Kanya tersentak dari tidurnya saat telinganya menangkap suara dari luar kamar. Dengan mata yang masih setengah mengantuk dan memerah karena dipaksa terbuka, ia berjalan gontai menuju pintu. Memutar gagang pintu dan berjalan keluar. Piyama tipis berwarna biru yang ia kenakan tidak bisa menghalau dinginnya angin malam yang masuk melalui balkon. Padahal ia sedang memakai piyama lengan panjangnya malam ini.
Matanya sedikit memicing mengintip di balik kain gorden yang berkibar dimainkan oleh angin. Langkahnya pelan mendekati sosok yang membelakanginya. Sosok tegap dengan tubuh yang lebih tinggi berbalut kemeja hitam yang tampak sangat pas di tubuh atletisnya. Cahaya rembulan di atas sana menerpa sosok itu yang semakin membuatnya tampak sempurna.
Kanya tahu sosok itu bukan Dimas dan rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Ini memang bukan rumahnya, tapi ia tetap berhak mengetahui siapa yang berani masuk ke dalam apartemen Dimas tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Maaf, anda ...."
Sosok itu berbalik. Sepasang mata elang yang memikat memandang lekat pada maniknya. Membuat desiran aneh pada tubuh Kanya. Pria itu sangat tampan, dengan sepasang mata cokelat yang tajam, hidung bangir dan wajahnya yang seperti dipahat sempurna oleh tangan malaikat, sangat indah dan menawan.
Kembali ke realita, Kanya menggeleng kecil. Ia tidak tahu nama pria itu, tapi ia cukup mengenalinya. Ia adalah pria yang dipanggil bos oleh Dimas pada malam di mana ia diselamatkan oleh pria itu. Padahal Dimas sering menyebutkan namanya, namun Kanya masih sering melupakannya. Mungkin karena ia berpikir bahwa sosok itu tak akan pernah ia temui lagi.
"Kamu Kanya, bukan?"
Suara berat itu menyadarkan Kanya dari lamunannya. Ia sedikit mundur saat menyadari sosok pria itu yang sudah berdiri di hadapannya. Ia tidak tahu sejak kapan pria itu berjalan mendekatinya. Lehernya sedikit pegal mendongak untuk sekedar menatap sosok tinggi di hadapannya dan sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara menginterupsi dari belakang.
"Kanya? Kamu belum tidur?"
Dimas muncul dari balik punggungnya. Pria tampan itu menatapnya dan pria di depannya bergantian. Alisnya yang bertaut menandakan kebingungan tapi enggan untuk bertanya. Ia menyerahkan sebuah map kepada pria di depannya.
"Maaf, Van, aku lupa menaruh kunci lacinya di mana jadi harus mencarinya dulu."
"Tidak apa-apa." Pria itu menerima map yang diberikan Dimas. Ia membuka dan membaca isinya sebelum menutupnya kembali. Ia menatap Kanya dan Dimas bergantian sebelum tersenyum. "Terima kasih, Dimas, maaf sudah mengganggu waktu kalian." Ia tersenyum jenaka, menepuk bahu Dimas kemudian berjalan keluar dari apartemen.
"Hati-hati!" teriak Dimas yang hanya dibalas lambaian tangan dari Evan.
Kanya menatap pintu yang sudah tertutup rapat kemudian menatap Dimas yang entah sejak kapan memandanginya dengan senyum di wajahnya. Keningnya berkerut. "Ada apa? Ada sesuatu di wajahku?"
Dimas menggeleng. "Tidak. Maaf aku tidak sempat membalas pesanmu tadi. Aku sibuk, terlalu banyak kerjaan di kantor." Wajah Dimas benar-benar menampilkan penyesalan.
Kanya tersenyum. Tadinya ia memang agak kesal pesannya diabaikan seperti itu, tapi setelah melihat wajah pria itu di depannya saat ini membuat kekesalannya hilang begitu saja. "Tidak apa-apa. Aku tahu kamu sibuk." Kanya meremas tangannya gugup. "Yang tadi itu ...."
"Evan, bos aku. Dia datang ke sini untuk mengambil berkas."
Kanya mengangguk. "Sangat penting, ya, sampai harus datang malam-malam?"
"Benar." Dimas memberikan isyarat agar Kanya mengikutinya. Mereka berdiri bersandar pada pagar balkon tempat Evan berdiri tadinya. "Kalian tadi mengobrol tentang apa?"
Kanya menoleh pada Dimas yang menatap langit gelap yang dipenuhi bintang-bintang. Wajahnya yang diterpa cahaya rembulan benar-benar sangat sulit untuk dilewatkan. Takut Dimas menyadari perbuatannya, ia mengalihkan pandangannya pada langit mengikuti apa yang dilakukan pria tampan itu.
"Tidak ada. Dia hanya bertanya apa aku Kanya, dan sebelum aku sempat menjawabnya kamu sudah datang."
"Apa kamu kecewa?"
Ada nada aneh dalam suara Dimas saat ia menanyakan hal itu. Namun Kanya tak bisa menemukan itu apa bahkan setelah ia menatap wajah Dimas yang memandanginya lekat. Wajah pria itu tampak lelah setelah bekerja seharian, bahkan senyumnya tak bisa menyembunyikan raut lelahnya. Tanpa Kanya sadari, tangannya menyentuh sisi kiri wajah Dimas yang membuat pria tampan itu tersentak atas perlakuannya yang tiba-tiba.
"Ah, maaf."
Kanya yang menyadari kebodohannya ingin menarik tangannya, tapi Dimas menahannya. Pria tampan itu menggenggam jemari kecil Kanya yang terasa dingin akibat angin malam.
"Tanganmu dingin. Apa kau kedinginan?" Mata Dimas menelisik penampilan Kanya yang hanya dibalut piyama tipis.
Kanya menarik tangannya setelah genggaman Dimas melonggar. Ia memeluk tubuhnya sendiri mulai menyadari bahwa sejak tadi ia merasa kedinginan. "Aku tidak apa-apa. Dingin ini masih bisa aku tahan," elaknya. Nyatanya, ia masih ingin menikmati waktu berdua dengan Dimas. Karena ia tidak tahu akan memiliki kesempatan emas seperti ini lagi atau tidak.
"Tunggu di sini sebentar." Tanpa menunggu jawaban Kanya, Dimas berlari kecil ke dalam.
Kanya hanya menatap kepergiannya sebentar sebelum kembali menatap lampu-lampu gedung yang mulai mati satu persatu. Hal yang wajar karena saat ia bangun tadi, ia sempat melirik jam di samping ranjangnya yang menunjuk angka satu. Masih terhanyut dalam pikirannya, ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembut di pundaknya. Ia berbalik menatap Dimas yang memasangkan sebuah selimut pada tubuh kecilnya.
Ia mengeratkan selimut pada tubuhnya dan berbisik, "Terima kasih."
Dimas membalasnya dengan senyuman. Tangan besarnya mengusap pucuk kepala Kanya. "Lain kali jangan berbohong seperti itu." Ia mencubit pipi Kanya yang langsung meringis pelan. "Kau tidak lihat tadi bibirmu sudah pucat seperti orang sakit?"
Kanya mengusap pipinya yang habis mendapat belaian sayang dari Dimas, sementara pria itu tertawa melihatnya. "Maaf. Tapi aku tidak mau melewatkan kesempatan ini."
"Kesempatan apa?"
Kanya kelabakan, entah mau menjawab apa. Bibirnya tanpa diperintah malah membuat pengakuan yang susah-susah ia tutupi. Sementara Dimas sejak tadi sudah tersenyum jenaka yang membuat semburat merah di pipinya semakin tampak. Ia mengalihkan pandangannya ke depan.
"Kesempatan untuk melihat bintang-bintang di langit." Telunjuknya mengarah pada langit gelap dengan gugup.
"Bintang?" Dimas menatap langit seperti mencari-cari. "Di mana? Aku tidak melihat ada bintang."
"Di sana." Kanya memperhatikan langit yang gelap, tidak ada bintang. Entah kemana perginya bintang-bintang yang sejak tadi berhamburan menghiasi hamparan langit malam menemani sang rembulan. Ia tersenyum kikuk, tangannya ia tarik dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Sedangkan Dimas sudah tertawa keras di sampingnya.
"Berhenti tertawa!"
Bukannya berhenti, Dimas semakin mengeraskan tawanya. Ia bahkan memegangi perutnya. Namun tawanya perlahan mereda saat melihat Kanya yang terdiam dengan wajah cemberut. Kedua tangannya dengan tanpa perasaan malah mencubit pipi Kanya yang chubby. Kegiatan yang selalu ingin ia lakukan saat melihat Kanya, apalagi saat gadis itu tersenyum malu-malu dengan pipi merahnya.
"Maaf. Sudah, ya, ngambeknya."
Kanya mendelik kesal. Apalagi melihat Dimas yang menahan tawanya. Wajahnya semakin cemberut, namun tak bertahan lama saat pria itu tiba-tiba menariknya, membawanya pada sebuah pelukan hangat yang entah sejak kapan ia inginkan.
"Maaf." Dimas berbisik sambil mencium pucuk kepala Kanya membuat gadis cantik itu mematung dalam pelukannya. Namun tak lama kemudian Kanya membalas pelukannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lebih memilih untuk menikmati kehangatan yang diberikan oleh pria yang ia cintai.
***