Belanja ke Pasar 1

1447 Kata
Kanya terbangun dengan wajah yang masih menunjukkan rasa kantuk yang besar. Corak gelap di bawah matanya menandakan bahwa ia tak cukup tidur tadi malam, sementara kepalanya terasa pusing akibat kurang tidur. Salahkan dirinya yang terlalu bersemangat sehabis bertemu Dimas hingga tak bisa tidur sampai pagi menjelang. Jemari lentiknya meraih ponselnya di atas meja nakas untuk memeriksa jam berapa sekarang. Ia memijat pelipisnya pelan saat melihat angka delapan yang tertera sebagai penanda waktu saat ini. Setelah merapikan ranjangnya ia beranjak keluar dari kamar kemudian melangkah ke dapur dengan kesadaran yang masih belum pulih sepenuhnya. Suara berisik dan aroma makanan khas Bu Amirah yang sedang masak di dapur langsung tertangkap indera penciumannya saat ia memasuki ruangan itu. "Ada yang bisa aku bantu, Bu?" tanyanya sambil mengambil posisi di belakang perempuan paruh baya yang sedang sibuk mencuci piring, belum menyadari kehadirannya. Tubuh perempuan di depannya tersentak. "Astaga, Kanya. Kamu bikin ibu kaget saja." Bu Amirah berbalik dengan wajah terkejutnya yang kemudian tergantikan dengan senyuman lega. Kanya menampakkan cengirannya. "Maaf, Bu." "Kamu tidak perlu bantu apa-apa. Cukup duduk di sana dan menonton saja." Bu Amirah menunjuk kursi meja makan dengan dagunya, memberikan isyarat pada gadis di depannya. Kanya mengikuti arah yang ditunjuk Bu Amirah sejenak sebelum kembali menatap perempuan paruh baya itu yang kini kembali menggosok piring di tangannya. "Tapi aku mau membantu ibu. Aku bosan kalau tidak ada kerjaan," rengeknya. Semenjak mengenal Bu Amirah beberapa bulan yang lalu, ia sudah menganggap perempuan itu seperti ibunya sendiri bahkan sampai ia sudah tidak canggung untuk bersikap manja padanya. "Kamu siram bunga saja sana. Bungamu butuh diberi pupuk juga sepertinya. Ada beberapa yang daunnya mulai menguning." "Ah, benar." Kanya yang sebelumnya sudah duduk di kursi kembali berdiri. "Aku hampir saja lupa. Aku siram bunga dulu." Bu Amirah hanya mengangguk sebagai tanggapan. Kedua tangannya kembali sibuk membilas piring dan gelas di depannya, sementara bibirnya tidak lepas dari senyuman. Belum sampai lima menit kemudian Kanya kembali ke dapur dengan wajah terkejut. Bu Amirah yang melihatnya sampai mengerutkan keningnya pertanda bingung. "Ada apa?" Kanya tak langsung menjawab, ia melirik ke belakang sebentar sebelum berjalan mendekat ke arah Bu Amirah yang kini memusatkan perhatian penuh padanya. "Ibu sudah siram bunganya?" Kening Bu Amirah semakin mengerut, raut wajahnya ikut bingung mendengar pertanyaan Kanya. "Tidak. Ibu sejak datang langsung ke dapur dan dari tadi ibu hanya di sini, belum pernah ke balkon." "Terus yang siram bunganya siapa? Tanahnya masih basah seperti ada yang habis menyiramnya. Kalau bekas siraman yang kemarin itu tidak mungkin." Kanya benar-benar dibuat bingung saat ke balkon dan menemukan bunga-bunganya sudah disiram dengan bulir-bulir air yang sesekali masih menetes dari permukaan daun dan bunga. Satu-satunya orang yang ada di dalam pikirannya untuk melakukan itu hanya Bu Amirah dan tidak mungkin Rara yang sedang tertidur di sofa ruang tamu bangun sejenak untuk melakukannya, apalagi dengan tubuh kecilnya yang tak mungkin bisa menggapai rak tertinggi yang baginya sendiri agak sulit. Di tengah-tengah berpikir, Bu Amirah menampilkan wajah seolah-olah ia baru saja menemukan jawaban dari soal ujian yang sulit untuk ia kerjakan. "Oh, iya, ibu tadi lihat Dimas yang menyiramnya." "Dimas?" Kanya mengerutkan keningnya. "Maksud ibu, Dimas ada di rumah?" "Iya. Ini, 'kan hari Minggu, jadi wajar kalau Dimas ada di rumah. Bukannya kamu sudah tahu hal itu?" Wajah Kanya tiba-tiba memerah, mengingat kembali kejadian tadi malam antara ia dan Dimas. Setelah kejadian itu ia masih belum siap untuk bertatap muka dengan laki-laki tampan itu secepat ini. Andai saja ia ingat malam itu adalah malam Minggu, ia tidak akan mempermalukan dirinya dengan berdiri seperti orang bodoh di depan pintu kamar Dimas dan berakhir ketahuan. Beruntung ia masih belum berpapasan dengan laki-laki itu pagi ini, entah Dimas ada di mana tapi ia beruntung belum melihatnya sampai sekarang. "Kamu kenapa? Demam?" Tangan Bu Amirah menempel di kening Kanya yang membuat lamunan gadis itu buyar. Raut wajahnya tampak khawatir melihat wajah Kanya yang tiba-tiba memerah. Kanya menyentuh pipinya yang hangat sambil menggeleng kecil. "Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya sedikit kepanasan saja," ujarnya sambil menggerak-gerakkan tangannya guna menyejukkan area lehernya sebagai isyarat bahwa ia benar-benar kepanasan. Tawa kecil di bibirnya tak lepas dari wajahnya. "Makanya jangan berdiri dekat-dekat dari kompor. Kamu jadi kepanasan, 'kan jadinya." Kanya menurut saja saat tangan Bu Amirah mendorongnya menjauh dari kompor yang memang menyala sejak tadi. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal sambil memperhatikan Bu Amirah yang mematikan kompor saat menyadari masakannya sudah matang. Sungguh ia sendiri tidak sadar berdiri di samping kompor yang menyala, bahkan ia tak menyadari hawa panas yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Sepertinya kebohongan yang tadi ia ucapkan tak sepenuhnya bisa disebut kebohongan. "Astaga, kenapa bisa lupa begini!" Kanya terhenyak tak menyadari sejak kapan ia kembali melamun, saat sadar ia melihat Bu Amirah yang sudah menghilang dari hadapannya. Ia mendekati Bu Amirah yang sedang berdiri di depan kulkas yang terbuka sementara kedua tangannya sibuk menggeledah bagian dalam lemari pendingin itu mencari sesuatu. "Ada apa, Bu?" "Ini." Bu Amirah menjawab tanpa berbalik. "Ibu lupa membeli daun bawang sebelum ke sini tadi pagi. Ibu pikir masih ada di kulkas tapi ternyata sudah habis." Bu Amirah kembali menutup pintu kulkas dengan wajah kecewa. Ia melepas celemek yang dipakainya dan menggantungnya di tempatnya semula. Melihat Bu Amirah yang tampak buru-buru dan seperti ingin pergi ke suatu tempat membuat Kanya tak tinggal diam, ia tak ingin ketinggalan. "Ibu mau ke mana?" "Ibu mau ke pasar sebentar untuk beli daun bawang, sekalian beli daging dan sayuran lainnya untuk persiapan besok." "Aku ikut, ya." Bu Amirah tampak berpikir sejenak, pandangannya menelusuri penampilan Kanya dari atas ke bawah dengan alis yang bertaut. "Boleh, tapi apa kamu yakin mau pergi dengan penampilan seperti itu?" Kanya ikut memperhatikan penampilannya yang masih berantakan dengan piyama dan kenyataan bahwa ia belum mandi. Ia menepuk keningnya. "Ibu tunggu aku, ya, aku akan mandi sebentar. Sebentar saja. Benar-benar sebentar, cuma sepuluh menit." Dengan tawa yang tertahan, Bu Amirah hanya mengangguk sebagai persetujuan sambil menatap kepergian Kanya dari dapur dengan langkah tergesa-gesa. *** Kanya mengoleskan lip tint di bibirnya sebagai sentuhan akhir, sambil matanya mengawasi jam dengan saksama, takut jika ia ternyata melebihi waktu yang ia janjikan pada Bu Amirah dan kemudian ditinggalkan. Ia meratakan lip tint di bibirnya dengan tangan sebentar kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berjalan cepat keluar dari kamar. Di dapur ia menemukan Bu Amirah yang kembali sibuk membersihkan meja makan lengkap dengan celemek yang kembali ia kenakan. Kanya memberikan tatapan bingungnya. "Katanya ibu mau ke pasar. Apa tidak jadi?" "Jadi." Bu Amirah menjawab sambil tetap membersihkan meja. "Tapi yang pergi cuma kamu sama-" "Sama aku." Kanya mematung mendengar suara berat itu dari balik punggungnya. Dapat ia rasakan punggungnya yang hangat saat seseorang tiba-tiba memasuki dapur dan berdiri tepat di belakangnya yang ia yakin jika bergerak sedikit saja dari posisinya saat ini, punggungnya akan bersentuhan dengan d**a bidang laki-laki itu. Tubuhnya kaku bahkan untuk sekadar menengok ke belakang menatap wajah Dimas. Tanpa menoleh pada Dimas, Kanya berjalan mendekati Bu Amirah yang tersenyum tanpa tahu apa-apa. Ia berbisik di telinga perempuan paruh baya itu sambil sesekali melirik Dimas yang mulai sibuk dengan ponselnya. "Kenapa jadi begini, Bu? Bukannya tadi yang mau ke pasar cuma aku dan ibu." "Tadinya memang seperti itu. Cuma tadi Dimas tiba-tiba ke dapur untuk minum, dia tidak sengaja lihat kamu lari terburu-buru masuk ke kamar dan bertanya karena penasaran. Jadi ibu jawab kamu buru-buru untuk mandi karena mau ke pasar sama ibu." "Terus kenapa jadi dia yang pergi ke pasar sama aku?" "Karena Dimas sendiri yang menawarkan diri untuk menemani kamu. Katanya demi menghemat waktu. Biar ibu selesaikan pekerjaan di rumah sementara kalian belanja ke pasar. Lagipula bukannya bagus, kamu jadi tidak perlu khawatir saat di pasar karena ada Dimas." Kanya menunjukkan wajah memelas. "Kenapa bukan ibu saja yang pergi? Bilang sama Dimas kalau aku mau pergi sama ibu saja." "Tidak bisa." Bu Amirah menggeleng. "Ibu sudah terlanjur menyalakan kompor untuk menggoreng ikan." Matanya melirik ikan yang sudah hampir matang di atas teflon. Dimas yang mulai lelah menjadikan ponselnya sebagai alasan berpura-pura tak melihat interaksi Kanya dan Bu Amirah berdehem singkat demi menarik perhatian dua perempuan berbeda usia itu. Ia memberikan senyuman saat tatapannya beradu dengan Kanya yang tampak malu-malu menatap matanya dan ia tahu alasan di balik sikap gadis itu. "Belum mau berangkat? Jangan sampai pasarnya sudah tutup saat kita tiba di sana." "Sudah, sana pergi. Tuh, Dimas sudah menunggu." Bu Amirah mendorong Kanya pelan sambil tersenyum yang entah kenapa di mata Kanya senyum perempuan paruh baya itu tampak mengolok-olok dirinya. Entah karena Bu Amirah mengetahui ada sesuatu antara dirinya dengan Dimas atau hanya perasaannya saja. Ia mengalah kemudian dan meraih tangan kanan Bu Amirah, menciumnya. "Ya sudah, Bu. Aku pamit berangkat dulu." "Iya, hati-hati." Kanya mengikuti langkah Dimas keluar dari dapur dengan senyum lebar Bu Amirah di belakangnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN