sedikit mencair dan lelehannya memenuhi tangan kecilnya. Sementara di tangan kirinya ia masih menggenggam tali balon berbentuk kuda yang sangat diinginkannya tadi. Kanya menurunkan kantong belanjaan dan berjongkok di depan Rara. "Ya ampun, Rara makan es krim kenapa jorok begini?" tanyanya sambil membersihkan wajah Rara yang hanya tersenyum menanggapinya. Dimas mendekati mereka berdua. Es krimnya sudah ia habiskan dan membuang stik es krimnya ke tempat sampah yang kebetulan ada di sana. "Sudah selesai belanjanya? Atau masih ada yang perlu dibeli?" tanyanya sambil mengangkat barang belanjaan Kanya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. "Sudah." Kanya mengambil tisu basah lainnya dari dalam tasnya dan membersihkan wajah Rara kembali beserta kedua tangannya. Matanya kemudian menatap Dimas. Bibirnya tersenyum. "Kalian tampak senang menikmati es krim bersama-sama." Dimas tersenyum canggung. "Jangan bilang-bilang sama Bu Amirah." Ia tahu kalau Bu Amirah tidak mengizinkan Rara untuk membeli jajanan dingin dan manis-manis yang bisa mempengaruhi giginya dan itu semua berkat celotehan Rara sendiri yang baru memberitahunya saat mereka sudah membeli es krim. Berkat itu ia merasa tertipu oleh gadis kecil itu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menaruh telunjuknya di depan bibir. "Ini rahasia kita bertiga." Rara yang ternyata mengerti dengan maksud Dimas mengangguk setuju. "Iya, ini rahasia kita bertiga!" Serunya yang membuat Kanya dan Dimas tertawa bersama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN