Menjemput Rara di Sekolah

1102 Kata
Kanya memainkan game di dalam ponselnya sambil sesekali melirik pintu ruang kelas Rara yang masih tertutup. Dari dalam sana, samar-samar ia bisa mendengar suara wanita muda yang mengarahkan anak muridnya untuk duduk diam dengan tenang agar bisa dipulangkan dengan cepat. Ia hanya menggeleng-geleng kecil mendengar beberapa anak yang masih membuat suara bahkan setelah diperingatkan untuk diam. Sementara ia bisa merasakan tatapan penasaran ibu-ibu yang sedang menunggu seperti dirinya duduk tak jauh dari kursi yang ia duduki. Ia tahu para ibu-ibu pasti penasaran tentang siapa dirinya dan ada hubungan apa ia dengan Rara. Kanya hanya tersenyum saat tatapan mereka bertemu, tak berniat untuk memulai percakapan yang umum hanya sebatas bertegur sapa. Karena memang begitulah dirinya, pemalu dan sulit bergaul dengan orang baru. Ia tipe orang yang harus disapa terlebih dahulu agar bisa membuka diri. Ia buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas saat atensinya menangkap sosok mungil Rara di antara anak-anak yang lainnya. Gadis kecil itu tersenyum sumringah melihat kehadirannya di sana, dan tanpa memakai sepatunya terlebih dahulu, ia berlari mendekati Kanya sambil menenteng kedua sepatunya. "Kakak!" Kanya tertawa. "Sepatunya dipakai dulu, Sayang. Bukan malah ditenteng seperti ini." Tangannya dengan cekatan mengambil alih sepatu Rara dan memasangkannya di kedua kaki kecil gadis itu setelah terlebih dahulu menyuruhnya untuk duduk di kursi yang tadi ia duduki. "Nah, sudah selesai. Ayo kita pulang." "Iya, kak!" Rara memegang tangan Kanya dan bersiap untuk berjalan bersama. Kanya menatap ibu-ibu yang sejak tadi menatapnya penasaran, sepertinya mereka juga sudah bertemu dengan anak mereka masing-masing. Kanya tersenyum sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. "Mari, Bu. Kami pulang duluan." Setelah mendengar jawaban mereka, Kanya segera mengajak Rara untuk berjalan pulang. Sesekali ia tertawa melihat tingkah Rara yang selalu menggemaskan di matanya. *** "Kakak, lihat! Ada es krim!" Kanya hampir saja mengucapkan kata-k********r saat Rara berteriak dengan suara cemprengnya sambil menunjuk gerobak penjual es krim di pinggir jalan. Ia teringat dengan ucapan Bu Amirah yang melarangnya untuk membelikan jajanan dingin dan manis-manis pada Rara. Takut merusak gigi gadis kecil itu yang memang sangat menggemari makanan yang manis-manis. "Rara, kita pulang dulu, ya. Nanti minta izin sama nenek dulu baru beli es krimnya," bujuk Kanya sambil berusaha berjalan agar Rara mengikutinya. Namun kenyataannya gadis kecil itu menolak untuk berjalan dan malah berjongkok di trotoar hingga menjadi tontonan orang-orang yang sedang berlalu lalang di sana. "Tidak mau! Nenek jahat sama Rara! Nenek tidak mau kasih Rara es krim!" Kanya kelabakan, ia tertawa canggung menanggapi tatapan aneh orang-orang di sekitarnya. Ia berjongkok di depan Rara yang mulai menangis keras. "Baiklah, kakak belikan. Tapi janji jangan bilang-bilang sama nenek, ya." Seketika wajah Rara kembali cerah. "Rara janji!" *** Setelah memesan satu cup es krim, Kanya memilih untuk membawa Rara ke taman bermain. Demi menutupi kejahatannya, ia ingin agar Rara mengabiskan es krimnya terlebih dahulu sebelum pulang. Ia menyuapi Rara dengan sabar sambil kadang harus berlari kecil untuk mengikuti langkah gadis kecil itu yang aktif bermain bersama beberapa anak-anak lainnya. Ia mendudukkan tubuhnya di atas kursi sambil menyeka keringat di dahinya. Udara panas terasa menusuk kulit putihnya yang memang jarang terpapar sinar matahari itu. Sedangkan cup es krim di tangannya masih terdapat sisa es krim yang sudah sedikit mencair. Rara setelah bermain menjadi lupa dengan es krimnya yang sangat ia inginkan itu. Saat masih sibuk mengatur napasnya, ia merasakan ponselnya bergetar di dalam tas. Ia meletakkan cup es krim di sampingnya kemudian merogoh tasnya dan mengangkat panggilan dari Bu Amirah. Perempuan paruh baya itu pasti khawatir karena mereka belum sampai juga. "Halo, Bu." "Halo, Kanya. Kamu ada di mana? Rara sudah dijemput 'kan?" Kanya melirik Rara melalui ekor matanya. Gadis kecil itu asyik bermain ayun-ayunan sambil tertawa lepas. "Sudah, Bu. Tapi ternyata Rara belum mau pulang ke rumah, jadi kami mampir dulu ke taman. Maaf, Bu, lagi-lagi aku tidak minta izin lebih dulu." Bu Amirah menghela napas lega, hanya dengan suaranya saja Kanya bisa tahu bahwa perempuan paruh baya itu benar-benar khawatir. "Iya, tidak apa-apa. Ibu hanya khawatir, takut kalau terjadi apa-apa sama kalian." "Kami baik-baik saja, Bu. Sebentar lagi kami pulang." "Baiklah, pulangnya jangan lama-lama, ya." "Iya, Bu." Setelah sambungan telepon terputus, Rara berlari mendekatinya dengan wajah penasaran. Sepasang matanya yang bulat memandangi ponsel Kanya. "Itu telepon dari siapa?" Kanya berjongkok di hadapan Rara, tangannya dengan cekatan mengambil tisu basah di dalam tasnya, dan membersihkan wajah Rara dari sisa es krim yang mulai lengket di wajah gadis kecil itu. "Telepon dari nenek. Nenek khawatir karena Rara belum pulang, jadi kita pulang sekarang, ya. Matahari juga sudah panas sekali, nanti Rara bisa sakit." Tanpa menolak, Rara mengangguk patuh. "Iya, Rara juga sudah lapar." Kanya tersenyum. Diraihnya tangan mungil Rara dan berjalan pulang. "Rara mau makan apa?" "Rara mau makan ayam goreng! Ayam goreng buatan nenek sangat enak!" Kanya hanya menanggapinya dengan tawa. *** "Kami pulang!" seru Kanya dan Rara bersamaan saat membuka pintu. Mereka tertawa bersama sambil berjalan menuju dapur. "Nenek, Lala pulang!" Rara berhambur ke pelukan Bu Amirah yang sedang menyiapkan makanan di atas meja. Bu Amirah mengangkat tubuh kecil Rara dan menggendongnya. "Cucu nenek yang cantik ini sudah pulang?" Rara menanggapi dengan memeluk leher Bu Amirah dengan erat. Sesekali ia menguap tanda kelelahan sehabis bermain. Sementara Bu Amirah hanya mengelus kepalanya dengan lembut. Kanya mendudukkan dirinya di kursi sambil memandangi makanan di atas meja. "Wah, ada ayam goreng." "Mana?" Mata Rara yang sudah setengah tertutup kembali terbuka lebar sambil melihat ke atas meja. "Ayam goreng!" serunya sambil meminta diturunkan oleh Bu Amirah. Kanya tertawa, ia menyuruh Rara untuk duduk di sampingnya dan menyiapkan sebuah piring dengan potongan ayam goreng besar di atasnya. Gadis kecil itu begitu antusias menikmati ayam goreng yang ukurannya lebih besar dari tangannya. "Pelan-pelan makannya." Kanya dengan sabar membersihkan pipi Rara yang mulai kotor terkena remahan ayam goreng. Matanya kemudian menatap Bu Amirah. "Ibu makan bersama kami juga." Sebuah piring disodorkan Kanya di depan Bu Amirah yang masih setia berdiri. Awalnya perempuan paruh baya itu ingin menolak, namun melihat tatapan memohon Kanya membuatnya akhirnya menurut. Ia duduk dan Kanya segera menyendokkan nasi berserta lauk ke dalam piringnya. Rara tidak tinggal diam, ia mengambil dua potong ayam goreng dan meletakkannya di atas piring neneknya. Bu Amirah langsung melotot, padahal di piringnya sudah ada sepotong besar ayam goreng yang untuk dirinya sendiri sulit ia habiskan. "Jangan terlalu banyak, Rara. Nenek tidak bisa menghabiskannya." "Kenapa?" Rara bertanya dengan wajah polosnya. Bibirnya yang tipis sibuk mengunyah dan setelah ia menelan makanannya ia kembali menatap neneknya. "Kata nenek, harus makan banyak supaya cepat besar." Mendengar ucapan polos gadis kecil itu membuat tawa Kanya dan Bu Amirah pecah seketika. Mereka tidak pernah berpikir bahwa ucapan yang sering mereka katakan pada gadis kecil itu akan kembali pada mereka sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN