Seseorang Mengawasi dari Kejauhan

1272 Kata
Siraman terakhir Kanya pada pot bunga di hadapannya selesai. Senyumnya merekah melihat bunga-bunganya yang ia rawat sepenuh hati itu mulai mekar kembali, dan menampilkan warna-warni yang indah diterpa cahaya matahari pagi. Gembor di tangannya yang sudah kosong sepenuhnya itu ia letakkan di atas rak bunga paling atas. "Kakak!" Suara anak kecil berlari mendekatinya dari arah dapur. Kanya berbalik sambil tersenyum menyambut pelukan hangat Rara pada pinggangnya yang ramping. Ia berjongkok, menyamakan tingginya dengan anak perempuan yang masih menampilkan deretan giginya yang putih. "Kakak, kata nenek, Rara boleh main sepuasnya bersama kakak." Kanya tersenyum sembari tangannya mengusap rambut Rara dengan lembut. Sungguh ia sudah merasa bahwa Rara adalah adiknya yang berharga. Sejak pertemuan pertama mereka di sekolah Rara, Kanya memang selalu meminta Bu Amirah agar membawa Rara sesekali sehabis pulang dari sekolah ke apartemen Dimas. Lagipula Dimas juga sudah memberikan izin untuk itu. "Boleh, Rara boleh main sepuasnya sama kakak. Rara mau main apa?" Jemari kecil Rara menunjuk ke atas meja di ruang tamu, di mana di sana terdapat buku gambar dan crayon yang memang selalu anak kecil itu bawa agar bisa menggambar bersama Kanya. "Rara mau menggambar bunga-bunga," serunya dengan suara cadelnya yang khas anak kecil. "Maaf, Kanya, ibu terpaksa menyuruhnya bermain denganmu karena takut dia kenapa-kenapa kalau bermain di dapur yang bahaya." Bu Amirah keluar dari dapur dengan celemek yang masih menempel di tubuhnya. Ia asik mengelap kedua tangannya yang basah pada celemek yang dipakainya. Kanya menggenggam tangan mungil Rara dan menuntunnya untuk berjalan bersama mendekati Bu Amirah. "Tidak apa-apa, Bu. Aku juga senang bisa bermain dengan Rara. Karena Rara adalah anak yang baik." Tangannya mencubit lembut pipi merona Rara yang tersenyum lebar menanggapinya. Gigi kelincinya yang lucu menambah keimutan wajahnya. "Rara anak baik," ujarnya. Bu Amirah dan Kanya tersenyum melihat tingkah gadis kecil itu. Mereka saling berpandangan sejenak sebelum Bu Amirah pamit untuk kembali ke dapur. "Baiklah, kalau begitu ibu mau kembali ke dapur. Masih ada yang perlu dibersihkan." Bu Amirah mengusap rambut Rara sebentar. "Jangan nakal-nakal sama kakak Kanya, ya. Rara harus tetap jadi anak baik." "Iya, Nek!" Setelah sepeninggal Bu Amirah yang kembali ke dapur, Kanya dan Rara berjalan menuju ruang tamu. Mereka memutuskan untuk segera menggambar karena Rara yang begitu antusias ingin melukis bunga-bunga Kanya yang indah di balkon. *** "Iya, Bu. Maaf, ya, aku bawa Rara tanpa izin lebih dulu." Kanya menunjukkan wajah penuh penyesalan, meksipun ia tahu bahwa lawan bicaranya tak akan bisa melihat wajahnya saat ini. Ia mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan Bu Amirah di seberang telepon, sambil matanya awas memandangi Rara yang sedang bermain bersama anak-anak lainnya. "Iya, tidak apa-apa, Kanya. Ibu hanya kaget habis pulang dari belanja tidak ada siapa-siapa di rumah. Syukurlah kalau kalian hanya ke taman." "Aku benar-benar menyesal, Bu. Aku tidak sengaja cerita sama Rara kalau di dekat sini ada taman bermain, jadi setelah mendengar ceritaku Rara langsung merengek ingin main ke sini." Terdengar kekehan pelan Bu Amirah. "Anak itu memang kalau ada maunya, dia tidak akan berhenti merengek sampai diturutin. Ya sudah, kalian hati-hati, ya. Ibu mau mencuci baju dulu." "Iya, Bu." Kanya mengangguk tanpa sadar. "Kami akan pulang sebelum sore." Setelah mendapat sahutan dari Bu Amirah, ia memutuskan panggilan dan memasukkan ponsel pintarnya ke dalam tas kecilnya. Kemudian berjalan mendekati Rara yang saat ini tengah membuat rumah-rumahan dari pasir bersama dua anak perempuan lainnya. Mereka sudah tampak sangat akrab padahal baru bertemu beberapa menit lalu. Kanya tidak heran, dengan karakter Rara yang mudah berteman dan ramah itu ia dengan mudahnya bisa berteman dengan siapa saja. Mata bulat Rara membulat saat menemukannya berjalan mendekat. "Kakak lihat! Rara sedang membuat istana!" "Benarkah?" Kanya berjongkok di luar batas, enggan memasuki area pasir dan takut menghancurkan apapun yang sedang dilakukan oleh anak kecil itu. "Coba kakak lihat. Wah, cantik sekali." Kanya berseru sambil mengangkat kedua jempolnya memuji betapa anak kecil itu sangat pintar membuat istana, padahal yang dibuat Rara hanyalah sebuah gundukan yang tak jelas bentuknya. Tak lupa ia juga memuji istana yang dibuat oleh kedua anak perempuan di depan Rara yang ikut antusias mendengarnya. Rara tertawa renyah, ia kembali melanjutkan menghias istana buatannya dengan dedaunan yang kebetulan jatuh dari pohon yang ada di sana. Ia dan kedua temannya sangat asyik bermain hingga Kanya meninggalkannya untuk duduk di sebuah ayunan yang menganggur tepat di samping tempat Rara bermain. Mata Kanya tak ia lepaskan sedikit pun dari sosok Rara. Ia begitu takut saat melihat ke arah lain sedikit saja dan ia akan kehilangan gadis kecil itu. Ia sadar ia terlalu paranoid, tapi tatapan mata yang sejak tadi ia rasakan mengawasinya dari kejauhan membuatnya tak nyaman. Kanya sudah menyadari tatapan itu sejak pertama kali menginjakkan kaki keluar dari gedung apartemen, namun karena ia tak ingin mengecewakan Rara, maka ia memutuskan untuk mengabaikannya dan berharap siapa pun yang sedang mengawasinya itu untuk menyerah dan akhirnya pergi. Namun Kanya sadar, orang itu sepertinya tidak akan menyerah begitu saja. *** Kanya menggendong Rara di punggungnya. Gadis kecil itu sejak berada dalam gendongannya sudah tertidur dengan pulasnya. Ia terlalu keasyikan bermain dan akhirnya lelah sendiri. Kanya sendiri hanya tersenyum kecil melihat gadis kecil itu yang begitu menggemaskan saat sedang tidur. Ia memasukkan password dan tak lama kemudian pintu terbuka menampilkan Bu Amirah dengan wajah khawatirnya, khas seorang ibu yang khawatir dengan anaknya. "Mari ibu bantu." Bu Amirah menawarkan bantuan untuk menurunkan Rara dari gendongannya ke atas sofa yang empuk. Perempuan paruh baya itu mengusap-usap kepala cucunya dengan penuh kasih sayang. Kanya mendudukkan dirinya di sofa tunggal dan menyandarkan punggungnya yang terasa pegal. Rara dengan tubuh mungilnya itu ternyata lebih berat dari yang ia kira. Saat memejamkan matanya sejenak, ia bisa merasakan sentuhan tangan lembut Bu Amirah yang kini mengelus kepalanya. Matanya terbuka dan tersenyum membalas senyum hangat Bu Amirah yang selalu sukses membuatnya rindu pada orang tuanya. "Kamu pasti capek. Ibu siapkan makanan, ya." "Tidak apa-apa, Bu." Kanya menahan lengan Bu Amirah yang akan beranjak menuju dapur. "Aku sama Rara tadi habis makan di luar. Lagipula ibu juga pasti capek dari tadi pagi masak dan bersih-bersih rumah." Bu Amirah tersenyum. "Ya sudah, kalau begitu kamu istirahatlah di kamar. Pekerjaan ibu juga sudah selesai." Ia memandangi jam dinding yang jarum pendeknya sudah menunjuk angka dua belas. "Ibu akan pulang setelah Rara bangun." Kanya memandangi wajah damai Rara sejenak sebelum mengangguk dan pamit menuju kamarnya. Ia memang tidak melakukan hal berat hari ini, tapi rasanya tubuhnya begitu lelah dan butuh istirahat. Terlebih lagi saat mengingat ada seseorang yang selalu mengawasinya dari kejauhan membuat tubuhnya berkali lipat jadi lebih lelah. Ia ingin memberitahu Bu Amirah tentang ini, tapi ia tidak ingin melibatkan perempuan paruh baya itu dalam bahaya yang kemungkinan terjadi. Sementara ia tidak ingin mengganggu Dimas yang saat ini pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi untuk suatu hal yang belum pasti seperti ini. Ia hanya masih belum yakin apa itu hanya perasaannya saja atau memang seseorang sedang mengawasinya. Ia meletakkan tasnya di atas meja dan berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin mencuci wajahnya sebentar sebelum mengistirahatkan tubuhnya dan berusaha melupakan kejadian tadi siang. Saat sedang bercermin, ia bisa melihat kantung mata di bawah matanya. Efek begadang semalam bersama Dimas. Bibirnya tersenyum mengingat kembali saat ia dan Dimas seolah-olah tak ingin melepaskan pelukan satu sama lain. Namun akhirnya kegiatan mereka terganggu akibat dering ponsel Dimas yang berbunyi nyaring memecahkan kesunyian di antara mereka. Ia tak bisa menahan tawanya mengingat betapa lucunya ekspresi Dimas yang tampak gelagapan menerima telepon dari Evan. Ia mengambil handuk kecil yang tersedia di samping wastafel, mengeringkan wajahnya dengan pelan kemudian menyampirkannya kembali ke tempat semula. Udara dingin dari pendingin ruangan menyambutnya membuat suasana hatinya semakin tenang. Ia berbaring sambil berdoa semoga firasat buruk yang ia rasakan sejak di taman tadi tidak pernah terjadi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN