Pria dengan setelan jas lengkap di tubuhnya itu berdiri, bersamaan dengan kedua lelaki berjas di depannya. Ia menampilkan senyuman, bahkan setelah pertemuan tadi tidak membuahkan hasil seperti yang ia harapkan. Tangannya terulur menjabat tangan pria paruh baya di depannya tanpa mengurangi rasa sopan.
"Terima kasih sudah meluangkan waktunya bersama kami, Pak."
Pria paruh baya dengan dasi bermotif garis-garis di depannya tersenyum simpul. "Sekali lagi maaf tidak bisa melakukan kerjasama ini bersama dengan anda. Saya harap Tuan Evan bisa menemukan mitra yang lebih cocok."
Evan menggumamkan kata terima kasih sekali lagi sebelum akhirnya tamu pentingnya itu menghilang di balik pintu. Ia merebahkan tubuhnya di sofa sambil melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Perhatiannya kemudian teralihkan pada Dimas yang meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja di depannya, menggantikan secangkir kopinya yang memang sudah ludes sejak pertemuan tadi efek tenggorokannya yang kering.
Evan meraih cangkir kopi yang masih mengepulkan asap itu dan mengecap rasanya. Aroma kopi yang menyegarkan dan rasa pahitnya yang pas melalui tenggorokannya sedikit mengurangi sakit kepala yang sempat menderanya.
"Terima kasih, Dimas. Kopi buatanmu memang yang terbaik."
Dimas hanya memutar matanya jengah. Ia sudah bosan mendengar ucapan yang bernada candaan tapi sebenarnya diucapkan dengan sungguh-sungguh oleh sahabatnya itu. "Lagi?" tanyanya tanpa basa-basi.
Evan meletakkan cangkir kopinya yang sudah habis setengahnya itu kembali ke atas meja. Helaan napasnya saja sudah bisa menjawab pertanyaan pria tampan di depannya.
Dimas ikut menghela napasnya. Ia memijit pelipisnya, mendadak pusing memikirkan tentang kegagalan mereka menjalin kerja sama dengan perusahaan ternama itu dan ini adalah kegagalan mereka yang ketiga kalinya.
"Aku juga tidak habis pikir." Evan menyandarkan tubuhnya, manik cokelat gelapnya menatap langit-langit ruangan kantornya tanpa minat. "Padahal awalnya mereka sendiri yang menawarkan diri, tapi entah kenapa tiba-tiba membatalkannya begitu saja."
"Tidakkah menurutmu ini sedikit aneh?" Dimas menatap Evan yang masih setia dengan posisinya. Pria tampan dengan postur tubuh lebih tinggi darinya itu seperti enggan menanggapinya dengan serius.
"Aneh bagaimana?"
Dimas menahan jawabannya saat seseorang mengetuk pintu dari luar, setelah diperintahkan untuk masuk oleh Evan, seorang perempuan muncul dan mulai membersihkan meja mereka yang masih penuh dengan cangkir yang sudah kosong.
Dimas memperhatikan perempuan itu menghilang dari balik pintu sebelum kembali menatap Evan yang seperti sudah tersadar sepenuhnya, menatap dengan tatapan yang seolah ingin menerkamnya. Dimas tahu bahwa Evan mulai menanggapinya serius.
"Ini sudah yang ketiga kalinya perusahaan lain membatalkan kerja sama dengan kita. Apa menurutmu itu tidak aneh? Seolah-olah ada seseorang yang ikut campur dalam urusan ini."
"Kau benar." Evan mengerutkan keningnya berpikir, tangannya yang besar mengelus dagunya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. "Tapi aku tidak bisa menemukan orang yang cocok. Selama ini aku selalu melakukan pekerjaanku dengan baik dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat musuh. Atau mungkin ...." Tatapannya beralih pada Dimas yang juga menatapnya. Pria tampan itu mengangguk tanpa suara, seolah-olah mengetahui apa yang ada di dalam kepalanya.
***
Dimas membuka pintu apartemennya dengan pelan, berusaha tidak menggangu gadis yang sedang terlelap di dalam kamarnya. Tangannya dengan cekatan melepas jasnya dan melemparnya asal ke atas sofa bersama dengan tas kerjanya. Sementara satu tangannya lagi melepas dasinya.
Ia berjalan menuju dapur dan membuka lemari pendingin. Ia lihat ada beberapa makanan yang bisa dipanaskan saat ia merasa lapar sepulang kerja. Namun bukan itu tujuannya, ia hanya ingin mengambil segelas air untuk melegakan tenggorokannya yang kering.
Setelah menuang segelas air, ia kembali melangkahkan kakinya menuju balkon. Sekali lagi ia membuka pintu balkon dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Kemudian meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke atas meja yang tersedia di sana.
Matanya tertarik memandangi bunga-bunga yang tersusun rapi di atas rak putih di sudut balkon, dan tanpa ia sadari ia mulai melangkah mendekati bunga-bunga yang masih mekar bahkan di malam hari. Ia bukanlah pecinta bunga, namun ia tahu cara mengagumi tumbuhan cantik itu.
Sebelumnya ia memang tidak pernah memberi perhatian pada bunga-bunga yang ia beli khusus untuk Kanya itu, tapi saat melihatnya sekarang ia tahu bahwa gadis cantik itu benar-benar menyukai dan merawatnya dengan sepenuh hati. Bahkan Bu Amirah sering bercerita bahwa Kanya merawat bunga-bunga itu sendirian tanpa campur tangan darinya.
Bibirnya melengkung ke atas, sedang tangan kanannya terangkat menyentuh kelopak bunga yang masih segar. "Bunga yang indah seperti pemiliknya," bisiknya pada dirinya sendiri. Sementara senyum masih belum lepas dari wajahnya.
"Dimas?"
Tubuh Dimas tersentak. Ia membalikkan badannya menghadap pintu yang mana di sana Kanya berdiri dengan selimut membalut tubuhnya. Gadis itu pasti terbangun karena suara yang ia timbulkan. "Apa aku mengganggu tidurmu?"
Kanya menggeleng seraya berjalan mendekat, tatapannya lurus melewati tubuh Dimas. Bibirnya tersenyum. "Kamu sedang melihat bunga-bunga?"
Dimas mengusap tengkuknya merasa canggung tertangkap basah mengagumi bunga-bunga, terlebih lagi ia sempat membisikkan sebuah kata-kata yang ia harap gadis di depannya tidak mendengarnya. "Aku hanya tidak sengaja melihatnya saat ingin menghirup udara segar di sini." Tatapannya ia arahkan pada rak bunga di belakangnya kemudian kembali pada wajah cantik Kanya. "Kau merawatnya dengan baik."
"Terima kasih."
Kanya tersipu malu. Ia semakin mengeratkan selimut di tubuhnya dan berjalan mendekati Dimas. Sesekali tangannya bergerak menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, tapi angin nakal terus memainkan rambutnya. Tatapannya beralih pada Dimas yang menatap lurus ke depan. "Ada masalah di kantor?" tebaknya yang membuat pria tampan di sampingnya memusatkan perhatian padanya.
Dimas tersenyum, berusaha menyembunyikan wajah lelahnya. "Bukan masalah besar. Sebentar lagi pasti selesai."
Hanya anggukan tanda mengerti yang diberikan Kanya sebagai tanggapan ucapan Dimas. Ia sebenarnya ingin bertanya lebih dan mendesak pria tampan itu agar menceritakan masalahnya padanya, namun ia sadar ia bukan siapa-siapa untuk melakukan hal itu. Tangannya bergerak menyentuh tangan Dimas yang meremas pagar dengan erat. Pria tampan itu sedikit tersentak dibuatnya, namun akhirnya merasa rileks kembali dan menggenggam balik tangannya.
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk cerita. Meskipun sebenarnya aku tidak yakin bisa memberikan solusi yang baik."
Dimas tersenyum, genggaman tangannya semakin erat menyelimuti tangan mungil Kanya. "Aku pasti akan cerita." Matanya melirik ke dalam rumah sebentar. "Sebaiknya kita tidur. Sudah tengah malam."
"Iya, benar."
Sembari mereka berjalan beriringan, Dimas tak lupa mengunci rapat pintu balkon. Sedangkan Kanya dengan setia menungguinya. Mereka seperti tak bisa berpisah jarak sedikit saja.
"Besok hari Minggu, apa kamu libur?" Kanya bertanya setelah Dimas selesai memeriksa pintu balkon benar-benar terkunci rapat atau tidak. Kemudian mereka kembali berjalan beriringan menuju kamar masing-masing.
"Libur, tapi aku ada urusan sedikit bersama Evan di luar." Dimas bisa menangkap raut kecewa gadis di sampingnya. Senyumnya tak kuasa ia sembunyikan menyaksikan hal itu. "Kenapa?" tanyanya berpura-pura tak tahu.
"Tidak." Kanya memaksakan senyuman. "Rara, cucu Bu Amirah berharap bisa menghabiskan waktu bersamamu di hari Minggu."
Senyum Dimas kian melebar, tersenyum jenaka. "Cucu Bu Amirah atau kamu?"
Kanya mendongak dengan alis bertaut, saat menyadari maksud pertanyaan Dimas, ia memukul pelan lengan pria tampan itu. "Apaan, sih. Bukan aku tapi Rara," kilahnya menyembunyikan rona merah samar di pipinya. Ia berlari kecil menuju kamarnya diselingi tawa renyah Dimas di belakang dan sebelum sempat ia menutup pintu kamarnya, suara Dimas menahannya.
"Selamat malam, Kanya. Semoga mimpi indah." Dimas berbisik dengan suara rendahnya membuat tubuh Kanya mematung sejenak.
Seolah kembali pada kesadarannya, Kanya mengalihkan perhatiannya dari sosok Dimas yang semakin mempesona di matanya. Meskipun gelap, ia bisa melihat senyum menawan pria tampan itu.
Ia tersenyum dan dengan perlahan menutup pintu kamarnya sambil berbisik, "selamat malam dan mimpi indah untukmu juga."
***