Kanya mengalihkan pandangannya dari cermin pada ponselnya yang bergetar di atas meja. Sisir yang tadinya ia pakai untuk merapikan rambutnya ia letakkan di atas meja rias kemudian meraih ponsel pintar tersebut. Keningnya berkerut menatap deretan angka yang tertera di layar sebagai penelepon, nomor asing yang sama sekali tak dikenalinya. Namun, dengan pertimbangan ia menyambutnya, berharap telepon itu benar-benar penting seperti yang ia pikirkan.
"Halo."
Tak ada sahutan, hanya kesunyian yang menjawab sapaannya. Kanya menjauhkan ponselnya hanya untuk melihat apakah sambungan telepon sudah terputus atau belum dan ia kembali mendekatkan ponsel pintarnya itu ke telinga saat ia melihat angka yang menghitung waktu panggilan masih berlanjut.
"Halo. Maaf, ini siapa?"
Masih tidak ada jawaban dan Kanya bahkan mulai kehilangan kesabaran. Ia bukanlah tipe yang mudah marah dan kesal, tapi entah kenapa mendapat panggilan iseng seperti ini benar-benar memancing kekesalannya.
"Maaf, kalau tidak ada hal penting yang ingin dibicarakan lebih baik saya matikan saja."
Tanpa menunggu persetujuan dari sang penelepon asing, Kanya memutuskan sambungan. Sembari memikirkan siapa gerangan yang meneleponnya itu ia memasukkan ponsel dan segala kebutuhannya ke dalam tas yang akan dibawanya nanti.
"Kanya, apa kamu sudah siap?" Bu Amirah berteriak dari luar kamar, tampaknya perempuan paruh baya itu sudah siap untuk keluar.
"Sebentar lagi, Bu!"
Kanya segera menyampirkan tas berwarna cokelat itu ke bahu kanannya sambil memperhatikan penampilannya sekali lagi di cermin. Ia merapihkan rambutnya dengan tangan kosong kemudian tersenyum puas dengan penampilannya sendiri.
"Kakak!"
Pintu kamarnya terbuka menampilkan Rara yang sudah siap dengan jaket merah mudanya, ia tampak menggemaskan dengan rambut kuncir kudanya. Gadis kecil itu hanya berdiri di ambang pintu tanpa melepaskan genggaman tangannya pada gagang pintu. Terlihat begitu tidak sabar ingin segera berangkat, padahal mereka hanya akan ke taman yang biasanya ia datangi sepulang sekolah.
"Kakak sudah siap?"
Kanya tersenyum. Ia berjalan menghampiri Rara dan menuntunnya untuk keluar kamar. "Iya, kakak sudah siap. Ayo kita berangkat."
***
"Jangan lari-lari, Sayang, nanti kamu jatuh!"
Gadis kecil dengan rambut dikuncir kuda itu tak acuh pada peringatan perempuan paruh baya yang sejak tadi tak melepaskan pandangan darinya. Ia asik bermain bersama ketiga temannya, saling mengejar satu sama lain, tawa kekanakannya tak lepas dari bibir. Namun sedetik kemudian ia tersandung dan jatuh ke tanah yang membuat tawanya seketika lenyap digantikan tangisannya yang pecah.
"Tuh 'kan, nenek bilang juga apa."
Bu Amirah menghampiri Rara yang menangis sesenggukan sambil memegangi lututnya, sementara kedua temannya berdiri di depannya dengan panik, bingung untuk melakukan apa agar gadis kecil yang sedang menangis itu kembali ceria.
"Coba sini nenek lihat. Mana yang sakit?"
"Lutut Rara berdarah!" Masih dengan isakannya, Rara memperlihatkan lututnya yang lecet dengan sedikit darah yang keluar. Tangisnya semakin pecah saat Bu Amirah menekan lukanya itu dengan tisu.
"Sudah, Rara jangan nangis lagi. Setelah diobati nanti lukanya pasti sembuh."
"Ada apa, Bu? Kenapa Rara menangis?" Kanya muncul di balik punggung Bu Amirah, wajahnya tampak bingung sementara kedua tangannya memegang dua cone es krim pesanan Rara yang merengek minta dibelikan sebelumnya. Saat melihat luka di lutut Rara, matanya terbelalak. "Lutut Rara kenapa?" tanyanya sambil berjongkok di hadapan Rara yang masih belum berniat untuk menghentikan tangisnya.
"Rara habis jatuh gara-gara kesandung batu saat lari," jelas Bu Amirah, wajahnya menampilkan kekhawatiran yang mendalam.
"Lukanya harus segera diobati agar tidak infeksi. Aku akan beli obatnya lebih dulu." Mata Kanya beralih pada Rara yang mulai berhenti menangis tapi sesekali masih sesenggukan menatapnya dan bu Amirah bergantian. "Kakak beli obat dulu, ya." Setelah mendapat anggukan dari gadis kecil itu, Kanya bersiap untuk menuju apotek yang kebetulan jaraknya berseberangan dengan taman yang mereka tempati saat ini.
Merasa kerepotan dengan es krim di tangannya, Kanya menyerahkan dua cone es krim berbeda rasa itu pada dua anak kecil yang masih setia berdiri di samping Rara.
"Kalian ambil ini dan kembali main bersama yang lain, ya."
"Iya, kak!" Setelah mendapat es krim kedua anak itu mulai bermain kembali seperti sedia kala atas perintah Kanya. Tampak lupa dengan kejadian tadi yang sempat membuat mereka berdua ikutan panik.
Setelah pamit pada Bu Amirah, Kanya berlari menyebrangi jalan melewati zebra cross sambil berlari-lari kecil menuju apotek. Tenaganya sedikit ia keluarkan untuk sekadar mendorong pintu di depannya, di dalam ia langsung disambut oleh pegawai apotek yang ramah.
"Mau beli obat apa, Kak?" Gadis dengan sepasang lesung pipi dan tubuh sedikit pendek dari Kanya bertanya dengan ramah.
Kanya membalas senyumannya, tapi matanya berkeliling mencari sesuatu. "Ada kotak P3K?"
Gadis itu tersenyum lebar. "Ada, Kak." Ia berjalan menuju rak yang memang tersedia kotak P3K dalam ukuran berbeda. "Mau ukuran yang mana, kak?"
"Saya ambil yang kecil saja."
Gadis itu mengambil kotak yang paling kecil dan membungkusnya dengan plastik. "Harganya enam puluh lima ribu, ya."
Kanya menyerahkan uang pecahan seratus ribu, sambil menunggu uang kembaliannya ia berdiri dengan gelisah. Apalagi sejak tadi ia bisa merasakan getaran ponselnya di dalam tas. Entah kenapa perasaanya mengatakan bahwa itu adalah panggilan dari nomor asing tadi pagi.
"Ini kembaliannya, Kak." Tanpa menghilangkan senyum di wajahnya, gadis berlesung pipi itu menyerahkan uang kembalian pada Kanya. Kanya menerimanya sambil mengucapkan terima kasih, setelah memasukkan uangnya ke dalam tas, ia keluar dari apotek dengan langkah tergesa-gesa.
Sesampainya di taman, ia bisa melihat Rara yang sudah duduk tenang di bangku taman bersama Bu Amirah. Kanya semakin mempercepat langkahnya mendekati Rara dan Bu Amirah yang belum menyadari keberadaannya.
"Maaf, membuat kalian menunggu lama. Aku sudah beli obatnya." Kanya duduk di samping Rara yang sudah kembali ceria, rupanya anak itu sudah dibelikan es krim baru oleh Bu Amirah, pengganti es krim yang tidak jadi ia berikan tadi akibat panik dengan keadaan gadis kecil itu. "Kita bersihkan luka Rara dulu, ya," bujuknya pada Rara yang mengangguk patuh.
"Iya, Kak!"
Kanya tersenyum puas dan mulai berjongkok di hadapan Rara yang masih sibuk m******t es krimnya, sementara Bu Amirah sesekali membersihkan wajah cucunya itu yang penuh lelehan es krim dengan tisu basah. Kanya membuka kotak P3K yang baru dibelinya tadi, ia membersihkan kedua tangannya terlebih dahulu dengan alkohol sebelum mulai mengobati luka Rara. Ia menuangkan cairan berwarna kuning pada kain kasa dan mulai menekan-nekannya pada luka lecet di lutut Rara. Spontan saja gadis kecil itu berteriak kesakitan yang membuat Kanya panik sendiri, ia tidak berpikir menekan luka Rara begitu keras.
"Sakit!"
"Maaf, ya, Ra. Tahan sedikit sakitnya. Sebentar lagi selesai."
Kanya kembali menekan luka Rara demi membersihkannya, setelah dirasanya cukup ia memberikan salep yang berfungsi untuk mengeringkan luka dengan cepat pada luka Rara yang kembali membuat gadis kecil itu berteriak kesakitan. Rara mulai kembali menangis, namun tidak sekencang sebelumnya. Sementara es krim di tangannya mulai mencair dan meleleh ke tangannya.
"Tahan, ya, Nak. Cepat makan es krimnya, nanti mencair." Bu Amirah tidak berhenti mengusap kepala Rara dengan lembut, berusaha menenangkan cucu kesayangannya itu.
Melihat Rara kembali menikmati es krimnya, ia kembali mengoleskan salep pada luka Rara, terakhir menutupinya dengan kain kasa yang sudah disterilkan dan merekatkannya dengan plester. "Nah, sudah selesai." Ia tersenyum puas melihat Rara yang tampak kebingungan menatap lututnya yang dibalut kasa. "Rara hebat, ya," pujinya.
Rara tertawa lebar dengan lelehan air mata yang masih belum kering di pipinya. "Rara memang hebat!" serunya kembali menikmati es krimnya yang sudah mulai habis.
Di sampingnya, Bu Amirah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya itu. "Hebat dalam hal menangis, iya."
Tawa Kanya pecah, ia mengacak rambut Rara sebagai pelampiasan. Namun, tawanya tak bertahan lama saat ia kembali merasakan getaran dari dalam tasnya. Ia merogoh tasnya dan menggerutu dalam hati mendapati nomor asing itu kembali menghubunginya. Saat panggilan berakhir ia bisa melihat jumlah panggilan yang mencapai tiga puluh lima total panggilan. Benar-benar orang iseng yang tak punya pekerjaan.
"Ada apa, Kanya?" Rupanya Bu Amirah menyadari perubahan raut wajahnya yang tiba-tiba.
Kanya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah mematikan dayanya, menghindari mendapatkan panggilan dari orang iseng itu kembali. "Tidak apa-apa, Bu." Ia tersenyum berusaha melunturkan wajah khawatir Bu Amirah yang seolah bisa membaca pikirannya. "Benar, Bu, tidak ada apa-apa." Ia kembali meyakinkan dengan senyuman.
Bu Amirah membuang napas menyerah. "Baiklah kalau memang begitu."
Senyum Kanya kian melebar. Ia bukannya ingin menyembunyikan sesuatu pada Bu Amirah, hanya saja ia tak ingin membuat perempuan paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibu itu semakin khawatir padanya yang bisa berimbas pada kesehatannya nanti.
"Ayo, kita pulang sekarang."
***