Saat Dimas melangkahkan kakinya memasuki apartemennya yang ia lihat hanya kegelapan. Ia tak heran mengingat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tangan kanannya mendorong pintu apartemen dengan pelan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Sambil menenteng tas kerja dan jasnya yang sudah ia buka sejak di mobil tadi, ia melangkah menuju kamarnya. Langkah kakinya sepelan mungkin menapaki lantai dingin yang menembus kaos kakinya yang belum ia lepas bersamaan dengan sepatunya tadi.
Saat tangan kanannya hendak memutar kenop pintu kamarnya, ia menyadari bahwa masih ada sedikit cahaya yang mengintip di sela-sela bawah pintu kamar milik Kanya. Alisnya bertaut, berpikir mungkin saja gadis cantik itu sudah tidur, tapi ternyata tangannya menolak untuk memutar kenop pintu kamarnya dan malah melangkah mendekati pintu kamar Kanya.
Sambil memperhatikan pintu cokelat berbahan mahoni di depannya ia merasa ragu sejenak, antara mengetuk pintu atau kembali ke kamarnya dan beristirahat seperti yang tubuhnya inginkan. Namun kemudian pilihannya sudah bulat untuk menemui gadis itu sebelum kembali ke kamarnya. Ternyata tanpa ia sadari, ia begitu merindukan gadis itu, kemudian tangan kanannya yang kosong terangkat mengetuk pintu di depannya dengan pelan beberapa kali.
"Kanya?"
Tak ada jawaban dan itu cukup membuat Dimas yakin bahwa gadis penghuni kamar itu sudah terlelap menuju alam mimpi. Ia tak ingin mengganggu gadis itu dan ingin kembali ke kamar saja akan tetapi ternyata egonya mengalahkannya. Tanpa ragu ia memutar kenop pintu dan mendorong pelan pintu di hadapannya agar terbuka menampilkan sosok Kanya yang tertidur pulas di atas ranjang.
Awalnya Dimas mengira, hanya dengan melihat wajah gadis itu sudah cukup bisa menghilangkan kerinduannya, tapi ternyata ia menginginkan lebih. Alih-alih beranjak dari sana ia malah melangkah masuk ke dalam ruangan dan mendekati ranjang. Menatap dengan lekat wajah damai Kanya yang sesekali mengernyit dalam tidurnya. Bibirnya tersenyum dan tanpa ia sadari tangan kanannya sudah bergerak menyingkirkan helai rambut yang menggelitik di wajah Kanya.
Setelah merasa puas dan tak ingin berlama-lama di sana yang kemudian dicap sebagai laki-laki m***m yang masuk ke dalam kamar perempuan tanpa meminta izin terlebih dahulu, ia berniat untuk keluar dari sana sebelum suara getaran ponsel di atas meja rias menghentikan langkahnya. Ia melirik sejenak pada Kanya yang seperti tak terganggu dengan suara bising itu kemudian berjalan mendekati meja rias dan meraih ponsel pintar yang masih bergetar itu.
Nomor yang tertera di layar adalah nomor baru, nomor asing yang ia tidak kenali. Jempolnya baru saja akan menekan tombol hijau namun panggilan tiba-tiba berakhir. Dengan kerutan di keningnya ia melihat total panggilan tak terjawab yang melebihi angka empat puluh. Sambil sesekali melirik wajah Kanya, ia berpikir siapa penelepon itu dan ada urusan apa ia dengan Kanya. Ia juga tak mungkin bertanya pada Kanya dan mengganggu tidur gadis itu.
Masih sambil berpikir, ponsel di tangannya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk kali ini. Dimas tak berpikir panjang dan segera membukanya, membaca deretan kalimat yang dikirim dari nomor asing itu.
Nomor tidak dikenal
Aku tahu kamu ada di mana.
Pesan singkat yang cukup membuat rahangnya mengeras. Andai saja ponsel di tangannya bukan milik Kanya, mungkin ia sudah melemparnya ke dinding saat ini. Sambil masih berusaha menenangkan emosinya, ponsel di tangannya kembali bergetar, sebuah pesan baru masuk dan kali ini cukup membuat darahnya mendidih.
Nomor tidak dikenal
Kau tidak akan bisa bersembunyi dariku.
***
Kanya menggeliat kecil dalam tidurnya sebelum kedua matanya terbuka. Sambil mengumpulkan nyawanya ia menatap sekeliling ruang kamarnya yang kosong dan sepi. Aneh, padahal tadi ia seperti merasa ada orang lain di kamar ini selain dirinya. Dengan kesadaran yang sudah penuh ia meraih ponselnya dari atas meja dan menyadari benda persegi itu terasa hangat dalam genggamannya. Seolah seseorang baru saja menggunakannya beberapa saat yang lalu.
Ia tersenyum. Entah mimpi apa yang ia alami tadi sehingga membuatnya berpikir bahwa Dimas baru saja dari kamarnya. Namun, sentuhan halus di pipi kanannya tadi terasa cukup nyata untuk sebuah mimpi dan ia yakin hanya Dimas yang akan melakukan hal itu padanya. Ia tidak akan bisa melupakan rasa sentuhan Dimas di pipinya, karena laki-laki tampan itu lumayan sering melakukannya beberapa hari ini.
Ia menggeleng pelan menghalau pikirannya yang mulai liar. Dilihatnya jam yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Diusapnya wajahnya dengan satu tangan kemudian meraih gelas di atas meja kecil di samping ranjang dan menyadari bahwa gelas kaca itu kosong. Ia menghela napas sebelum menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya yang ia lupa sejak kapan ia memakainya kemudian turun dari ranjang. Dinginnya lantai mampu membuat tubuhnya langsung segar seperti tak butuh tidur lagi.
Sambil membawa gelas kosong di tangannya ia melangkah keluar kamar. Ekor matanya sedikit mengintip pintu kamar Dimas yang tertutup rapat, tak ada cahaya sedikit pun yang keluar dari sela-sela bawah pintu yang membuatnya yakin bahwa laki-laki itu sudah tidur. Ia kembali melangkah ke dapur untuk mengambil air dan meneguknya saat itu juga untuk menghalau rasa haus yang menderanya. Sebelum kembali ke kamar ia menyempatkan untuk mengambil sebuah apel dari dalam kulkas dan memakannya sambil berjalan. Sementara gelas yang tadi ia bawa ia lupakan di atas meja makan.
Sebelum kembali ke kamarnya ia mampir sebentar di depan pintu kamar Dimas. Tidak ada niatan untuk mengetuk atau bahkan memanggil nama laki-laki tampan itu, ia hanya berdiri di sana memandangi pintu di depannya yang seolah-olah akan terbuka tanpa ia sentuh. Tak dipungkiri ia ingin melihat wajah Dimas sebelum kembali tidur, karena ia tahu kesempatannya untuk melihat wajah laki-laki itu hanya di malam hari saja.
Ia masih memandangi pintu di depannya dalam diam sambil membayangkan pintu cokelat itu menjeblak terbuka dan menampilkan wajah tampan Dimas. Namun, sepertinya Dewi Fortuna mendengarkan permintaannya dan mengabulkannya. Karena saat ini Dimas tengah berdiri di depannya, memandanginya dengan mata teduhnya yang menenangkan. Kanya bahkan tak ingat menjatuhkan apel di tangannya yang kemudian menimbulkan suara benturan saat buah segar tersebut menyentuh lantai.
Dimas melirik apel yang menggelinding di dekat kaki Kanya dan membungkuk untuk mengambilnya. Ia tersenyum melihat wajah lucu gadis di depannya yang masih belum pulih dari keterkejutannya. Ia meraih tangan kanan Kanya dan meletakkan apel yang sudah digigit sekali itu di telapak tangan gadis itu.
"Kau menjatuhkan apelmu."
Kanya menggenggam erat apel di tangannya dengan senyuman canggung. Tak menyangka keisengannya tadi membuatnya berada pada situasi seperti ini. Ia menatap Dimas yang tak melepaskan senyumannya. "Aku hanya kebetulan lewat," jelasnya terbata.
"Aku tahu." Dimas mengangguk, namun senyum yang ia tampilkan mampu membuat wajah Kanya semerah tomat.
"Serius! Aku tidak bohong!"
Tangan kanan Dimas mengacak surai hitam legam Kanya. Rambut gadis itu terasa lembut di tangannya yang membuatnya ingin terus melakukan hal itu. "Aku tahu. Kau tidak perlu panik begitu."
"Aku tidak panik." Kanya menjauhkan kepalanya dari jangkauan dimas. "Aku akan kembali ke kamar saja." Dengan menahan malu Kanya berusaha pergi dari sana, namun genggaman Dimas di tangannya menahan langkahnya.
"Jangan pergi, di sini saja dulu." Tanpa peringatan, Dimas menarik Kanya dalam pelukannya. Menghirup wangi tubuh gadis cantik itu yang seolah menjadi candu baginya. Sejenak ia mengingat kembali panggilan dan pesan aneh yang masuk ke ponsel Kanya, emosinya kembali naik namun dengan adanya Kanya dalam pelukannya membuatnya kembali tenang. Beruntung ia sudah menghapus panggilan masuk dan pesan dari nomor asing itu sebelum kembali ke kamarnya saat menyadari gadis itu akan terbangun dari tidurnya.
"Dimas." Kanya berbisik pelan saat menyadari sentuhan bibir Dimas di lekukan lehernya. Kedua tangannya balas memeluk tubuh besar laki-laki tampan itu yang seolah memenuhi tubuh kecilnya. Apel dalam genggamannya kembali jatuh ke lantai namun kini terabaikan.
"Ah, maaf." Dimas melepaskan pelukannya. Ia mengusap lehernya canggung atas sikap tak sopannya tadi, namun saat melihat sikap malu-malu Kanya di depannya saat ini membuat darahnya berdesir. Seolah ia ingin tetap merengkuh tubuh gadis itu dan tak melepasnya hingga pagi menjelang.
"Tidak apa-apa." Kanya menyelipkan rambutnya ke telinga. Tatapannya beradu dengan milik Dimas. "Mungkin sebaiknya aku kembali ke kamar. Selamat malam."
Dimas mengangguk sambil mengikuti langkah Kanya yang beranjak meninggalkannya melalui tatapannya. "Selamat malam."
Setelah melihat tubuh Kanya menghilang di balik pintu, ia mengusap wajahnya kasar. Entah setan apa yang merasukinya hingga melakukan hal seperti tadi. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan ia mencium leher jenjang gadis itu yang menggoda imannya. Beruntung ia belum melangkah jauh, jika tidak mungkin ia akan menyesalinya sekarang.
Ia baru saja akan menutup pintunya kamarnya saat matanya menangkap apel milik Kanya di depan pintu. Ia mengambilnya, mengamatinya sebentar sebelum memutuskan untuk membawanya masuk ke dalam kamar.
***